Konsumsi Sidang PA Berlebih


Setiap nguji sidang Proyek Akhir (PA) dosen selalu dapet sekotak snack yg disediakan oleh Layanan Akademik untuk konsumsi. Masalahnya, berhubung sedang musim sidang PA, dalam sehari saya bisa nguji lebih dari 1 kali, malah pernah sampe 4 kali nguji sehari. Kalo saya makan sendiri 4 dus, maka makin melar lah saya, hehehe…
Di sisi lain, mahasiswanya malah gak dapet konsumsi, kasihan kan. Ya sudah, dus ke dua, ke tiga dan seterusnya untuk mahasiswa yg saya uji aja 🙂

Ada yg mau saya uji PA nya? Lumayan lho dapet snack (dan revisi) gratis 😀

Setting Smartphone Selama Ramadhan


Ramadhan sudah dekat, insya Allah tinggal dalam hitungan jam lagi, semoga Allah masih memperkenankan kita semua beserta keluarga berjumpa dengan Ramadhan, dan yang lebih penting lagi mengoptimalkan Ramadhan yang akan segera datang ini. Aamiiin.

Menyambut Ramadhan, ada sedikit perubahan setting pada smartphone saya, ringkasnya sih cuma dua perubahan: more alarm and less notification.

Yang pertama sih standar lah ya, nambah alarm untuk bangun sahur, plus mungkin beberapa alarm lain untuk event/aktivitas yang lain. Yang kedua memang baru tahun ini saya mau coba, yaitu ngurangi notifikasi. Beberapa grup di wa dan line saya mute selama ramadhan. Bukan apa-apa sih, biar lebih khusyu’ aja, meminimalisir distraction 😀 sok-sok an banget ya? Tapi gapapa lah, insya Allah niatnya baik, bukan bermaksud memutus silaturahim. Mute juga hanya untuk beberapa grup yang sering bikin saya overwhelmed dengan ratusan bahkan ribuan notif per hari, yang sangat-sangat menggoda sekali untuk dibaca satu-satu (atau minimal di-scan alias dibaca cepat). Nah, berhubung godaannya terlalu kuat dan saya juga gak mau left group jadi jalan tengahnya mute aja dulu 🙂 Oiya, satu lagi, saya juga uninstall game online favorit saya (sayang padahal udah level 94 tapi game ini kayaknya menyita waktu saya, jadi uninstall aja lah).

Nah, berhubung insya Allah sebentar lagi mau masuk Ramadhan maka saya mengucapkan:

1a504ae5-2840-48cc-8602-d8497074c611.jpg

sumber gambar: grup wa sebelah 😀

Menulis Positif & Menulis Elegan


Menulis di blog itu gak mudah. Selain sulit istiqomah untuk terus menulis, ternyata lebih sulit lagi menjaga konten tulisan agar tetap positif.

Kadang saya merasa dorongan untuk menulis muncul begitu kuat saat ada unek-unek (“kebelet curcol” istilahnya). Seperti halnya media sosial yang lain, blog memang sarana curcol yang sangat menggiurkan. Memang sih gak ada yang salah dengan curcol di blog, tapi kalau tidak mampu mengendalikan diri, salah-salah bisa merugikan diri sendiri, bisa dituduh menggiring opini negatif, dituduh menebar kebencian, dituduh pencemaran nama baik, atau minimal dituding emosi labil. Peribahasa “mulutmu harimaumu” mungkin sekarang bisa diperluas jadi “posting/status/tweet-mu harimaumu”. Intinya kita harus sebisa mungkin meredam keinginan untuk berkeluh kesah atau marah-marah di media sosial, karena sebagian besar keluh kesah dan amarah kita mungkin gak akan berguna buat orang lain yang membacanya. Kalaupun akhirnya dengan alibi “demi mempertahankan kesehatan jiwa” lantas kita ingin protes dan merasa hal itu layak diketahui publik melalui media sosial, maka kita harus bisa menuliskannya dengan bahasa yang tetap santun, intelek, diplomatis, objektif dan seterusnya dan seterusnya. Kalau harus saya rangkum semuanya, kita harus bisa menuliskannya dengan “elegan” 🙂

