Mengapa Target Ramadhan Tidak Tercapai?


failed target

Alhamdulillah, Ramadhan 1435 H sudah semakin dekat, semoga kita semua masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Amiiin…

Biasanya menjelang Ramadhan kita sering menetapkan target-target ibadah mahdhah, dari mulai target tilawah sekian juz per hari, target shodaqoh dan seterusnya. Dengan semangat menggebu-gebu kita bercita-cita untuk mengoptimalkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sayangnya tidak jarang juga saat kita mengevaluasi diri setelah Ramadhan berlalu, ternyata beberapa target-target tersebut tidak berhasil kita capai.

Menurut saya ada beberapa faktor yang bisa kita perhatikan untuk meminimalisir kegagalan mencapai target ibadah di bulan Ramadhan.

  1. Kurang mengukur diri dalam menetapkan target
    Cobalah untuk secara jujur berdialog dengan hati nurani kita, tawar menawar tentang target yang harus dicapai. Tentukan target secara spesifik, pertimbangkan semua constraint yang ada, termasuk jadwal kegiatan dan padatnya aktivitas kita sehari-hari dan semua tanggung jawab yang kita emban, lalu jawab dengan jujur “sanggup gak memenuhi target itu?”. Setelah sepakat dengan hati nurani bahwa kita “sanggup” maka baca basmalah dan naikkan sedikit target itu karena biasanya kita punya kemampuan lebih daripada yang kita sadari.
    Mengapa kita perlu berdialog secara jujur dengan diri sendiri sebelum menetapkan taget? Supaya kita merasa bahwa target yang ditetapkan itu adalah hasil dari sebuah kesepakatan dan komitmen dengan diri sendiri, sehingga kita lebih bertanggung-jawab dan tidak terbebani dalam meraihnya.
  2. Perencanaan kurang matang
    Kalau target sudah spesifik dan komitmen dengan diri sendiri sudah tercapai maka langkah selanjutnya adalah merencanakan bagaimana caranya agar target tersebut bisa tercapai. Strateginya bisa bermacam-macam misalnya memecah target besar menjadi target-target yang lebih kecil, menyisipkan kegiatan ibadah dalam kegiatan sehari-hari, dan masih banyak lagi. Strategi apapun yang kita gunakan nantinya selalu perhatikan resource yang kita punya yaitu waktu dan tenaga (faktor biaya boleh sedikit diabaikan).
    Intinya perhitungkan timeline dan milestone dari tiap target ibadah tersebut. Bila perlu buat jadwal yang spesifik untuk tiap kegiatan, misalnya setiap setelah sholat fardhu dilanjutkan dengan tilawah 2 halaman. Buat simulasinya, lihat waktunya, jika sulit tercapai, mungkin target kita perlu dievaluasi.
    Perencanaan yang matang akan membantu kita mengidentifikasi target yang tidak realistis dan menyusun jadwal kegiatan agar semua target tersebut bisa tercapai. Satu hal yang penting, jangan lupa sisipkan waktu untuk istirahat secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebihan.
  3. Perubahan yang mendadak
    Bagi sebagian besar orang, hadirnya bulan Ramadhan mengubah ritme kegiatan mereka secara signifikan. Jam bangun dan jam tidur berubah, jam  makan berubah, jam kerja berubah dan jujur saja, intensitas ibadah pun berubah. Perubahan yang terlalu mendadak beresiko membuat energi kita terkuras karena kurang terbiasa. Jika kita pernah merasa sangat bersemangat ibadah di awal Ramadhan kemudian makin lama makin kendor itu adalah salah satu indikator bahwa perubahan intensitas ibadah kita terlalu mendadak dan kita tidak mampu mengimbanginya.
    Kuncinya di sini adalah pembiasaan dengan perubahan yang pelan dan bertahap. Semuanya perlu dibiasakan sedikit demi sedikit mulai dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Misalnya jika kita terbiasa bangun jam 5 pagi dan target kita selama Ramadhan kita ingin bangun jam 2 malam maka cara terbaiknya adalah kita mulai geser sedikit demi sedikit, misalnya bangun jam 4:30, lalu 3 hari kemudian bangun jam 4, lalu 3 hari kemudian bangun jam 3:30 dan seterusnya.
    Demikian pula jika kita punya target Ramadhan membaca 1 juz per hari padahal di hari biasa hanya membaca 2 halaman per hari maka jangan menunggu 1 Ramadhan untuk secara drastis menambah jumlah tilawah 10 kali lipat, dijamin akan kewalahan. Lakukan secara bertahap, dimulai dari jauh-jauh hari sebelumnya.
    Mengapa kita perlu membiasakan ritme hidup dan intensitas ibadah kita secara bertahap jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba? Tujuannya adalah agar saat Ramadhan tiba semua hal itu sudah menjadi biasa bagi kita, semangat kita pun lebih awet, walaupun harus menjalani semua itu dalam keadaan lapar dan haus.
  4. Terlalu sibuk dengan aktivitas lain
    Jika rencana sudah matang dan jadwal kegiatan sudah dibuat maka hal penting yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai ada kegiatan atau aktivitas lain yang berpotensi mengganggu rencana kegiatan yang sudah di buat. Persiapan mudik, renovasi rumah, belanja baju baru dan sebagainya adalah beberapa kebiasaan kaum muslimin di Indonesia menjelang hari raya Idul Fitri. Sah-sah saja memang, tapi alangkah baiknya jika semua itu dilakukan sebelum masuk Ramadhan.
    Demikian pula aktivitas sehari-hari, misalnya belanja bulanan (untuk bahan-bahan yang tidak mudah basi), mengurus surat-surat penting, target pekerjaan di kantor, survey untuk membeli barang/rumah/kendaraan, membayar tagihan atau apapun itu, jika memang bisa dilakukan sebelum masuk bulan Ramadhan maka sebaiknya dilakukan sebelum bulan Ramadhan. Keuntungannya banyak, tapi yang utama adalah saat Ramadhan datang fikiran kita bisa lebih fokus untuk beribadah dan bukan untuk mengurusi hal-hal lain yang sebenarnya bisa dilakukan sebelum masuk bulan Ramadhan.
  5. Kurang ilmu pengetahuan
    Ibadah itu harus disertai dengan ilmu. Jadi ini adalah hal mutlak. Apalagi terkait dengan ibadah mahdhah. Alangkah baiknya kita mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam. Dengan memiliki ilmu pengetahuan, peluang kita untuk mencapai target ibadah di bulan Ramadhan akan semakin besar sebab kita mendapatkan motivasi dari dalil-dalil tentang pahala ibadah tersebut.
    Pengetahuan agama yang mendalam juga memungkinkan kita untuk menentukan prioritas ibadah kita jika kita dihadapkan pada keterbatasan waktu dan tenaga. Ibadah itu berbeda-beda tingkatannya dan mustahil kita bisa mengoptimalkannya tanpa ilmu pengetahuan.
    Satu hal yang perlu diingat dalam menimba ilmu pengetahuan tentang agama adalah selalu memperhatikan sumbernya, pastikan kredibel dan terpercaya. Selalu mengacu pada Al-Quran, jangan sembarangan menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Quran, selalu utamakan mengacu pada hadist-hadist yang shohih (kuat), waspada terhadap hadist-hadist dhaif  (lemah) apalagi yang maudhu (palsu). Jika menemui keraguan jangan segan-segan bertanya kepada para ulama.

