Menuju Dosen yang Lebih Baik


Image

Saya ingin menjadi dosen yang lebih baik.
Kalau ditanya lebih baik dari apa?
Saya jawab ” lebih baik dari yang sekarang”.

Trus gimana caranya?

  1. Ingin lebih banyak menghasilkan karya ilmiah. So far saya baru menulis di prosiding nasional, itupun jumahnya masih bisa dihitung jari. Target pribadi saya: tahun 2014 ini sudah menulis 1 artikel di jurnal internasional! Amiiiin…
  2. Ingin menulis buku ber-ISBN. Sedih sekali beberapa waktu lalu saya melewatkan program Hibah Buku Ajar yang diselenggarakan oleh kampus tempat saya mengajar. Pokoknya kalau tahun depan program itu diadakan lagi saya akan ikut! Amiiin…
  3. Ingin menawarkan lebih banyak judul PA. Dua tahun terakhir ini memang sudah saya lakukan, tapi masih kurang. Tahun ini saya menawarkan hanya 6 judul saja, itupun yang diambil oleh mahasiswa hanya 5 judul (judul yang saya tawarkan saya terlalu sulit kata mereka, ouch) untuk tahun ajaran baru yang akan datang bulan Agustus nanti, saya menargetkan 50% mahasiswa bimbingan saya harus mendapatkan judul PAnya dari saya. Karena kuota membimbing saya adalah 15 orang, maka saya harus menyiapkan ide untuk 8 judul PA. Good luck with that Wahyu, hahaha… emang berat sih nyari ide sebanyak itu tapi pokoknya amiiiiin….
  4. Ingin mengajak mahasiswa saya ikut mempublikasikan karya ilmiah. Ini misi baru, setelah tahun ini saya menemukan mahasiswa-mahasiswa yang sangat berbakat maka saya rasa sayang sekali kalau PA mereka hanya jadi buku yang nanti teronggok di perpustakaan. Saya ingin mempublikasikannya bersama mereka. Target saya tahun 2014 ini mengajak salah satu mahasiswa saya mempublikasikan PA nya di prosiding nasional, dan saya sudah temukan kandidatnya dari salah satu mahasiswa bimbingan saya semester ini, tinggal cari event nya. Semoga semua lancar, amiiiin….
  5. Ingin merencanakan dan memonitor PA mahasiswa dengan lebih terstruktur dan ketat. Semester lalu saya baru menentapkan milestone-milestone pengerjaan PA untuk mahasiswa bimbingan saya; tanggal sekian harus sudah beres ini, tangal sekian harus sudah beres itu, dan seterusnya. Baru sebatas pengarahan lisan sih, tapi efek positif yang sudah saya rasakan adalah mereka jadi lebih disiplin bimbingan dan lebih cepat menyelesaikan PA dibanding kakak-kakak kelasnya yang saya bebaskan saja kapan mau menyelesaikan apa. Untuk tahun ajaran baru nanti saya ingin memonitornya dengan lebih ketat dan terdokumentasi denga baik. Target saya adalah semua mahasiswa bimbingan saya nanti akan punya semacam log book yang berisi catatan bimbingan dan milestone-milestone yang harus dilalui agar mereka bisa lulus tepat waktu. Amiiin….

Wah postingan ini malah jadi mirip doa ya? semoga terkabul. Amiiin 🙂

Tinjau Ulang


tinjau

Sebelumnya saya pernah menulis bahwa ada dua tantangan dalam mengevaluasi, salah satunya yaitu “saat kita berperan sebagai evaluator, bagaimana caranya kita melakukan evaluasi tanpa membuat orang lain merasa “dicari-cari kesalahannya” sehingga mereka mau menerima masukan dari kita dan mau memperbaiki dirinya menjadi lebih baik?”. menurut saya salah satunya adalah dengan memilih kata-kata yang digunakan saat kita menyampaikan hasil evaluasi tersebut.

Contohnya saat menguji seminar pagi ini, saat menuliskan revisi hasil seminar saya mulai membiasakan untuk mengganti kata “perbaiki” atau “perlu direvisi” dengan kata ” perlu ditinjau ulang”.

tinjau ulang

Alasannya ada dua:

  1. Memberi konotasi yang positif atau minimal netral. Menurut saya kata “perlu diperbaiki” atau “perlu direvisi” seolah menyatakan “ada sesuatu yang tidak baik” atau “ada sesuatu yang salah” di sana. Dengan menggunakan kata “perlu ditinjau ulang” saya harap mahasiswa tidak merasa disalahkan, cukup meneliti ulang, siapa tau ada yang salah
  2. Belum tentu saya benar, siapa tau saya yang salah. Makanya saya tidak mau menghakimi dengan menyatakan “[ini salah, maka] perlu diperbaiki” atau “ini salah, maka] perlu direvisi”. Oleh karena itu lebih baik saya kembalikan kepada mahasiswa dan pembimbingnya, toh mereka yang lebih paham.

