Silaturahim


Aktifitas silaturahim biasanya dikaitkan erat dengan hari raya Idul Fitri, namun sebetulnya silaturahim adalah perintah Allah yang tidak dikhususkan hanya pada hari raya Idul Fitri. Adapun salah satu dalil perintah silaturahim adalah terdapat dalam Al Quran tepatnya pada awal surah An Nisa berikut ini.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا- النساء

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa 1)

Adapun dalil lainnya terdapat dalam hadits shahih berikut ini

 عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “ barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya ( kebaikannya ) maka bersilaturahmilah.

(HR. Bukhari)

Jika orang beramai-ramai melakukan silaturahim pada hari raya Idul Fitri maka ini adalah hal yang baik, mungkin sekalian memanfaatkan momen lebaran di mana sanak saudara berkumpul, sehingga bisa bertemu langsung dan terasa lebih afdhal. Namun demikian hendaknya tidak mengkhususkan hanya pada hari raya Idul Fitri saja, sebab silaturahim tidak harus dengan bertemu langsung. Semoga bermanfaat.


[AD29] Puasa 6 Hari di Bulan Syawal


Mungkin di antara kita ada yang sudah terbiasa mengamalkan puasa 6 hari di bulan Syawal. Alangkah baiknya jika kita juga mengetahui dalilnya, sebab ibadah kan hendaknya dilandasi dengan ilmu, bukan sekedar ikut-ikutan. Berikut ini adalah dalil anjuran puasa 6 hari di bulan Syawal.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat.

[AD28] Suami Membantu Pekerjaan Rumah


Suami-suami yang sering membantu pekerjaan rumah istrinya sebetulnya perlu diapresiasi, bukan malah dicemooh, sebab Rasulullah saw juga mencontohkan yang demikian. Perhatikan saja hadits shahih berikut ini.

وَعَنْ الأسوَد بنِ يَزيدَ قَالَ :

سُئلَتْ عَائِشَةُ رضيَ الله عَنْها : ما كانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصنعُ في بَيْتِهِ ؟ قَالَتْ : كان يَكُون في مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَعَنْي : خِدمَةِ أَهلِه فإِذا حَضَرَتِ الصَّلاة، خَرَجَ إِلى الصَّلاةِ .

رَوَاهُ البُخَارِيّ.

Dari al-Aswad Ibn Yazid, berkata:

Aisyah ra, pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh Nabi saw. di rumahnya? Aisyah menjawab: Beliau Saw. membantu pekerjaan keluarganya. Kemudian jika datang waktu shalat, beliau keluar untuk mengerjakan shalat itu.

(HR Bukhari)

Nah, Rasuullah yang mulia saja membantu pekerjaan rumah. Yang penting untuk diingat, jika tiba waktunya sholat maka tinggalkan dulu pekerjaan rumahnya. Sholat dulu. Setelah itu silahkan jika mau melanjutkan membantu pekerjaan rumah.

Setelah membaca hadits ini apa masih malu bantu-bantu istri di rumah? Semoga tidak ya. Kalau ada yang mengejek karena kita membantu pekerjaan rumah, sampaikan saja hadits ini, palingan tambah diejek karena sok alim, 😀 Ya, biarkan saja mereka mengejek, yang menilai amal perbuatan kita kan Allah, bukan manusia 🙂


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…

[AD27] Sifat Dermawan, Pemaaf dan Tidak Sombong


Dermawan, pemaaf dan tidak sombong. Mungkin sifat-sifat ini sudah sering diajarkan oleh para orangtua, guru dan pendidik di sekeliling kita. Namun sifat-sifat ini jugalah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Berikut ini adalah salah satu hadits shahih riwayat Muslim yang terasa sangat nampol saat pertama kali saya membacanya. Hadits ini juga merupakan dalil untuk anjuran agar kita memiliki sifat dermawan, pemaaf dan tidak sombong.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ.

“Tidak berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambahkan kepada seseorang yang suka memaafkan, melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah melainkan Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Menurut saya hadits ini sangat layak jadi renungan kita semua, khususnya untuk diri saya sendiri. Semoga bermanfaat 🙂


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…

[AD26] Shalat Sunnah Safar


Mudik adalah salah satu tradisi umat muslim di Indonesia saat menjelang Idul Fitri. Pada dasarnya mudik adalah bepergian, atau dalam bahasa arab disebut safar. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk shalat sunnah dua rakaat sebelum meninggalkan rumah agar (insya Allah) dilindungi dari segala kejelekan selama di perjalanan.

Berikut ini adalah dalilnya.

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ

“Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (H.R. Al-Bazzar; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Mari kita amalkan ajaran Rasulullah agar perjalanan mudik kita mendapat perlindungan, dilimpahi keberkahan dan diridhoi oleh Allah swt. Amiiin.

Selamat mudik 🙂


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya.  Amiiin…

[AD25] Kanan Dulu, Baru Kiri


Mendahulukan yang kanan dibanding yang kiri sepertinya sudah diajarkan sejak kita kecil. Misalnya saat memakai sepatu, orangtua kita selalu mengajarkan untuk memakai sepatu yang kanan baru kemudian memakai sepatu yang kiri. Rasulullah saw pun mengajarkan demikian, mendahulukan yang kanan baru kemudian yang kiri. Perhatikan hadits shahih dari ‘Aisyah ra berikut ini.

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap  perkara (yang baik-baik).

HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268

Nah, setelah kita mengetahu dalilnya, mari kita niatkan kebiasaan baik mendahulukan yang kanan dibanding yang kiri adalah untuk mengikuti sunnah Rasul, bukan sekedar sebagai kebiasaan baik yang diajarkan oleh orangtua kita. Dengan demikian insya Allah kebiasaan baik ini akan bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Semoga bermanfaat.


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…

[AD24] Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi


Hari ini saya penasaran dengan doa yang sudah sering dibaca tetapi saya tidak tau dalilnya. Doa ini sudah saya hafal sejak kecil, tapi setelah setua ini baru tertarik ingin mencari tau apa dalilnya, hihihi…. Baiklah, ini dia hadits dari Anas bin Malik yang menjadi dalil untuk doa sebelum masuk ke kamar mandi.,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)”

HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375

dan berikut ini adalah hadits dari Aisyah ra yang menjadi dalil untuk doa setelah keluar dari kamar mandi.

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu)

HR. Abu Daud no. 30, At Tirmidzi no. 7, Ibnu Majah no. 300, Ad Darimi no. 680. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Oke, tampaknya lagi-lagi saya harus berlindung di balik kalimat better late than never 😥


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…