Sebelum Ramadhan Datang


9k=

sumber gambar: https://www.diehardsurvivor.com

Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi di depan mata. Perlukah kita bersiap-siap? Pastinya! Sudah persiapkan apa saja untuk menyambutnya? Belum ada ide? Well, there’s nothing new about it tapi ini ada beberapa ide dari saya:

  1. Kerjakan sekarang juga urusan-urusan terkait persiapan lebaran yang bisa dikerjakan sekarang. Belanja baju lebaran dari sekarang. Beli tiket mudik dari sekarang. Kalau mau renovasi/ngecat rumah, lakukan sekarang. Cari oleh-oleh mudik (klo bukan makanan atau emang gak bakalan basi) juga sekarang. Ya, dari sekarang. Kenapa? Banyak manfaatnya, tapi manfaat utamanya adalah biar pas bulan Ramadhan, bisa fokus dengan ibadah. Ga ada cerita tarawih atau tilawah kelewat, cuma gara-gara sibuk tawaf keliling mall nyari baju lebaran. Miris.
  2. Latihan puasa dari sekarang. Misalnya aja puasa sunnah senin kamis. Selain biar badan gak kaget dan jadi serba loyo pas ramadhan datang, emosi juga bisa lebih keasaah, “feel lagi puasa” nya bisa dapet lebih awal. Pas pagi hari pertama bulan puasa, kita udah gak lemes, loyo dan “colek bacok” lagi, kalo ada yang tetiba ngajak nge-gosip pun sudah lebih aware. Kalau yang udah biasa puasa senin kamis, two thumbs up, keep the good work.
  3. Latihan tilawah dari sekarang. Buat beberapa orang yang tilawahnya baru sampai tahap “once in a while” bisa latihan supaya naik ke level “everyday“. Bagi yang sudah berada di level everyday mungkin bisa latihan supaya naik ke level “one juz one day“. Kalau yang sudah “one juz one day” mungkin bisa latihan untuk baca juga terjemahannya, tafsirnya, asbabun nuzulnya dan seterusnya. Sebetulnya tanpa latihan pun, orang-orang yang biasanya jarang tilawah [dengan semangat tinggi] bisa juga kok selama Ramadhan jadi baca 1 juz per hari, tapi kira-kira bertahan berapa hari? lalu setelah syawal kira-kira tetep bisa 1 juz per hari gak?
  4. Coba lirik-lirik peluang beramal yang lebih optimal. Biasanya saat ramadhan orang lebih gemar bersedekah. Supaya hasilnya optimal, coba kita rencanakan sedekah dengan lebih smart. Cari tau ada peluang wakaf di mana, ada peluang amal jariyah di mana. Coba lihat lemari baju kita, baju yang masih bagus mana yang sudah gak muat tapi bisa dimanfaatkan orang lain? Kita rencanakan apa saja yang mau disedekahkan dan ke mana saja kita akan bersedekah. Begitu ramadhan tiba, kita eksekusi semua planning tersebut. Menurut saya beramal itu seperti investasi yang pasti untung, tapi kalau kita lebih smart dalam memilih tempat investasi, lebih jeli meihat peluang investasi maka kita akan lebih banyak meraup keuntungan. Walaupun pahala dan dosa itu hak Allah yang menentukan tapi kita juga wajib ikhtiar kan? Oiya, jangan lupa bahwa yang bisa disedekahkan bukan cuma materi, tapi tenaga, pikiran dan waktu juga bisa, rencanakan juga untuk hal-hal ini. Jangan sampai di akhir ramadhan baru kita ngeh ada peluang beramal yang kita lewatkan.
  5. Coba lirik-lirik kerjaan kantor, ada gak yang bisa disiasati supaya bebannya terasa lebih ringan saat puasa nanti datang. Saya biasanya membuat penyesuaian jadwal pertemuan dengan mahasiswa di bulan Ramadhan, saya usahakan ketemu mereka lebih pagi karena bisa lebih sabar menghadapi mereka dan otak juga masih fresh. Maklum ada beberapa jenis mahasiswa yang biasanya jadi cobaan berat ladang amal melatih kesabaran kita di bulan Ramadhan.
  6. Luruskan niat. Ini paling penting dan paling susah. Saking abstraknya, saya gak punya penjelasan atau contoh tentang ini, tapi ini jelas persiapan yang paling utama.

