Konsumsi Sidang PA Berlebih


Setiap nguji sidang Proyek Akhir (PA) dosen selalu dapet sekotak snack yg disediakan oleh Layanan Akademik untuk konsumsi. Masalahnya, berhubung sedang musim sidang PA, dalam sehari saya bisa nguji lebih dari 1 kali, malah pernah sampe 4 kali nguji sehari. Kalo saya makan sendiri 4 dus, maka makin melar lah saya, hehehe…
Di sisi lain, mahasiswanya malah gak dapet konsumsi, kasihan kan. Ya sudah, dus ke dua, ke tiga dan seterusnya untuk mahasiswa yg saya uji aja 🙂

Ada yg mau saya uji PA nya? Lumayan lho dapet snack (dan revisi) gratis 😀

5 Do’s and Dont’s – Bimbingan PA


dos-and-donts.gif

Buat mahasiswa yang lagi ngerjain Proyek Akhir (PA) kayaknya penting banget baca posting saya kali ini, apalagi mahasiswa itu kuliah di Telkom University dan salah satu pembimbing PA nya ternyata dosen muda berbakat dengan kode dosen WHY, hukumnya fardhu ‘ain harus baca! 😀

Nah, posting kali ini adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan (Do’s) dan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan (Don’ts) terkait dengan proses bimbingan dan konsultasi Proyek Akhir

Okay, kita mulai:

  1. DO: Bimbingan di jadwal yang telah disepakati bersama
    DON’T: Tiba-tiba muncul di ruang dosen di luar jadwal lalu minta bimbingan, maksa lagi

    Beberapa dosen (dan mungkin hampir semuanya) sudah cukup sulit membagi waktu antara tugas-tugas dosen (yes, we do have assignments too). Jadi mahasiswa yang datang gak diundang bak jelangkung di tengah-tengah kesibukan dosen yang sedang mengerjakan tugas yang lain memang cukup annoying (a.k.a menyebalkan), mungkin sama menyebalkannya dengan dosen yang tiba-tiba datang ke kosan mahasiswa lalu ngasih tugas, padahal si mahasiswa baru mau hang-out dengan temen-temennya ke mall.

  2. DO: Bimbingan dengan rutin, biar pembimbing yang menentukan kapan sidang
    DON’T
    : Gak muncul bimbingan berbulan-bulan lalu mendadak minta sidang

    Ini sebenernya peringkat 1 penyebab kemurkaan dosen pembimbing. Reaksi dosen terhadap mahasiswa yang mendadak minta sidang padahal udah lama gak bimbingan bermacam-macam. Ada yang pura-pura bego dan ngajak kenalan lagi mahasiswanya, ada yang menegur dengan nada oktaf tertinggi sampe kedengeran oleh dosen-dosen lain, ada juga yang sekedar mengelus dada sambil istighfar berkali-kali. Hati-hati dengan dosen berkode WHY, mungkin dia kelihatan oke-oke saja, tapi bisa jadi pas waktunya sidang PA nanti, WHY akan berubah peran dari Pembimbing 1 menjadi Penguji 3 (yang lebih ganas daripada penguji 1 dan 2). Minimal dia akan diam seribu bahasa, mengulum senyum menikmati saat-saat mahasiswanya dibombardir pertanyaan penguji yang bertubi-tubi lalu saat sidang tertutup membisikkan ke penguji “kalau dia gak lulus, saya sebagai Pembimbingnya ikhlas kok pak, bu…”

  3. DO: Mengucapkan salam, memberikan ucapan selamat atau berbela sungkawa
    DON’T: Memberikan oleh-oleh, hadiah, seserahan, sesajen dan sejenisnya sebelum selesai revisi

