Kenapa Saya Tega Menelantarkan Blog Ini Sepanjang 2015


neglected

Blog ini  sudah saya mulai sejak 2006, awalnya dihosting di blogspot, lalu migrasi ke wordpress. Lihat saja konten dan gaya bahasanya yang berevolusi dari 2006 sampai 2016. Mulai dari kata ganti “aku” yang lambat laun berubah menjadi “saya” sampai evolusi curcol-curcol penuh emosi jiwa yang ekspresif yang lambat laun saya coba asah, perhalus menjadi bentuk kalimat-kalimat sok elegan yang kadang abstrak dan sulit dipahami, hahahaha…. The point is this blog means that much for me 🙂

Sayangnya tahun 2015 yang lalu mungkin adalah tahun yang paling gak produktif buat saya untuk urusan nge-blog, tercatat hanya ada 9 posting saja sepanjang 2015. Bukaaaaan… saya bukan mau curcol tentang betapa kurang realistisnya target dari pihak kampus untuk ngeblog 15 posting per bulan di blog kampus. Itu lain cerita lagi, saya tetep berusaha mencari sisi positif dari target itu dan sebagai warga kampus yang baik tetap berusaha sebaik mungkin untuk mencapainya. I believe when there is enough will, then there is a way, though it’s still quite hard for me to grow the tiniest bit of fondness for that policy.

Saya adalah orang yang senang menuliskan apa yang ada di pikiran/perasaan saya, mulai jaman jurnal harian (yang ditulis di buku dan dikunci di lemari semasa SMU) sampai jaman elektronik kayak sekarang. Sampai-sampai saya menganggap menuliskan isi pikiran/perasaan adalah sarana untuk menjaga kesehatan jiwa saya 😀 Seiring saya beranjak dewasa tua saya pun mulai belajar sedikit demi sedikit tentang hal-hal apa saja yang masih bisa ditoleransi untuk dipublish di blog, mana yang harus dipoles dan mana yang harus jauh-jauh dari halaman blog. Jadi belajar tarik ulur antara kebutuhan curhat vs etika public whining writing. Intinya sih saya berusaha mikir dulu sebelum nulis.

Tuh kan, lama gak nge-blog membuat saya jadi ngelantur ke mana-mana gini, sebenernya yang saya mau sampaikan di awal kan alasan kenapa saya tega menelantarkan blog yang saya sudah “pelihara” selama 10 tahun terakhir ini.

Well, kalau ada yang tanya kenapa saya tega menelantarkannya sepanjang 2015? Saya akan jawab “mungkin karena sepanjang 2015, pikiran dan perasaan saya cenderung mendorong saya untuk berkeluh kesah, dan saya MALU mengisi blog saya ini dengan keluh kesah bak anak usia belasan tahun padahal usia saya yang saat itu mulai masuk kepala tiga. Buat apa? lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, so I decided to refrain myself from writing whining on public domain no matter how often the urge comes

Jadi tahun 2016 ini mulai nge-blog lagi karena udah ada konten yang lebih positif dan bebas keluh kesah? Well, let’s see…. I really hope so, but if you ask me then yes, I feel much better in 2016 🙂

“Barang Mewah”


Kenapa sebuah barang disebut mewah? Karena gak semua orang bisa mendapatkannya, karena ia langka, dan kalaupun ada yang jual mungkin harganya akan sangat mahal, bahkan mungkin gak ada yang jual karena harganya tak ternilai.

Hidup tenteram, bebas dari utang dan ancaman, menikmati apa yang dikerjakan sehari-hari, merasa cukup dengan yg sudah dipunyai, tidak terusik dengan komentar orang lain dan tenteram lahir batin karena gak waswas sama dosa, itulah “barang mewah” yang sesungguhnya.

Coba jujur, berapa dari kita yang sudah punya”barang mewah” semacam itu?

#lagikesambet

Dilema Ngoreksi Ujian


Saya termasuk dosen yang menghafal nama-nama dan wajah-wajah mahasiswa saya, serta memperhatikan kemampuan mereka saat latihan soal di kelas. Saya juga rajin ngasih quiz sebelum ujian dan mengoreksinya lalu membagikannya sebelum ujian. Saya kerap berkeliling terus-terusan untuk memastikan mereka gak nyontek saat quiz atau ujian. Jadi berdasarkan nilai-nilai quiz dan pengamatan selama latihan di kelas saya merasa cukup tau kemampuan masing-masing mahasiswa saya.

Akibatnya, saat sedang ngoreksi berkas ujian seperti ini, sebagai dosen saya menemui dua hal yang dilematis:

  1. Nemu berkas ujian milik mahasiswa yang pas latihan dan quiz pinter tapi jawaban ujiannya salah karena dia kurang teliti. Beraaaat rasanya nyalahin jawabannya, tapi memang harus disalahin
  2. Nemu berkas ujian milik mahasiswa ghoib yang jarang kuliah, muncul hanya saat quiz dan ujian, nilai quiznya pun ancur tapi pas ujian malah jawabannya bener. Susah untuk ngikhlasin nilai ujian yang bagus tapi memang dia berhak, toh jawabannya bener

Nah, dilematis kan? Tapi saya mesti objektif. Nilai sesuai dengan hasil yang dikerjakan. Mungkin semester depan saat ngawas ujian saya harus lebih waspada lagi, hehehe….