Itu dia beberapa ide persiapan Ramadhan dari saya. Semoga bermanfaat. Semoga kita semua dipertemukan dengan ramadhan tahun ini dalam kondisi siap berbuat yang terbaik. Aamiiin.

Gangguan di Tengah Pertapaan


Andai bumi terbelah dua
Biar kita tetap saling berpeluk
Ada apa dengan cinta
Perbedaan aku dan engkau
Biar menjadi bait
Dalam puisi cinta terindah

Mahasiswi itu terus bernyanyi lirih sambil duduk menyandarkan kepalanya ke bahu si mahasiswa yang duduk di sebelahnya. Sesekali wajahnya diangkat menatap si mahasiswa tetapi mahasiswa itu tampak cuek saja, tidak banyak bereaksi tetapi tampak tidak keberatan juga dengan sikap si mahasiswi. Dia hanya terdiam, seolah memberi izin kepada si mahasiswi tetapi terlalu malu untuk membalas bersikap mesra.

Oh well, ini dia gangguan kecil di tengah ketenangan “pertapaan” saya. Hari ini saya sengaja meninggalkan ruang kerja saya di fakultas, membawa setumpuk berkas ujian yang belum saya periksa lalu mengungsi ke perpustakaan kampus. Saya duduk di lantai 3, dekat dengan jendela, mengoreksi 3 amplop besar berisi berkas-berkas ujian sambil sesekali menikmati pemandangan hijau di luar dan menghirup udara segar dari jendela yang setengah terbuka. Hening, sejuk, damai. Sampai akhirnya nyanyian si mahasiswi itu membuyarkan suasana damai di pertapaan saya.

Untung 3 amplop berkas yang saya bawa semuanya sudah selesai saya koreksi, tinggal saya input nilainya. Untung juga si mahasiswi cukup tahu diri, jadi dengan sedikit tatapan dari saya, dia berhenti “konser solo” di perpustakaan yang siang ini sedang saya gunakan sebagai tempat bertapa. Karena konsernya sudah berhenti dan saya malas memperpanjang masalah, saya acuhkan saja mereka berdua. Mahasiswi itu tampaknya sedang benar-benar jatuh cinta sama si mahasiswa, walaupun dalam pengamatan sekilas saya sepertinya si mahasiswa membalas perasaannya dengan kadar yang lebih rendah, hehehe…

Ah, mereka masih muda, baru pacaran, belum ada ikatan sah apapun tapi sudah berani mengumbar sikap mesra. Saya hanya berdoa semoga putri saya setelah beranjak dewasa dan mulai tertarik kepada lawan jenisnya nanti akan bersikap lebih terhormat daripada mahasiswi tadi. Saya berdoa agar dia tetap menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, menjaga sikapnya dan tidak mengumbar atau menumpahkan perasaannya, sebesar apapun rasa cinta itu kecuali kepada suaminya nanti.

Saya berharap dia akan meniru ibunya. Ya ibunya, wanita yang sekarang menjadi istri saya. Kejadian siang ini hanya kembali mengingatkan kepada saya betapa beruntungnya diri saya ini. Sebelum menikah dengan saya, istri saya tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap mesra kepada saya. Jangankan sikap mesra, nada bicaranya pun sama saja dengan nada bicaranya kepada lelaki lain, sama sekali tidak berbeda, tidak dilembutkan apalagi sampai bernada manja. Bahkan sampai saat ajakan menikah saya disambut, sampai orangtuanya menerima lamaran dari orangtua saya, sampai saat tanggal pernikahan ditetapkan, sampai undangan disebarkan sekalipun, sikapnya benar-benar lempeng, datar, seolah dia sama sekali tidak tertarik dan tidak punya perasaan apapun terhadap saya 😆 Setelah akad nikah diucapkan barulah sikapnya berubah, barulah saya merasakan dan mengetahui perasaannya yang sesungguhnya terhadap saya. Itulah yang membuat dia berbeda, sangat berbeda dari kebanyakan wanita sekarang. Dia menjadi jauh lebih bernilai, jauh lebih berharga, jauh lebih terhormat, dan saya bangga menjadi suaminya. I love you Bunda, I am so lucky to be your husband, and our daughter is so lucky to have you as a good example nearby.