    Dosen juga manusia, adakalanya dia mendapat anugerah dan adakalanya dia mendapat musibah. Mengucapkan salam, memberikan selamat atau belasungkawa adalah suatu hal yang wajar sebagai bentuk perhatian yang tulus. Tapi hindari pemberian berupa materi, baik dalam bentuk barang apalagi uang. Demi menghormati dosen dan menghormati diri sendiri, hindari bentuk perhatian yang berlebih kepada dosen. Beberapa dosen merasa risih dengan pemberian dari mahasiswa jika itu dilakukan saat nilai belum ditetapkan, hampir semua dosen akan tersinggung dengan pemberian berupa uang. Sebaiknya jika memang sangat ingin memberikan hadiah ucapan terima kasih kepada dosen, jangan berikan uang! pilih barang yang fungsional dan harganya terjangkau oleh kantong mahasiswa. Yang paling penting, tunda sampai revisi selesai, sampai nilai sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Sebetulnya ucapan terima kasih yang tulus dari mahasiswa yang sukses dan masih ingat sama dosennya sudah jauh lebih dari cukup.

  4. DO: Tetap datang bimbingan di jadwal rutin walaupun belum ada progress
    DON’T: Bolos bimbingan, tanpa mengabari dosen

    Walaupun belum ada progress, sangat baik sekali datang untuk berkonsultasi seputar kendala-kendala yang sedang ditemui, siapa tau dosennya punya solusi. Kalau sudah pesimis atau yakin dosennya pelit solusi, minimal mahasiswa wajib mengabari dosen bahwa hari itu dia tidak akan hadir bimbingan. Coba bayangkan, lebih nyebelin mana dosen yang mengabari bahwa kuliah dibatalkan semalam sebelumnya atau dosen yang setelah ditungguin lama-lama ternyata dia gak datang ngajar, kuliahnya pagi buta pula? Jangan biarkan dosen menunggu! apalagi tanpa kabar dan berita, kecuali kalau mahasiswa siap menanggung murka dosen di bimbingan berikutnya. Ingat, cepat atau lambat mahasiswa harus menemui dosen pembimbingnya kalau ingin lulus.

  5. DO: Berpakaian sopan, tidak dandan berlebih atau merokok sebelum bimbingan
    DON’T: Datang bimbingan dengan berpakaian aneh, dandan menor, bau rokok

    Well, ini mungkin gak berlaku buat semua dosen, tapi saya sungguh merasa terganggu dengan mahasiswa yang masuk ke ruangan saya yang kecil dengan mulut bau rokok atau dengan dandanan menor. Apalagi kalau yang menor ternyata mahasiswa dan yang bau rokok ternyata mahasiswi, big no!

Semoga bermanfaat.

sumber gambar: www.yorksolutions.net

 

Menuju Dosen yang Lebih Baik


Image

Saya ingin menjadi dosen yang lebih baik.
Kalau ditanya lebih baik dari apa?
Saya jawab ” lebih baik dari yang sekarang”.

Trus gimana caranya?

  1. Ingin lebih banyak menghasilkan karya ilmiah. So far saya baru menulis di prosiding nasional, itupun jumahnya masih bisa dihitung jari. Target pribadi saya: tahun 2014 ini sudah menulis 1 artikel di jurnal internasional! Amiiiin…
  2. Ingin menulis buku ber-ISBN. Sedih sekali beberapa waktu lalu saya melewatkan program Hibah Buku Ajar yang diselenggarakan oleh kampus tempat saya mengajar. Pokoknya kalau tahun depan program itu diadakan lagi saya akan ikut! Amiiin…
  3. Ingin menawarkan lebih banyak judul PA. Dua tahun terakhir ini memang sudah saya lakukan, tapi masih kurang. Tahun ini saya menawarkan hanya 6 judul saja, itupun yang diambil oleh mahasiswa hanya 5 judul (judul yang saya tawarkan saya terlalu sulit kata mereka, ouch) untuk tahun ajaran baru yang akan datang bulan Agustus nanti, saya menargetkan 50% mahasiswa bimbingan saya harus mendapatkan judul PAnya dari saya. Karena kuota membimbing saya adalah 15 orang, maka saya harus menyiapkan ide untuk 8 judul PA. Good luck with that Wahyu, hahaha… emang berat sih nyari ide sebanyak itu tapi pokoknya amiiiiin….
  4. Ingin mengajak mahasiswa saya ikut mempublikasikan karya ilmiah. Ini misi baru, setelah tahun ini saya menemukan mahasiswa-mahasiswa yang sangat berbakat maka saya rasa sayang sekali kalau PA mereka hanya jadi buku yang nanti teronggok di perpustakaan. Saya ingin mempublikasikannya bersama mereka. Target saya tahun 2014 ini mengajak salah satu mahasiswa saya mempublikasikan PA nya di prosiding nasional, dan saya sudah temukan kandidatnya dari salah satu mahasiswa bimbingan saya semester ini, tinggal cari event nya. Semoga semua lancar, amiiiin….
  5. Ingin merencanakan dan memonitor PA mahasiswa dengan lebih terstruktur dan ketat. Semester lalu saya baru menentapkan milestone-milestone pengerjaan PA untuk mahasiswa bimbingan saya; tanggal sekian harus sudah beres ini, tangal sekian harus sudah beres itu, dan seterusnya. Baru sebatas pengarahan lisan sih, tapi efek positif yang sudah saya rasakan adalah mereka jadi lebih disiplin bimbingan dan lebih cepat menyelesaikan PA dibanding kakak-kakak kelasnya yang saya bebaskan saja kapan mau menyelesaikan apa. Untuk tahun ajaran baru nanti saya ingin memonitornya dengan lebih ketat dan terdokumentasi denga baik. Target saya adalah semua mahasiswa bimbingan saya nanti akan punya semacam log book yang berisi catatan bimbingan dan milestone-milestone yang harus dilalui agar mereka bisa lulus tepat waktu. Amiiin….