Saya percaya bahwa pemilihan kata yang tepat sangat berpengaruh terhadap konotasi yang disampaikan. Lagipula tujuan dosen menguji seminar atau sidang Proyek Akhir kan bukan untuk menyalahkan mahasiswa atau dosen pembimbingnya, tapi membantu mencari dan menggali kelemahan sistem yang dibuat, tentunya agar bisa menjadi lebih baik lagi di masa depan. Jangan sampai kita menemui penolakan dan harus melalui perdebatan yang sebetulnya tidak perlu hanya karena kita salah memilih kata dalam menyampaikan hasil evaluasi kita. Oiya, sebelumnya saya juga membiasakan menggunakan istilah mahasiswa “pendalaman” untuk menggantikan istilah mahasiswa “mengulang”. Alhamdulillah tampaknya istilah itu makin familiar dan mulai turut diadopsi oleh kawan-kawan saya sesama dosen di kampus 🙂

LetJen


letjen

Kenalan: “Mas, nitip ya… ada satu orang sodara saya mau masuk Informatika”
Saya: “Oh…” [bengong sebentar] “Iya, ntar kalo udah dapet NIM kabarin aja ke saya…”
Kenalan: “Yah… tetep harus tes ya?”
Saya: “Iya, harus tes.”
Kenalan: “Kalau gak tes bisa gak?”
Saya: “Wah, saya gak cukup powerful untuk itu, saya juga gak ada kenal temen ada yang bisa bantu, bla… bla… bla…”

Begitulah penggalan percakapan saya di telepon sore ini. Miris… jaman gini masih ada saja orangtua yang mengupayakan anaknya bisa kuliah di tempat favorit dengan cara yang tidak etis. Kalaupun saya berkuasa untuk “menitipkan”, saya tetap akan menolak. Kasihan anaknya. Apa mereka kurang yakin dengan kemampuan anaknya sendiri? Apa mereka mau memaksakan anaknya untuk nyemplung di kawah candradimuka yang way out of thier league?

Proses seleksi didesain agar calon mahasiswa yang diterima adalah calon mahasiswa yang memang diperkirakan akan “survive“. Kalau proses seleksi ini di-bypass seenaknya maka yang rugi adalah calon mahasiswa itu sendiri. Kalau memang calon mahasiswa itu tidak punya kemampuan bersaing lalu tetap masuk dan diterima, maka dia akan depresi. Proses belajar yang seharusnya menyenangkan akan terasa penuh tekanan. Kalau sampai drop out apa bukan mahasiswa itu dan orangtuanya yang rugi? Sudah rugi waktu, rugi biaya pula.

Dulu waktu saya masih sekolah SMP dan SMU di Makassar, ada istilah yang kami sematkan kepada siswa yang diterima di sekolah tanpa proses yang benar. Kami menyebutnya “letjen“, kependekan dari “lewat jendela”. Jadi kalau siswa-siswa yang lain masuk ke sekolah “lewat pintu” alias lewat jalur dan prosedur yang semestinya, maka mahasiswa “letjen” ini adalah mahasiswa yang masuk sekolah “lewat jedela” alias tidak lewat jalur dan yang semestinya. Berdasarkan pengalaman saya sih, mereka biasanya tidak survive di sekolah, kalau gak gagal naik kelas, ya jadi depresi karena gak bisa mengikuti ritme persaingan yang ada. Belum lagi jadi bahan pembicaraan dan kemungkinan untuk dikucilkan dari lingkungan sekitarnya karena statusnya sebagai siswa “letjen”  So, adakah yang masih berminat jadi mahasiswa “letjen”?

Mengundurkan Diri Itu Hak Mahasiswa


quit

Baru saja saya didatangi oleh salah satu mahasiswa saya yang mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri. Mahasiswa tersebut IPK nya masih dalam kategori cukup namun sudah berada di masa akhir studinya. Satu-satunya mata kuliah yang menghalanginya dari kelulusan adalah Proyek Akhir. Jika sampai Juli nanti dia belum sidang maka dia otomatis akan di-DO dan dia sama sekali belum mulai mengerjakan Proyek Akhirnya, bahkan dia tidak melakukan registrasi ulang semester ini.