Sukses Memimpin


boss-vs-leader-800x800

Apa tolak ukur kesuksesan bagi pemimpin sebuah organisasi? Well, berdasarkan pengalaman saya, jika dalam sebuah organisasi kita ditunjuk menjadi seorang pemimpin maka kita akan ditugaskan untuk memimpin organisasi tersebut untuk mencapai sebuah target. Jadi segala aktivitas kita dalam memimpin, baik itu memikirkan strategi, mengarahkan anggota, mendelegasikan tugas, mendistribusikan tugas dan lain-lain semuanya diarahkan agar tujuan atau target yang inginkan bisa tercapai.

Bahkan definisi tentang organisasi pun menguatkan hal ini:

or·ga·ni·sa·si 1 kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dlm perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; 2 kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama;

(Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Lihat penekanan pada “tujuan“, “target”. Bagaimana menurut para ahli? Ternyata gak jauh beda.

Organisasi juga bisa di artikan sebagai  wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri.

(James L. Gibson)

Lihat, “meraih hasil”. Sama saja kan ujungnya? “tujuan”, “target”. Jadi, kalau dilihat dari definisi organisasi, maka pemimpin organisasi yang sukses adalah pemimpin yang mampu membawa organisasinya mencapai target yang diharapkan. Adalah kasus yang umum pula, bahwa dalam sebuah organisasi sistem reward and punishment diterapkan berdasarkan tercapai atau tidak tercapainya target/tujuan. Dapat bonus jika melebihi target, kena denda/penalti jika tidak mencapai target. Naik pangkat karena sukses mencapai target dan turun jabatan karena tidak mampu meraih target.

Sounds familiar, right?

Tapi saya lalu membaca hadist shohih berikut ini

Sabda Rasulullah saw : “Tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat yang tiada tempat berteduh selain yang diizinkan Nya; pemimpin yg adil, dan pemuda yang tumbuh dengan beribadah pada Tuhannya, dan orang yang mencintai masjid masjid, dan dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yang diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata: Aku takut pada Allah, dan pria yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan orang yang ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya”

(Shahih Bukhari)

Di sana disebutkan “pemimpin yang adil” lah yang berhak mendapat naungan dari Allah, bukan pemimpin yang “berhasil mencapai target”. Mengapa? apa karena mencapai target tidak penting? mungkin karena menjadi pemimpin yang adil adalah jauh lebih susah daripada menjadi pemimpin yang berhasil mencapai target. Berapa banyak kita lihat pemimpin yang berhasil mencapai target-target mereka. Apakah mereka berlaku adil dalam upaya mereka mencapai target-target tersebut? Wallahu ‘alam.

Saya jadi ingat komentar teman saya yang berkata “Ya iyalah hadiahnya surga, soalnya susah. Coba kalo gampang, mungkin hadiahnya kipas angin…” 😀 tapi kalau buat saya sih pesan moralnya adalah

Pemimpin dalam tingkatan manapun, entah pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin bagi keluarga, pemimpin unit kerja di kantor, pemimpin di masyarakat atau pemimpin di manapun, maka berlaku adil harusnya lebih diutamakan daripada mencapai target. Mencapai target itu perlu, tapi dalam upaya mencapai target hendaknya kita berlaku adil. Percuma target tercapai kalau ada yang merasa terzolimi akibat kepemimpinan kita yang kurang adil.

Saya tidak ingin menjadi pemimpin yang terlena dengan iming-iming reward yang akan saya dapat jika mencapai target atau jadi pemimpin yang takut mendapatkan punishment jika tidak berhasil mencapai target. Saya ingin jadi pemimpin yang mendapat naungan Allah karena berlaku adil, sebab bagi saya itulah kriteria sukses sebagai pemimpin.

Amiiin ya robbal alamiiin…

Mengapa Target Ramadhan Tidak Tercapai?


failed target

Alhamdulillah, Ramadhan 1435 H sudah semakin dekat, semoga kita semua masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Amiiin…

Biasanya menjelang Ramadhan kita sering menetapkan target-target ibadah mahdhah, dari mulai target tilawah sekian juz per hari, target shodaqoh dan seterusnya. Dengan semangat menggebu-gebu kita bercita-cita untuk mengoptimalkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sayangnya tidak jarang juga saat kita mengevaluasi diri setelah Ramadhan berlalu, ternyata beberapa target-target tersebut tidak berhasil kita capai.

Menurut saya ada beberapa faktor yang bisa kita perhatikan untuk meminimalisir kegagalan mencapai target ibadah di bulan Ramadhan.