Wah postingan ini malah jadi mirip doa ya? semoga terkabul. Amiiin 🙂

Tinjau Ulang


tinjau

Sebelumnya saya pernah menulis bahwa ada dua tantangan dalam mengevaluasi, salah satunya yaitu “saat kita berperan sebagai evaluator, bagaimana caranya kita melakukan evaluasi tanpa membuat orang lain merasa “dicari-cari kesalahannya” sehingga mereka mau menerima masukan dari kita dan mau memperbaiki dirinya menjadi lebih baik?”. menurut saya salah satunya adalah dengan memilih kata-kata yang digunakan saat kita menyampaikan hasil evaluasi tersebut.

Contohnya saat menguji seminar pagi ini, saat menuliskan revisi hasil seminar saya mulai membiasakan untuk mengganti kata “perbaiki” atau “perlu direvisi” dengan kata ” perlu ditinjau ulang”.

tinjau ulang

Alasannya ada dua:

  1. Memberi konotasi yang positif atau minimal netral. Menurut saya kata “perlu diperbaiki” atau “perlu direvisi” seolah menyatakan “ada sesuatu yang tidak baik” atau “ada sesuatu yang salah” di sana. Dengan menggunakan kata “perlu ditinjau ulang” saya harap mahasiswa tidak merasa disalahkan, cukup meneliti ulang, siapa tau ada yang salah
  2. Belum tentu saya benar, siapa tau saya yang salah. Makanya saya tidak mau menghakimi dengan menyatakan “[ini salah, maka] perlu diperbaiki” atau “ini salah, maka] perlu direvisi”. Oleh karena itu lebih baik saya kembalikan kepada mahasiswa dan pembimbingnya, toh mereka yang lebih paham.

Saya percaya bahwa pemilihan kata yang tepat sangat berpengaruh terhadap konotasi yang disampaikan. Lagipula tujuan dosen menguji seminar atau sidang Proyek Akhir kan bukan untuk menyalahkan mahasiswa atau dosen pembimbingnya, tapi membantu mencari dan menggali kelemahan sistem yang dibuat, tentunya agar bisa menjadi lebih baik lagi di masa depan. Jangan sampai kita menemui penolakan dan harus melalui perdebatan yang sebetulnya tidak perlu hanya karena kita salah memilih kata dalam menyampaikan hasil evaluasi kita. Oiya, sebelumnya saya juga membiasakan menggunakan istilah mahasiswa “pendalaman” untuk menggantikan istilah mahasiswa “mengulang”. Alhamdulillah tampaknya istilah itu makin familiar dan mulai turut diadopsi oleh kawan-kawan saya sesama dosen di kampus 🙂