Ketika saya tanyakan alasan pengunduran dirinya adalah karena masalah biaya. Saya kurang yakin bahwa itu adalah satu-satunya alasan sebab saat saya tawarkan opsi-opsi solusi seperti penundaan pembayaran dan sebagainya mahasiswa tersebut sepertinya sudah tidak tertarik untuk melanjutkan studinya. Saya tanya berulang-ulang tentang kebullatan tekadnya dan dia berulang-ulang pula menyatakan bahwa tekadnya sudah bulat. Ya sudah, saya pun tidak ingin menghalangi.

Sepengetahuan saya, di kampus saya ada kebijakan yang menyarankan dosen wali untuk membatasi jumlah mahasiswa yang mengudurkan diri dengan alasan karena semakin banyak mahasiswa yang mengundurkan diri maka semakin buruk nilai akreditasi kampus.

Tapi saya tidak setuju. Menurut saya mengundurkan diri itu adalah hak mahasiswa. Alangkah jahatnya saya bila saya menghalangi mahasiswa dari mendapatkan haknya.

Siapa tau mengundurkan diri adalah jalan terbaik baginya, toh kesuksesan bukan ditentukan semata-mata dari kelulusan apalagi harus lulus dari label almamater tertentu. Lulus dari mana saja bisa sukses kok, bahkan kalau tidak lulus kuliah juga bisa sukses.

Saya juga tidak menganjurkan untuk tidak lulus dan mudah menyerah saat menghadapi kendala akademik. Saya hanya menekankan bahwa mahasiswa sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan sendiri, bukan disetir oleh orang tua apalagi disetir oleh dosen. Yang paling penting lagi, mahasiswa selayaknya bertanggungjawab atas keputusan yang diambil, tidak menyalahkan siapapun bila ternyata keputusannya membawa konsekuensi buruk bagi masa depannya. Dengan demikian, mahasiswa boleh berbangga jika keputusannya ternyata merupakan keputusan yang tepat dan mengantarkannya pada kesuksesan, itu artinya dia sukses mengantarkan dirinya jadi orang sukses, dengan izin Allah tentunya, dan bukan “diantarkan” menuju kesuksesan oleh dosen atau orangtuanya.

Selamat jalan mahasiswaku, semoga keputusanmu adalah keputusan yang terbaik. Saya harap jika kita diberi umur panjang dan bertemu lagi sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, kamu akan dengan tersenyum bangga berkata “Pak, alhamdulillah, ternyata keputusan saya mengundurkan diri waktu itu adalah keputusan yang tepat…”

Menulis Biografi Singkat (Short Biography)


Biografi singkat yang saya maksud di sini adalah biografi singkat yang biasanya ada pada karya tulis ilmiah seperti paper atau jurnal. Biasanya biografi singkat seperti ini dibatasi jumlah katanya, misalnya 50, 100 atau 200 kata. Untuk menulis biografi singkat seperti ini tekniknya beda dengan menulis biografi biasa.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya mengikuti pelatihan Penulisan dan Presentasi Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh pihak kampus tempat saya mengajar. Saat itu pematerinya adalah Prof. Soegijardjo Soegijoko dari ITB dan salah satu materi yang paling awal diajarkan adalah cara menulis biografi singkat. Prof Soegi memberikan beberapa panduan tentang apa saja yang biasanya dicantumkan dalam sebuah biografi singkat untuk karya tulis ilmiah, diantaranya yaitu: Baca lebih lanjut

Catatan Pelatihan Applied Approach – Hari 4


Hari ini adalah hari ke-4 Pelatihan Applied Approach. Ada 3 sesi yang sangat menarik. Berikut ini adalah catatan saya pada Pelatihan Applied Approach hari ke 4:

Hari 4 – Sesi 1
Etika Komunikasi Pembelajaran
(Dr. Ani Yuningsih)