Mari kita ukur kemampuan diri kita, kemudian kita rencanakan ibadah-ibadah kita, lalu kita biasakan meningkatkan ibadah kita sedikit demi sedikit jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba, sambil menyelesaikan sebanyak mungkin urusan yang bisa diselesaikan dan memperdalam pengetahuan tentang agama.

Dengan demikian kita berharap Ramadhan yang akan kita jelang menjadi Ramadhan yang jauh lebih optimal daripada Ramadhan-Ramadhan yang pernah kita lewatkan sia.

Dan semoga dengan begitu ridha Allah bisa kita raih. Amiiiin.

Iklan

Sarapan Pagi


Ini dia sarapan saya pagi ini. Cumi ditumis dengan mentega, bawang bombay dan cabe. Bumbunya cukup pake bawang putih, kecap, merica, gula, garam dan perasan jeruk lemon. Sebelum ditumis juga cuminya sudah saya baluri perasan jeruk lemon, garam dan merica (sekedar tips: kalo beli cumi, sebelum disimpan di kulkas cuci bersih dulu lalu beri perasan jeruk lemon supaya tidak amis).

Tumis cumi ini enak dimakan sama nasi. Rasanya pedas, manis dan sedikit asam karena ada perasan jeruk lemonnya. Oiya, klo masak cumi, timingnya mesti pas, kalo terlalu lama nanti cuminya bisa keras kayak sendal jepit, tapi kalo masaknya pas, dagingnya lembut dan gurih, sepeti cumi tumis saya pagi ini, hehehe…

Thx buat mama saya yang udah ngasi tau semua tips ini sehingga anaknya nun jauh di rantau ini bisa survive di dapur 😆 Love you mom…

Habis sarapan, jadi semangat buat nge-babu pagi ini. Nyiram tanaman udah, cuci piring udah, sekarang saatnya nyapu dan ngepel. Yosh! –pake iket kepala putih-

Roti Beku


Roti yang sudah lewat tanggal kadaluwarsanya alias expired biasanya berjamur. Jamurnya bisa berwarna putih, hijau atau biru dan rasanya agak pahit. Setelah berjamur tentu saja roti itu jadi gak layak dikonsumsi lagi dan harus dibuang. Mubazir jadinya.