Susah kan? 😀

Semoga blog ini dipenuhi dengan tulisan yang positif, atau minimal tulisan yang elegan. Yang lalu biarlah berlalu, yang penting setelah ini sebisa mungkin hanya menulis yang positif, atau [kalo udah ga tahan lagi] minimal menulis yang elegan 😀

Silaturahim


Aktifitas silaturahim biasanya dikaitkan erat dengan hari raya Idul Fitri, namun sebetulnya silaturahim adalah perintah Allah yang tidak dikhususkan hanya pada hari raya Idul Fitri. Adapun salah satu dalil perintah silaturahim adalah terdapat dalam Al Quran tepatnya pada awal surah An Nisa berikut ini.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا- النساء

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa 1)

Adapun dalil lainnya terdapat dalam hadits shahih berikut ini

 عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “ barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya ( kebaikannya ) maka bersilaturahmilah.

(HR. Bukhari)

Jika orang beramai-ramai melakukan silaturahim pada hari raya Idul Fitri maka ini adalah hal yang baik, mungkin sekalian memanfaatkan momen lebaran di mana sanak saudara berkumpul, sehingga bisa bertemu langsung dan terasa lebih afdhal. Namun demikian hendaknya tidak mengkhususkan hanya pada hari raya Idul Fitri saja, sebab silaturahim tidak harus dengan bertemu langsung. Semoga bermanfaat.


[AD29] Puasa 6 Hari di Bulan Syawal


Mungkin di antara kita ada yang sudah terbiasa mengamalkan puasa 6 hari di bulan Syawal. Alangkah baiknya jika kita juga mengetahui dalilnya, sebab ibadah kan hendaknya dilandasi dengan ilmu, bukan sekedar ikut-ikutan. Berikut ini adalah dalil anjuran puasa 6 hari di bulan Syawal.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat.

[AD28] Suami Membantu Pekerjaan Rumah


Suami-suami yang sering membantu pekerjaan rumah istrinya sebetulnya perlu diapresiasi, bukan malah dicemooh, sebab Rasulullah saw juga mencontohkan yang demikian. Perhatikan saja hadits shahih berikut ini.

وَعَنْ الأسوَد بنِ يَزيدَ قَالَ :

سُئلَتْ عَائِشَةُ رضيَ الله عَنْها : ما كانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصنعُ في بَيْتِهِ ؟ قَالَتْ : كان يَكُون في مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَعَنْي : خِدمَةِ أَهلِه فإِذا حَضَرَتِ الصَّلاة، خَرَجَ إِلى الصَّلاةِ .

رَوَاهُ البُخَارِيّ.

Dari al-Aswad Ibn Yazid, berkata:

Aisyah ra, pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh Nabi saw. di rumahnya? Aisyah menjawab: Beliau Saw. membantu pekerjaan keluarganya. Kemudian jika datang waktu shalat, beliau keluar untuk mengerjakan shalat itu.

(HR Bukhari)

Nah, Rasuullah yang mulia saja membantu pekerjaan rumah. Yang penting untuk diingat, jika tiba waktunya sholat maka tinggalkan dulu pekerjaan rumahnya. Sholat dulu. Setelah itu silahkan jika mau melanjutkan membantu pekerjaan rumah.

Setelah membaca hadits ini apa masih malu bantu-bantu istri di rumah? Semoga tidak ya. Kalau ada yang mengejek karena kita membantu pekerjaan rumah, sampaikan saja hadits ini, palingan tambah diejek karena sok alim, 😀 Ya, biarkan saja mereka mengejek, yang menilai amal perbuatan kita kan Allah, bukan manusia 🙂


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…

[AD27] Sifat Dermawan, Pemaaf dan Tidak Sombong


Dermawan, pemaaf dan tidak sombong. Mungkin sifat-sifat ini sudah sering diajarkan oleh para orangtua, guru dan pendidik di sekeliling kita. Namun sifat-sifat ini jugalah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Berikut ini adalah salah satu hadits shahih riwayat Muslim yang terasa sangat nampol saat pertama kali saya membacanya. Hadits ini juga merupakan dalil untuk anjuran agar kita memiliki sifat dermawan, pemaaf dan tidak sombong.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ.

“Tidak berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambahkan kepada seseorang yang suka memaafkan, melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah melainkan Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Menurut saya hadits ini sangat layak jadi renungan kita semua, khususnya untuk diri saya sendiri. Semoga bermanfaat 🙂


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…