  1. Etiket terkait dengan tata cara pergaulan yang ditetapkan oleh komunitas tertentu di mana etiket tersebut diberlakukan
  2. Etika sifatnya lebih universal, karena terkait nilai moral dan berlaku umum tidak terkait dengan komunitas tertentu
  3. Tiap profesi punya etika masing-masing
  4. Etiket biasanya tidak tertulis, sanksinya berupa sanksi sosial
  5. Etiket dapat berubah menjadi etika, misalnya tata cara keprotokolan dalam penyambutan tamu negara, sekarang diundang-undangkan untuk menyeragamkan aturan
  6. Tujuan etika komunikasi pembelajaran:
    1. Menyamakan persepsi antara rencana pembelajaran dan implementasinya
    2. Memberikan arah untuk bersikap objektif dalam proses belajr mengajar
    3. Menyamakan pemahaman tentang profesionalitas dosen
  7. Pelanggaran etika komunikasi pembelajaran yang tidak disadari saat mengajar:
    1. Kurang menguasai materi atau menggunakan materi yang tidak relevan
    2. Merendahkan, menyudutkan dan menyinggung perasaan mahasiswa
    3. Menegur dengan cara mempermalukan mahasiswa
    4. Menilai rendah disiplin ilmu lain atau sesama dosen lain
    5. Kurang mampu mentolerir perbedaan pendapat dengan mahasiswa
    6. Menciptakan image dosen killer
  8. Idealnya dalam proses belajar mengajar kita kombinasikan 3 mode Teaching and Learning:
    1. Traditional Instruction (model tradisional: ceramah, presentasi, textbook)
    2. Individual Learning (model constructivist: case study, case instructional, materials, question and answer)
    3. Collaborative Learning (model social constructivist: case study, discussion forum, teamwork, problem based learning)
  9. Traditional Instruction memfasilitasi transfer knowledge dari dosen ke mahasiswa (namun perhatikan bahwa pasti daya serapnya di sisi mahasiswa tidak akan 100%)
  10. Individual learning mengasah potensi individu masing masing dan mendorong kreativitas
  11. Collaborative learning mengasah keterampilan sosial dan teamwork yang baik
  12. Dosen yang profesional melakukan hal-hal berikut dalam proses pembelajarannya:
    1. Persiapan
    2. Penyampaian
    3. Pelatihan
    4. Penampilan hasil
  13. Aspek penunjang dosen profesional:
    1. Penelitian
    2. Pengabdian Masyarakat
    3. Jabatan dalam Organisasi/Struktural
  14. Peran dosen dalam SCL:
    1. Mamfasilitasi
    2. Memotivasi
    3. Mengevaluasi
    4. Memberikan feedback
  15. Sikap tubuh positif yang bisa dilatih oleh dosen saat mengajar:
    1. Senyum
    2. Jabat tangan yang erat
    3. Duduk tegak
    4. Tenang, relaks, tangan terbuka
    5. Menjaga kontak mata
    6. Mendekatkan badan untuk menyimak
    7. Mengangguk sebagai tanda setuju
  16. Gaya pergaulan dosen dan mahasiswa sangat beragam, ada yang lebih akrab dengan suasana yang cair, ada pula yang kental dengan suasana formal dan bahkan sedikit kaku. Tidak ada yang salah dari keduanya, semuanya tergantung disiplin ilmu yang ditekuni, kompetensi yang diharapkan setelah lulus dan karakteristik masing-masing individu. Namun demikian, idealnya dicari jalan tengah atau dikombinasikan.Intinya tidak ada yang salah selama tidak melanggar etika dan norma yang berlaku.

Hari 4 – Sesi 2
Media Pembelajaran
(Dr. Ani Yuningsih)

  1. Media adalah segala sesuatu yg dapat menyalurkan informasi dari sumber kepada penerimanya
  2. Media berkembang pesat seiring perkembangan teknologi, jadi media pembelajaran juga harus divariasikan seiring ketersediaan jenis media baru yg belum ada sebelumnya
  3. Manfaat media bagi proses pembelajaran:
    1. Variasi penyampaian
    2. Lebih menarik
    3. Lebih interaktif
    4. Lebih hemat waktu
    5. Bebas batasan waktu dan ruang
  4. Dalam sebuah kerjasama, yang paling penting adalah adanya saling percaya antar pihak pihak yang bekerjasama
  5. Media yang cocok untuk audiens dalam jumlah besar:
    1. TV
    2. Radio
    3. Internet
    4. dll
  6. Audiens kecil:
    1. Videotape
    2. Foto
    3. Poster
    4. Film bisu
    5. Dll
  7. Perhatikan tabel klasifikasi media menurut tujuan belajar
  8. Syarat Media:
    1. Visible = mudah dilihat
    2. Interisting =menarik
    3. Simple = sederhana
    4. Useful = isinya bermanfaat
    5. Accurate = benar, dapat dipertanggungjawabkan
    6. Legitimate = sah, masuk akal
    7. Structure = tersusun dengan baik
  9. Hindari penggunaan kata negatif dalam media, misalnya kata “jangan”, “kecuali” dan sebagainya
  10. Pertimbangan memilih media:
    1. Apa yang tersedia
    2. Biaya pengembangan
    3. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan
    4. Aspek apa yang perlu divisualisasikan
  11. Untuk menampilkan definisi pada slide tidak harus kata per kata namun bisa juga dalam bentuk yang lain (bagan, gambar, dan lain2, tergantun kreativitas masing-masing)