Seolah Satu Gak Cukup


Seolah blog yang satu ini gak cukup terlantar, saya akhirnya nambah satu blog lagi 😦

Bukan kemauan saya sebetulnya, blog baru ini adalah blog resmi dari kampus, dan di kampus saya ada aturan baru bahwa setiap dosen harus nge-blog di domain kampus, dengan jumlah minimal 15 postingan setiap bulannya (what?! saya udah nge-blog sejak 2006 dan percayalah, nulis posting yg original, layak dibaca dan bermanfaat dua hari sekali itu gak gampang).

Ok I’ve made myself clear that I’m not very fond of this new rule, tapi yaaaa mau gimana lagi, sebagai warga kampus mau gak mau saya harus ikut aturan main di kampus. Alhasil saya punya satu blog lagi dengan alamat wahyuhidayat.staff.telkomuniversity.ac.id. Blog baru saya bisa dikunjungi dengan mengklik menu Blog “Serius” di Kampus di atas atau meng-klik link dengan nama yang sama di sidebar widget.

Berhubung saya orang yang gak suka punya lebih dari 1 barang untuk fungsi yang sama, maka saya membuat 2 aturan untuk diri saya sendiri untuk membedakan antara blog ini dengan blog saya di domain kampus:

  1. Blog ini sesuai fungsinya (untuk menjaga kesehatan jiwa si penulis) akan tetap memuat curcol-curcol yang terkadang abstrak, tapi blog kampus harus bebas curcol, at least bebas dari obvious curcol, terutama curcol tentang kelakuan mahasiswa-mahasiswa saya di kampus, makanya saya sebut blog “serius” 🙂
  2. Posting di blog ini saya tulis dalam bahasa Indonesia, sedangkan posting di blog kampus saya tulis dalam bahasa Inggris (alibi nya sih biar sekalian latihan writing buat persiapan IELTS :D)

Honestly, for practical and emotional reason, saya masih menganggap bahwa blog ini adalah blog utama saya. Blog di domain kampus ibarat side dish yang melengkapi kenikmatan menyantap main course, sekedar pelengkap, pemanis, barang komplimenter, bukan barang substitusi. Oke stop! tampaknya saya mulai ngawur 😀

Tugas Membuat Poster


Dulu waktu saya kuliah, kalau ada tugas membuat perangkat lunak biasanya selalu ditambah dengan tugas membuat laporan/dokumentasinya. Tugas membuat perangkat lunak yang selain juga dilengkapi dengan tugas membuat poster sangat jarang saya temui, seingat saya hanya sekali, itupun waktu kuliah S2 tahun 2009, contohnya seperti pada gambar di bawah ini:

poster biro jodoh McTjomblang - Wahyu Hidayat 23508308.JPG

Sebetulnya tugas membuat poster ini memang punya beberapa manfaat:

  1. Melatih mahasiswa mendeskripsikan secara singkat produk yang dibuatnya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam
  2. Melatih mahasiswa memasarkan produk yang dibuatnya
  3. Menyeimbangkan kerja otak kanan dan otak kiri

Hmmm… pikir-pikir sepertinya boleh juga mulai semester depan saya ikut memberi tugas pembuatan poster dalam setiap tugas membuat perangkat lunak, jadi output tugasnya ada tiga: software, laporan dan posternya 😀

Menulis Positif & Menulis Elegan


Menulis di blog itu gak mudah. Selain sulit istiqomah untuk terus menulis, ternyata lebih sulit lagi menjaga konten tulisan agar tetap positif.

Kadang saya merasa dorongan untuk menulis muncul begitu kuat saat ada unek-unek (“kebelet curcol” istilahnya). Seperti halnya media sosial yang lain, blog memang sarana curcol yang sangat menggiurkan. Memang sih gak ada yang salah dengan curcol di blog, tapi kalau tidak mampu mengendalikan diri, salah-salah bisa merugikan diri sendiri, bisa dituduh menggiring opini negatif, dituduh menebar kebencian, dituduh pencemaran nama baik, atau minimal dituding emosi labil. Peribahasa “mulutmu harimaumu” mungkin sekarang bisa diperluas jadi “posting/status/tweet-mu harimaumu”. Intinya kita harus sebisa mungkin meredam keinginan untuk berkeluh kesah atau marah-marah di media sosial, karena sebagian besar keluh kesah dan amarah kita mungkin gak akan berguna buat orang lain yang membacanya. Kalaupun akhirnya dengan alibi “demi mempertahankan kesehatan jiwa” lantas kita ingin protes dan merasa hal itu layak diketahui publik melalui media sosial, maka kita harus bisa menuliskannya dengan bahasa yang tetap santun, intelek, diplomatis, objektif dan seterusnya dan seterusnya. Kalau harus saya rangkum semuanya, kita harus bisa menuliskannya dengan “elegan” 🙂

Susah kan? 😀

Semoga blog ini dipenuhi dengan tulisan yang positif, atau minimal tulisan yang elegan. Yang lalu biarlah berlalu, yang penting setelah ini sebisa mungkin hanya menulis yang positif, atau [kalo udah ga tahan lagi] minimal menulis yang elegan 😀