  1. Kurang mengukur diri dalam menetapkan target
    Cobalah untuk secara jujur berdialog dengan hati nurani kita, tawar menawar tentang target yang harus dicapai. Tentukan target secara spesifik, pertimbangkan semua constraint yang ada, termasuk jadwal kegiatan dan padatnya aktivitas kita sehari-hari dan semua tanggung jawab yang kita emban, lalu jawab dengan jujur “sanggup gak memenuhi target itu?”. Setelah sepakat dengan hati nurani bahwa kita “sanggup” maka baca basmalah dan naikkan sedikit target itu karena biasanya kita punya kemampuan lebih daripada yang kita sadari.
    Mengapa kita perlu berdialog secara jujur dengan diri sendiri sebelum menetapkan taget? Supaya kita merasa bahwa target yang ditetapkan itu adalah hasil dari sebuah kesepakatan dan komitmen dengan diri sendiri, sehingga kita lebih bertanggung-jawab dan tidak terbebani dalam meraihnya.
  2. Perencanaan kurang matang
    Kalau target sudah spesifik dan komitmen dengan diri sendiri sudah tercapai maka langkah selanjutnya adalah merencanakan bagaimana caranya agar target tersebut bisa tercapai. Strateginya bisa bermacam-macam misalnya memecah target besar menjadi target-target yang lebih kecil, menyisipkan kegiatan ibadah dalam kegiatan sehari-hari, dan masih banyak lagi. Strategi apapun yang kita gunakan nantinya selalu perhatikan resource yang kita punya yaitu waktu dan tenaga (faktor biaya boleh sedikit diabaikan).
    Intinya perhitungkan timeline dan milestone dari tiap target ibadah tersebut. Bila perlu buat jadwal yang spesifik untuk tiap kegiatan, misalnya setiap setelah sholat fardhu dilanjutkan dengan tilawah 2 halaman. Buat simulasinya, lihat waktunya, jika sulit tercapai, mungkin target kita perlu dievaluasi.
    Perencanaan yang matang akan membantu kita mengidentifikasi target yang tidak realistis dan menyusun jadwal kegiatan agar semua target tersebut bisa tercapai. Satu hal yang penting, jangan lupa sisipkan waktu untuk istirahat secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebihan.
  3. Perubahan yang mendadak
    Bagi sebagian besar orang, hadirnya bulan Ramadhan mengubah ritme kegiatan mereka secara signifikan. Jam bangun dan jam tidur berubah, jam  makan berubah, jam kerja berubah dan jujur saja, intensitas ibadah pun berubah. Perubahan yang terlalu mendadak beresiko membuat energi kita terkuras karena kurang terbiasa. Jika kita pernah merasa sangat bersemangat ibadah di awal Ramadhan kemudian makin lama makin kendor itu adalah salah satu indikator bahwa perubahan intensitas ibadah kita terlalu mendadak dan kita tidak mampu mengimbanginya.
    Kuncinya di sini adalah pembiasaan dengan perubahan yang pelan dan bertahap. Semuanya perlu dibiasakan sedikit demi sedikit mulai dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Misalnya jika kita terbiasa bangun jam 5 pagi dan target kita selama Ramadhan kita ingin bangun jam 2 malam maka cara terbaiknya adalah kita mulai geser sedikit demi sedikit, misalnya bangun jam 4:30, lalu 3 hari kemudian bangun jam 4, lalu 3 hari kemudian bangun jam 3:30 dan seterusnya.
    Demikian pula jika kita punya target Ramadhan membaca 1 juz per hari padahal di hari biasa hanya membaca 2 halaman per hari maka jangan menunggu 1 Ramadhan untuk secara drastis menambah jumlah tilawah 10 kali lipat, dijamin akan kewalahan. Lakukan secara bertahap, dimulai dari jauh-jauh hari sebelumnya.
    Mengapa kita perlu membiasakan ritme hidup dan intensitas ibadah kita secara bertahap jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba? Tujuannya adalah agar saat Ramadhan tiba semua hal itu sudah menjadi biasa bagi kita, semangat kita pun lebih awet, walaupun harus menjalani semua itu dalam keadaan lapar dan haus.
  4. Terlalu sibuk dengan aktivitas lain
    Jika rencana sudah matang dan jadwal kegiatan sudah dibuat maka hal penting yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai ada kegiatan atau aktivitas lain yang berpotensi mengganggu rencana kegiatan yang sudah di buat. Persiapan mudik, renovasi rumah, belanja baju baru dan sebagainya adalah beberapa kebiasaan kaum muslimin di Indonesia menjelang hari raya Idul Fitri. Sah-sah saja memang, tapi alangkah baiknya jika semua itu dilakukan sebelum masuk Ramadhan.
    Demikian pula aktivitas sehari-hari, misalnya belanja bulanan (untuk bahan-bahan yang tidak mudah basi), mengurus surat-surat penting, target pekerjaan di kantor, survey untuk membeli barang/rumah/kendaraan, membayar tagihan atau apapun itu, jika memang bisa dilakukan sebelum masuk bulan Ramadhan maka sebaiknya dilakukan sebelum bulan Ramadhan. Keuntungannya banyak, tapi yang utama adalah saat Ramadhan datang fikiran kita bisa lebih fokus untuk beribadah dan bukan untuk mengurusi hal-hal lain yang sebenarnya bisa dilakukan sebelum masuk bulan Ramadhan.
  5. Kurang ilmu pengetahuan
    Ibadah itu harus disertai dengan ilmu. Jadi ini adalah hal mutlak. Apalagi terkait dengan ibadah mahdhah. Alangkah baiknya kita mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam. Dengan memiliki ilmu pengetahuan, peluang kita untuk mencapai target ibadah di bulan Ramadhan akan semakin besar sebab kita mendapatkan motivasi dari dalil-dalil tentang pahala ibadah tersebut.
    Pengetahuan agama yang mendalam juga memungkinkan kita untuk menentukan prioritas ibadah kita jika kita dihadapkan pada keterbatasan waktu dan tenaga. Ibadah itu berbeda-beda tingkatannya dan mustahil kita bisa mengoptimalkannya tanpa ilmu pengetahuan.
    Satu hal yang perlu diingat dalam menimba ilmu pengetahuan tentang agama adalah selalu memperhatikan sumbernya, pastikan kredibel dan terpercaya. Selalu mengacu pada Al-Quran, jangan sembarangan menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Quran, selalu utamakan mengacu pada hadist-hadist yang shohih (kuat), waspada terhadap hadist-hadist dhaif  (lemah) apalagi yang maudhu (palsu). Jika menemui keraguan jangan segan-segan bertanya kepada para ulama.