Hari 4 – Sesi 3
Membaca Efektif dan Efisien
(Dr. Dewi K. Soedarsono)

  1. Banyak orang kurang membaca beralasan karena kurang waktu
  2. Untuk membaca secara efektif dan efisien, kunci awalnya adalah menyenangi bahan bacaan tersebut
  3. Membaca adalah kegiatan memahami, jadi tidak perlu membaca setiap kata yang ada di dalam bahan bacaan, tetapi yg lebih penting adalah memahami isinya
  4. Penghambat membaca efektif dan efisien:
    1. Vokalisasi = Membaca dengan bersuara
    2. Membaca dengan menggerakkan bibir (komat-kamit)
    3. Gerakan kepala mengikuti teks (dari kiri ke kanan)
    4. Menunjuk dengan jari
    5. Regresi (menunjuk ke belakang)
    6. Subvokalisasi (melafalkan kata per kata dalam hati)
  5. Tips mengatasi hambatan a dan b: jepit pensil di bibir atau raba tenggorokan untuk mencari getaran
  6. Tips mengatasi hambatan c: duduk tegak, sentuhkan 2 jari atau kepalan tangan di pipi untuk mencegah kepala bergerak
  7. Tips mengatasi hambatan d: letakkan tangan di lutut
  8. Tips mengatasi hambatan e dan f: jauhkan segala hal yang mengganggu konsentrasi
  9. Keterampilan dasar yang mendukung efektivitas dan efisiensi membaca:
    1. Gerakan mata
    2. Membaca frasa
    3. Mengekstrak kata kunci
    4. Skimming dan scanning
  10. Sistem membaca SQ3R:
    1. Survey = kenali informasi apa yang dicari, lalu kumpulkan buku-buku yang sesuai dengan informasi yang dicari, kemudian gunakan pembatas buku (misalnya post it)
    2. Question = kumpulkan pertanyaan sebanyak2nya seputar bahan bacaan yang sudah ditandai, bisa gunakan metode 5W+1H
    3. Read = membaca bagian yang sudah ditandai
    4. Recall/Recite = siapkan kertas kosong, lalu tuliskan kembali dengan bahasa sendiri, usahakan singkat, padat dan jelas
    5. Review = baca kembali bagian pada bahan bacaan, bandingkan dengan ringkasan yang kita buat, konfirmasikan kebenarannya sambil melakukan repetisi untuk memperkuat ingatan tentang materi

Catatan Pelatihan Applied Approach – Hari 3


Hari ini sesi awal diisi dengan diskusi kelompok dan simulasi pembelajaran dengan metode Student Centered Learning. Diskusi dan simulasi berlangsung sampai waktu makan siang. Adapun sesi 3 setelah makan siang diisi dengan materi yang sangat menarik menurut saya, yaitu tentang penjaminan mutu. Saya merasa materi ini menarik sebab sering luput dari perhatian dosen dan materi ini sebenarnya pernah saya dapatkan sekilas waktu saya mengikuti studi banding ke Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta beberapa bulan yang lalu.

Pemateri menyampaikan materi tentang Penjaminan Mutu yang padat ini dengan sangat menarik. Sayang sekali karena keterbatasan waktu, materi yang menarik ini disajikan dengan cukup cepat sehingga hanya sebagian kecil yang bisa saya catat. Berikut ini adalah catatan saya selama menyimak materi pelatihan Applied Approach hari ke 3:

Hari 3 – Sesi 3
Manajemen Mutu Terpadu di Perguruang Tinggi
(Reny Sukmawani, SP., MP.)