Untuk mengawetkan roti tawar sebenarnya cukup mudah, tinggal dimasukkan saja ke dalam freezer. Ya, saya juga baru tahu bahwa roti tawar bisa dimasukkan ke dalam freezer. Karena penasaran, akhirnya tips itu saya praktekkan. Ternyata sukses 🙂

Pekan lalu saya membeli roti tawar yang tanggal kadaluwarsanya adalah hari senin tanggal 1 Agustus 2011. Saya masukkan roti tawar itu ke dalam freezer (masih dalam keadaan terbungkus rapi). Pagi ini tanggal 5 Agustus 2011 (4 hari setelah lewat dari expiry date-nya) saya cek lagi dan kondisi roti itu masih bagus seperti waktu baru dibeli. Tidak tampak ada jamur, bau dan rasanya pun masih enak. Dijamin aman dikonsumsi, karena sejak memakannya untuk sahur tadi pagi, sampai saat saya menulis posting ini belum ada tanda-tanda efek sampingnya 😆

Oiya, berbeda dengan perkiraan saya, ternyata roti tawar yang dibekukan di freezer tidak mengeras/membatu seperti daging, bahkan tidak ada bunga es nya sedikitpun. Tekstur, warna dan bentuknya gak berubah, hanya saja memang harus hati-hati agar baunya tidak tercampur dengan bau daging/ikan yang disimpan di freezer. Tidak perlu khawatir, saya sudah membuktikan bahwa selama roti tersebut disimpan dalam plastik, tidak tercium bau amis atau bau-bau yang lain selain bau roti 😀

Selamat mencoba, semoga bermanfaat 🙂

PS. Tips ini sangat berguna buat saya yang sedang mengurangi frekuensi belanja ke supermarket. Maklum, selain ingin berhemat ongkos trasnpor, makin sering belanja makin besar godaannya 😀

sumber gambar http://resep-masakan-sehat.blogspot.com/

Sarapan Pagi


Bubur kacang ijo, bikinan sendiri 🙂 Saya jadi ingat waktu dulu pertama kali mencoba bikin bubur kacang ijo sendiri. Waktu itu masaknya lamaaa sekali dan karena terlalu cepat masukin gula jadi manisnya manis-manis gosong gitu dan warnanya pun agak gelap 😆

Setelah tanya ke Mama saya dapat tipsnya. Ternyata supaya bubur kacang ijo cepat matang (sekaligus hemat gas), yang perlu dilakukan adalah merendam kacang ijo beberapa jam sebelum direbus. Saat direbus airnya juga jangan banyak-banyak, secukupnya saja dan terus ditambahkan sedikit demi sedikit jika terlihat mulai surut. Selain itu gula merah dimasukkan setelah kacang ijo pecah, jangan dari awal supaya tidak gosong. Plus tambahkan sedikiiit saja garam (setelah gula meleleh dan santan mendidih) supaya rasanya lebih enak.

Setelah dapat tips dari Mama, bubur kacang ijo saya matang jauh lebih cepat dan gak pake rasa gosong ato warna gelap. Selamat sarapan, nambah semangkok lagi ah 🙂

Tips Menghemat Sabun Cair


Yups, isi gelas dalam foto di atas memang sabun 🙂

“Encerkan sabun dengan air, begitulah cara menghemat sabun cair.” Mungkin semua orang tahu itu, tapi belajar dari pengalaman, ada 2 kesalahan umum yang dilakukan saat mengencerkan sabun:

  1. sabun cair dicampur dengan air dingin,
  2. sabun dan air dicampur di dalam botol dengan cara dikocok-kocok.

Dua kesalahan di atas menyebabkan sabun dan air tidak bercampur dengan sempurna, sehingga bukannya menghemat, kita malah cenderung menggunakan lebih banyak sabun untuk mendapatkan busa yang lebih banyak.