Tujuh Tahun yang Lalu


Pagi ini saya menguji sidang Proyek Akhir salah seorang mahasiswa, sidangnya berjalan lancar. Saat saya menandatangani berita acara sidang sebagai Penguji 1, saya melihat kalender dan teringat…

Ternyata tepat tujuh tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus 2005, saya melaksanakan sidang Proyek Akhir saya 🙂

Wah, jadi nostalgia nih…

  1. Saya masih ingat betul waktu itu hari Selasa, saya sidang Proyek Akhir saya yang berjudul “Perangkat Lunak Pencarian Berindeks pada Himpunan Teks Berbahasa Indonesia dengan Menggunakan Inverted Files (Studi Kasus: Al Quran Terjemahan Indonesia)“. Topiknya tentang information retrieval. Menurut teman-teman saya PA saya itu gak lazim, topik baru (waktu itu) dan kesannya “wah”. Padahal sebetulnya topik itu saya ambil karena menghindari topik PA yang sedang nge-tren tahun 2005 dulu (tentang sistem informasi berbasis web) yang mengharuskan survey & wawancara ke perusahaan nyata (saya paling males ngemis-ngemis data ke perusahaan orang, he3).
  2. Saya juga masih ingat dosen Pembimbing 1 PA saya, ibu Dade Nurjanah. Beliau adalah dosen Basis Data yang dulu mengajarkan saya tentang diagram ER, query, dan lain-lain (sekarang saya ngajar Basis Data juga lho bu, ilmu dari Ibu ternyata sangat berkah). Sudah lama sekali saya tidak bertemu beliau, konon sekarang beliau sedang meneruskan pendidikan S3 nya di Eropa, keren banget lah ibu ini. Selain cerdas, beliau juga selalu memberi dukungan moril saat saya merasa “kurang pede” dengan PA saya yang diagram ER nya hanya punya 3 entitas. “Bu, ini gapapa ER saya terlalu sederhana begini?” tanya saya. “Gapapa, kan proses dan algoritma PA kamu yang rumit…” begitu jawab beliau membesarkan hati saya.
  3. Dosen Pembimbing 2 PA saya, ibu Retno Novi Dayawati tidak kalah berjasa. Saat menjelang saya sidang, bu Novi baru saja kembali dari cuti hamil dan melahirkan (sampe sekarang saya kadang masih bertemu beliau dan putrinya). Namun beliau tidak kalah memberikan dukungannya, mulai dari koreksi tata tulis di buku PA sampai koreksi slide presentasi sidang PA dan tips-tips presentasipun diberikan. Beliau mengajarkan kepada saya bahwa “saat sidang PA tidak perlu takut ditanya source code karena mahasiswa lah yang paling menguasai program PA dibandingkan dosen pembimbing atau pengujinya, karena mahasiswa lah yang membuatnya…” Nasihat ini saya teruskan kepada mahasiswa-mahasiswa bimbingan saya, semoga sama efektifnya dengan nasihat bu Novi kepada saya dulu 🙂
  4. Penguji 1 PA saya, pak Moch Arif Bijaksana, benar-benar sesuai dengan namanya, benar-benar arif dan bijaksana. Sebetulnya beliau adalah penguji, tapi selama proses pengerjaan PA saya banyak berkonsultasi dengan beliau, maklumlah beliau memang salah satu pakar topik information retrieval. Selain mengajarkan konsep information retrieval dan text mining kepada saya, beliau juga memberikan beberapa  referensi bahan bacaan yang sangat membantu saya dalam mengerjakan PA. Saat sidang dengan beliau pun suasananya tidak horor dan mencekam, tapi malah lebih mirip dengan suasana tanya jawab saat saya berkonsultasi. Jangan tanya nilainya, benar-benar arif dan bijaksana 🙂
  5. Penguji 2 dan 3 PA saya, ibu Rimba Widhiana Ciptasari dan ibu Setyorini. Posisi beliau sebagai penguji 2 dan 3 tidak bisa dianggap remeh. Kalau saya perhatikan, jika saya menguji sidang PA mahaiswa saya sekarang, ternyata sedikit banyak cara menguji saya mirip dengan cara kedua ibu itu menguji PA 😛 Saya belajar bagaimana merumuskan permasalahan dalam PA, merumuskan tujuan agar terukur dan menyajikan data sehingga menjadi sebuah kesimpulan dari beliau berdua. Terima kasih banyak bu, sekarang saya langganan nguji sidang PA mahasiswa, ilmunya dari ibu berdua 😀