Mari kita ukur kemampuan diri kita, kemudian kita rencanakan ibadah-ibadah kita, lalu kita biasakan meningkatkan ibadah kita sedikit demi sedikit jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba, sambil menyelesaikan sebanyak mungkin urusan yang bisa diselesaikan dan memperdalam pengetahuan tentang agama.

Dengan demikian kita berharap Ramadhan yang akan kita jelang menjadi Ramadhan yang jauh lebih optimal daripada Ramadhan-Ramadhan yang pernah kita lewatkan sia.

Dan semoga dengan begitu ridha Allah bisa kita raih. Amiiiin.

Menikmati Pekerjaan


Dream-job

Entah kenapa hari ini saya sedang ingin menulis tentang “dream job” atau mungkin kalau diterjemahkan menjadi “pekerjaan idaman”. Lalu terlintas beberapa pertanyaan di pikiran saya:

Apakah dream job itu ada?
Kalau memang ada apa kriterianya?
Apa mungkin semua orang berjodoh dengan dream job nya masing-masing?

Saya percaya dream job itu ada untuk setiap orang, tapi mungkin tidak semua orang berjodoh dengannya. Inilah tujuh kriteria dream job menurut versi saya:

  1. Kita senang mengerjakannya, tidak terpaksa
  2. Kita punya potensi dan keahlian di bidang itu
  3. Kita memegang kendali atas pekerjaan, bukan pekerjaan yang mengendalikan kita
  4. Kita punya kontribusi yang membuat perbedaan
  5. Kita aman secara finansial
  6. Kita mampu mengaktualisasikan diri melalui pekerjaan
  7. Kita mengerjakannya tanpa bertentangan dengan hati nurani, mendapatkan pahala saat mengerjakannya dan bukan malah berdosa

Ternyata lumayan banyak juga juga ya kriterianya. Menurut saya tidak perlu bersedih jika ada salah satu dari kriteria di atas yang belum terpenuhi, namanya juga hidup di dunia, gak ada yang sempurna, semua orang punya masalah dan ujian hidupnya masing-masing. Bukan mustahil salah satu ujian hidup itu hadir dalam bentuk pekerjaan. Kalau kita mau sedikit tengok kanan kiri kita sepertinya masih sangat sedikit orang yang telah bertemu dengan dream job nya. Kalau kita termasuk dalam golongan orang-orang yang belum bertemu dengan dream job nya, kita gak perlu menunggu si dream job itu hadir untuk bisa menikmati hidup dan mensyukuri pekerjaan yang kita punya. Masih banyak orang lain di luar sana yang belum mendapatkan pekerjaan dan rela (atau bahkan dengan senang hati?) menggantikan posisi kita sekarang.