Agar sabun dan air benar-benar tercampur dengan baik, campur sabun cair dengan air panas di wadah lain sebelum dimasukkan ke dalam botol. Aduk campuran sampai benar-benar tercampur dengan baik (saya merekomendasikan garpu sebagai alat pengaduk). Perbandingan air dan sabun tergantung merk sabun yang digunakan, sabun cair berkualitas bagus dengan harga yang sedikit lebih mahal biasanya bisa dicampur dengan lebih banyak air. Saya sendiri biasanya mencampur air panas dan sabun dengan perbandingan 1:1

Jika ingin lebih hemat lagi, saat mandi gunakan shower puff atau spons. Dulu, biasanya saya menuangkan sabun cair (yang sudah diencerkan) ke shower puff basah. Belakangan saya menemukan trik lain yang menurut saya lebih hemat. Saya menyiapkan wadah plastik dan shower puff atau spons, lalu menuangkan sabun cair (yang sudah diencerkan) dan menambahkan lagi sedikit air (mirip dengan yang kita lakukan saat mencampur sabun cuci piring dengan air di wadah plastik, lalu meremas-remas spons di dalam wadah tersebut untuk mendapatkan busa yang banyak). Dengan cara ini pengggunaan sabun bisa dihemat tapi busanya tetap melimpah.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat 🙂

PS. Sebenarnya ada cara lain untuk menghemat sabun cair yang lebih mudah, yaitu dengan cara jangan terlalu sering mandi, hahaha… Not recommended 😆

Berburu Dosen Pembimbing


Percakapan saya dengan seorang mahasiswa via telepon tadi sore (dengan perubahan seperlunya tanpa mengurangi makna):

WHY: “Halo, assalamu ‘alaikum…”

Mahasiswa: “Maaf, pak, saya mau mengerjakan Proyek Akhir, tapi belum punya pembimbing 2, bapak bersedia gak jadi pembimbing 2 saya Pak?”

WHY: (Dalam hati: ya ampun, to the point banget nih mahasiswa, salam saya aja gak dijawab…) “Sebentar, ini dengan siapa ya?”

Mahasiswa: “Saya <nama_disensor> Pak…”

WHY: (Dalam hati: kayaknya gak ada deh mahasiswa saya yang namanya kayak gitu) “Oke, <nama_disensor> dari kelas mana?”

Mahasiswa: “Saya angkatan 2007, Pak”

WHY: “Hmmm berarti saya belum pernah mengajar di kelas kamu ya? Oke, jadi gimana tadi tentang proyek akhir kamu?”

Mahasiswa: “Iya Pak, jadi saya ini belum punya pembimbing 2, Bapak bersedia gak Pak?”

WHY: “Bentar… kamu ini topik proyek akhirnya tentang apa? Pembimbing 1 nya siapa?”

Mahasiswa: “Tentang sistem informasi pak, pembimbing 1 nya Pak <sensor_juga>”

WHY: “Oooo.. begitu, maaf ya, sementara ini saya sedang sibuk, kamu cari pembimbing yang lain saja ya…”

Mahasiswa: “Oh, kalo begitu terima kasih Pak, maaf mengganggu…”

Saya sangat-sangat heran mengapa kemampuan berkomunikasi sebagian mahasiswa melalui telepon sangat buruk. Bahkan sekedar untuk menyebutkan identitas saja sampai lupa, padahal sebelumnya belum pernah bertemu langsung.

Sebetulnya intonasi mahasiswa di telepon tadi cukup ramah dan sopan, tapi menurut saya caranya menghubungi saya masih perlu diperbaiki. Memang tidak perlu terlalu panjang berbasa-basi, tapi (tanpa bermaksud sok penting atau jual mahal) sebagai dosen yang diminta menjadi pembimbing paling tidak saya berhak dan perlu tau identitas mahasiswa yang akan menjadi calon bimbingan saya. Akan lebih baik lagi jika saya juga mengetahui sejauh mana kesiapan mahasiswa tersebut tentang topik yang diajukannya. Berhubung mahasiswa tersebut menghubungi saya lewat telepon tentu saja hal ini akan menjadi agak sulit.

Sekedar tips bagi teman-teman mahasiswa yang ingin menghubungi dosen untuk meminta menjadi pembimbing skripsi, proyek akhir, tugas akhir atau thesis: Baca lebih lanjut

Memilih Topik PA, TA dan Tesis


Memilih topik untuk skripsi, Proyek Akhir (PA), Tugas Akhir (TA) dan atau Tesis emang gak bisa dibilang mudah. Kalo salah pilih topik bisa berat konsekuensinya, mulai dari sutresno (baca:stres) stadium lanjut, sutresno akut, sutresno kronis, gak mood ngerjain, sampe telat lulus ato yang paling parah ganti topik di tengah jalan n mesti ngulang dari awal, hehehe…

Berdasarkan pengalamanku nulis Proyek Akhir, Tugas Akhir n sekarang lagi ngegarap Tesis juga, menurutku ada beberapa hal yang bisa jadi bahan pertimbangan untuk memilih topik, diantaranya:

Baca lebih lanjut