Kalau dipikir-pikir, tujuh tahun yang lalu pada saat sidang PA, saya berada di posisi mahasiswa, berusaha menjawab pertanyaan penguji sebaik mungkin dengan bekal ilmu dan bimbingan dari dosen-dosen saya. Saat itu saya tidak membayangkan bahwa tujuh tahun kemudian, hari ini saya duduk di kursi Penguji 1, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mirip dengan yang dulu pernah diajukan kepada saya.

Saya berdoa, semoga tujuh tahun dari sekarang, salah satu dari mahasiswa mahasiswi yang pernah saya bimbing atau saya uji, akan menjadi seorang dosen yang jauh lebih baik daripada saya. Amiiiin.

sumber gambar: designofsignage.com

Menguji [Produk] Proyek Akhir


Seperti yang telah saya janjikan pada posting sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang pengujian produk Proyek Akhir. Proyek Akhir di jurusan Teknologi Informasi hampir semuanya menghasilkan produk berupa software (biasanya disebut juga aplikasi atau program Proyek Akhir), jadi teknik-teknik menguji produknya pun mengadaptasi dari teknik-teknik software testing. Menurut pengamatan saya, saat menguji produk Proyek Akhir yang berupa software, masing-masing dosen penguji punya cara masing-masing. Walaupun begitu, sebenarnya kita bisa kelompokkan cara menguji produk PA tersebut menjadi 4 berdasarkan tujuan pengujiannya

  1. Menguji Efektifitas Produk
    Menguji efektifitas produk maksudnya adalah menguji apakah produk yang dibuat itu menjawab masalah yang dirumuskan? Apakah sesuai dengan tujannya? Jadi saat menguji software Proyek Akhir, saya biasanya berpedoman kepada buku PA, khususnya Bab 1 tentang Rumusan Masalah dan Tujuan. Seharusnya semua tujuan pada buku PA bisa tercapai dengan menggunakan produk PA.
    Kalau ada tujuan yang tidak bisa dibuktikan bahwa itu berhasil dicapai dengan produk maka ini bisa dikategorikan minimal sebagai dosa kelas menengah. Biasanya dosen penguji akan berat memberikan nilai A, dan hampir selalu memberikan sanksi.

    • Sanksi paling ringan adalah merevisi tujuan di buku PA,
    • Sanksi yang paling sering diberikan adalah revisi produk untuk membuktikan bahwa tujuannya tercapai,
    • Sanksi paling berat adalah tidak lulus sidang PA.

    Sayang sekali mahasiswa cenderung asal-asalan dalam menuliskan tujuan di buku PA, atau menulis tujuan dengan kalimat berbunga-bunga yang susah diukur dan dibuktikan dengan produknya. Bahkan ada juga yang tidak mengerti tujuan yang dituliskannya sendiri (yang kayak gini ini nih biasanya kandidat gak lulus sidang) 😥

  2. Menguji Kesesuaian Perancangan dengan Implementasi Produk
    Yang ini adalah favorit saya. Sering sekali saya menemukan mahasiswa yang membuat produk PA yang bagus, analisis dan peracangan di buku PA nya juga bagus dan lengkap, tapi begitu dicoba untuk dicocokkan, ternyata sama sekali gak mirip. Analoginya seperti orang yang menggambar denah rumah yang bagus, lalu membangun rumah yang juga bagus tetapi tidak sesuai dengan denah rumah yang digambarnya. Untuk menguji keseuaian antara perancangan dengan implementasi produk biasanya saya memeriksa:

    • Apakah diagram ER nya cocok dengan basis data yang dibuat?
    • Apakah atribut dan method pada diagram kelas sesuai dengan kelas-kelas yang dibuat?
    • Apakah nama, urutan dan logika pemanggilan method pada sequence diagram sesuai dengan implementasi programnya?
    • dan lain-lain.