  1. Penjaminan mutu dibutuhkan untuk menyamakan standar kualitas perguruan tinggi
  2. Perguruan tinggi dinyatakan bermutu jika:
    1. Mewujudkan visi melalui misi (aspek deduktif)
    2. Memuaskan kebutuhan stakeholder (aspek induktif)
  3. Intinya, perguruan tinggi harus mampu merencanakan, menjalankan dan mengendaikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu
  4. Mutu mencakup upaya memenuhi atau melebihi harapan konsumen, mencakup produk, tenaga kerja, proses dan lingkungan
  5. Manajemen mutu terpadu (MMT) adalah proses merencanakan, mengorganisasikan dan mengawasi pemenuhan standar mutu pengelolaan perguruan tinggi secara menyeluruh
  6. MMT harus dilakukan secara kuntinu, tidak bisa mengharapkan hasil yang instan dan tidak boleh dihentikan (harus terus menjalani siklusnya)
  7. Produk jasa/layanan perguruan tinggi
    1. Jasa Kurikuler
    2. Jasa Penelitian
    3. Jasa Pengabdian masyarakat
    4. Jasa Kebijakan umum
    5. Jasa Administrasi
    6. Jasa Ekstrakurikuler
  8. Kebutuhan dasar untuk peningkatan mutu
    1. Kompetensi: tau caranya
    2. Koordinasi: kerja sama yang baik antar bagian
    3. Komitmen: kesepakatan dan kesamaan niat
  9. Saat melakukan peningkatan mutu, tidak perlu menentukan target yang terlampau tinggi, yang lebih penting adalah menentukan target yang realistis (sesuai kondisi sekarang) dan secara terus menerus meningkatkan target tersebut sehingga menjadi perbaikan yang berkelanjutan
  10. Dalam peningkatan mutu, fokuslah kepada pelanggan
  11. Sinergi penjaminan mutu perguruan tinggi:
    1. PDPT (EPSBED)
    2. Akreditasi
    3. SPM internal
  12. Hal yang pertama yang harus dilakukan saat mengawali usaha pernjaminan mutu perguruan tinggi adalah menyamakan komitmen dari seluruh civitas akademika
  13. Langkah-langkah penjaminan mutu internal:
    1. Menyusun organisasi penjamin mutu
    2. Menyusun sistem (kebijakan, sistem dokumen)
    3. Menjalankan sistem
    4. Lakukan audit internal mutu
    5. Tindak lanjuti
  14. Sistem dokumen terdiri dari standar mutu, manual mutu, manual prosedur, dan sebagainya
  15. Standar Organisasi SPM:
    1. Terstruktur dan memiliki bagan organisasi
    2. Memiliki Tugas Pokok dan Fungsi (TuPokSi)
    3. Sesuai dengan kompetensi
    4. Organisasi SPM tidak bisa dilepaskan dari struktur organisasi PT secara menyeluruh
  16. Manfaat dokumen:
    1. Komunikasi informasi
    2. Bukti fisik
    3. Sumber pengetahuan
  17. Sifat dokumen:
    1. Jelas, memiliki identifier
    2. Berklasifikasi (jelas sifat dan kategorinya)
    3. Mudah ditelusuri (keterkaitannya dengan dokumen lain)
    4. Mudah diakses (ditemukan jika dicari)
    5. Disimpan dengan baik (terekam dengan baik jika bentuknya dokumen elektronik)
    6. Ada penanggung jawabnya
    7. Memuat waktu pembuatan dan atau pemeriksaan
    8. Selalu diperbaharui
    9. Berbentuk cetakan atau media elektronik
    10. Disosialisasikan
  18. Jenis-jenis dokumen:
    1. Dokumen Induk
    2. Dokumen Mutu
  19. Dokumen induk terdiri dari:
    1. Visi dan Misi
    2. Statuta
    3. Organisasi dan Tata Kerja
    4. Rencana Strategis
    5. Program Kerja
    6. Pedoman Pendidikan
  20. Dokumen Mutu terdiri dari:
    1. Manual Mutu
    2. Standar Mutu
    3. Manual Prosedur (SOP):
      1. Instruksi Kerja
      2. Dokumen Pendukung
      3. Borang-borang
      4. Dokumen Audit
  21. Hirarki dokumen mutu: Manual Mutu –> Manual Prosedur / SOP–> Instruksi Kerja
  22. Manual Mutu adalah dokumen yg jadi panduan implementasi manajemen mutu (menjawab pertanyaan WHAT)
  23. Manual Proses (MP) dan SOP adalah dokumen yang berisi urutan proses dari suatu kegiatan yang melibatkan beberapa satuan unit kerja dalam bentuk bagan atau diagram alir (menjawab pertanyaan HOW secara garis besar)
  24. Instruksi kerja adalah urutan instruksi yang diberikan kepada orang lain dengan terperinci agar dapat menjalankan fungsi/tugasnya (memaparkan detail langkah-langkah kerja)