Mungkin yang lebih penting adalah tetap berusaha mencari dan mencapai kriteria idaman, sambil terus bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Jangan sampai karena lupa bersyukur, bukannya pekerjaan idaman yang didapat, malah kualat. Lagipula dengan bersyukur kita akan bisa lebih menikmati apa yang ada dan memaklumi apa yang belum ada.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

(QS Ibrahim 14 :7)

Lagipula bekerja itu kan seharusnya diniatkan sebagai ibadah. Namanya ibadah ya akan banyak tantangan dan godaannya 😎

Note: posting ini sebagai nasihat untuk diri saya sendiri 😀

gambar diambil dari http://www.olivergarcia.eu/

What Did I Do?


“What did I do to deserve this?”

Defaultnya, pertanyaan itu yang terlintas tiap menemui kejadian atau menerima sesuatu yang tidak diduga2, baik itu kejadian/sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. “Emang salah gue apa?” atau “Ini hukuman buat dosa saya yang mana ya?” begitu versi nya kalo yang diterima adalah kejadian/sesuatu yang tidak menyenangkan. Kalo saat menerima sesuatu/kejadian yang menyenangkan bunyinya kurang lebih “Ini dalam rangka apa?” atau “Wah saya gak pantes nerima ini. Gimana saya membalasnya?”

Gimanapun bunyi kalimatnya tapi intinya tetap sama, mencari sebab kelayakan. Kenapa saya layak menerima sesuatu/kejadian ini. Sekilas mungkin tampak ga ada yang salah dengan pertanyaan ini. Wajar saja kalo pertanyaan seperti ini muncul.

Hanya saja tampaknya saya harus mulai belajar untuk mengusir jauh2 pertanyaan itu jika ia muncul saat saya menerima sesuatu yang menyenangkan. Pasalnya, kalo mau maen jujur2an, sudah terlalu banyak sesuatu yang menyenangkan yang kita terima atau terjadi pada diri kita bukan karena kita layak mendapatkannya. Mungkin kita sama sekali gak layak mendapatkannya. Jadi mungkin lebih baik kita gak perlu banyak tanya, cukup syukuri saja dan anggap itu sebuah hadiah dari Sang Maha Pemurah. Anggap saja itu sebuah hadiah yang diberikan bukan karena yang menerima layak menerimanya tapi karena Yang Memberi emang baik aja 🙂

Mari kita simpan pertanyaan “what did i do to deserve this?” sebagai bahan introspeksi saat kita menemui sesuatu yang kurang menyenangkan saja. At least sampai kita cukup bijak untuk bisa melihat dan memahami bahwa sebenarnya di balik kejadian kurang menyenangkan yang kita alami tersembunyi hadiah lain dari Yang Maha Penyayang.

Saat Titipan Itu Diambil


Wahai anak muda yang sedang gundah,
mengapa kau tak berbahagia?
Sesuatu telah diambil darimu,
tapi tahukah engkau betapa beruntungnya dirimu?

Sesuatu itu pernah nyata dalam genggamanmu,
saat orang-orang hanya bisa mengangankannya

Sesuatu itu telah berbicara kepadamu
saat orang-orang hanya bisa mendengarnya bergumam

Sesuatu itu memintamu mengantarnya hingga ke ujung jalan
saat orang-orang hanya bisa melihatnya pergi

dan saat sesuatu itu pada akhirnya harus pergi darimu

Demi Allah,

tiada penyesalan yang tersisa,
tiada kata yang tak terucap,
tiada waktu lain yang lebih tepat
dan
tiada cara lain yang lebih indah…

Puji syukur hanya kepada Allah, sang pemilik yang Maha Berkuasa
yang menitipkan sesuatu sebagai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
dan mengambilnya kembali sebagai yang Maha Lemah Lembut