    Mau tidak mau, untuk menguji ini saya harus meminta mahasiswa yang diuji untuk menampilkan source code dan menunjukkan letak source code yang sesuai untuk bagian-bagian perancangan yang ditanyakan. Tidak sampai diminta untuk live coding memang, tapi herannya beberapa mahasiswa sampai berkeringat dingin dan bahkan menangis saat diminta menunjukkan source code, padahal saya ga ada niat buat membantai, hadoh 😦
    Celakanya lagi, tingkah mahasiswa yang panik saat diminta menunjukkan source code mengundang kecurigaan dosen penguji tentang orisinalitas karya si mahasiswa. Mahasiswa seperti ini cenderung akan diuji pemahamannya terhadap produk (yang akan saya jelaskan pada poin 3 di bawah ini).

  3. Menguji Penguasaan Mahasiswa terhadap Produk
    Menurut saya, pengujian ini adalah pengujian yang sebetulnya sangat perlu dilakukan tapi cukup jarang saya lakukan kecuali jika saya curiga bahwa produk yang dipresentasikan bukan hasil karya si mahasiswa. Cara mengujinya pun beragam:

    • Mahasiswa diminta melakukan modifikasi sederhana (misalnya mengubah judul halaman, mengubah warna teks dan sebagainya)
    • Dosen penguji sedikit mengubah source code lalu mahasiswa diminta menebak dan menjelaskan apa efeknya
    • Mahasiswa diminta membuat satu fitur tambahan minor (live coding)
    • dan lain-lain

    Jika memang terbukti mahasiswa yang diuji sama sekali tidak menguasai produk yang dibuatnya sendiri, ini bisa dikategorikan dosa besar dan bahkan bisa dicap plagiat, sanksinya adalah tidak lulus sidang PA. Jika mahasiswa menguasai sebagian produk tapi tidak menguasai sebagian yang lain biasanya dosen penguji akan berbaik hati meluluskan namun tidak dengan nilai yang maksimal.

  4. Menguji Ketahanan Produk
    Kalau ada dosen penguji yang terlihat sangat hobi “ngisengin program” misalnya dengan menginputkan huruf di field yang seharusnya berisi angka, mengisi tanggal yang tidak valid (misalnya 30 Februari) dan sebagainya dosen penguji tersebut bukan sedang “sentimen” atau “jahil” dengan adik-adik mahasiswa. Beliau sebetulnya sedang menguji ketahanan produk yang dibuat oleh mahasiswa. Memang terlihat ekstrem, tapi sebetulnya pengujian ini sangat penting. Di lapangan, sebelum sebuah software dirilis, software tersebut harus diuji dengan detail sebab sebuah bug kecil bisa menyebabkan kerugian besar atau malah berakibat fatal (Bayangkan jika ada bug pada software yang dipakai bank untuk menyimpan data saldo nasabah atau ada bug pada software autopilot pesawat terbang)

Nah, semoga setelah membaca tulisan saya ini adik-adik mahasiswa akan lebih tenang menghadapi sidang Proyek Akhir dan tentu saja lebih siap dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji. Semoga sukses 🙂

Dosen Penguji Angker


Hari ini pendaftaran sidang Proyek Akhir untuk periode Agustus 2012 mulai dibuka. Sidang periode Agustus 2012 adalah periode terakhir bagi mahasiswa yang ingin wisuda di bulan Oktober 2012 nanti, jadi peminatnya pasti sangat banyak. Itu artinya sekitar awal Agustus nanti saya akan kebanjiran “order” sebagai dosen penguji sidang Proyek Akhir. Beberapa mahasiswa saya juga sudah ada yang curhat dan mengaku merasa mules-mules menjelang sidang Proyek Akhir nanti. Lucunya lagi beberapa mahasiswa sempat mengaku berdoa supaya tidak mendapatkan dosen tertentu sebagai dosen pengujinya 😆

Salah satu mahasiswa saya dengan polosnya pernah bilang “pak, kata senior saya semoga yang nguji bukan pak Wahyu…” Waduh, se-horor itu kah cara nguji saya?
Baca lebih lanjut