Bimbingan PA vs Beli Baju Lebaran


21136801

Perilaku mahasiswa saat Bimbingan Proyek Akhir (PA) kayaknya makin mirip sama perilaku konsumen saat beli baju lebaran. Makin deket dengan deadline, makin rame. Kalo gak berbondong-bondong MULAI bimbingan 3-4 hari sebelum tanggal akhir pedaftaran sidang kayaknya kurang greget. Mirip kan dengan beli baju lebaran? makin deket lebaran, pusat-pusat perbelanjaan makin rame. Makin deket deadline sidang PA, antrian bimbingan  PA makin rame.

Perhatiin deh, banyak wajah-wajah baru di pusat perbelanjaan menjelang lebaran. Sama juga dengan di ruang dosen, banyak wajah-wajah baru. Mahasiswa-mahasiswa langka dan terancam punah yang setelah berbulan-bulan menghilang ga pernah bimbingan, nah menjelang batas akhir pedaftaran sidang gini mendadak muncul semuanya. Ya, kayak kamu itu, iya bener… kamu! Gak usah tengok kanan kiri, yang saya maksud memang kamu kok.

Kemaren-kemaren ke mana aja bro? Toko-toko baju kan udah buka dari dulu, bukan cuma 10 hari terakhir bulan ramadhan doang. Nah, saya dan dosen-dosen lain juga kan buka jadwal bimbingan sepanjang semester ini, bukan cuma bulan juni doang.

Kenapa mesti sekarang? Kenapa?!! Kenapppaaaaaaaa????!!!!! Aaaaargghhhh!

sumber gambar: http:\\www.memegenerator.net
CATATAN:
"Oi Maneh! Kamana Wae?" di gambar adalah kalimat bahasa Sunda 
yang artinya kurang lebih "Hei kamu! Ke mana aja??"
artikel serupa dalam bahasa Inggris juga diposting di homepage kampus
Iklan

5 Do’s and Dont’s – Bimbingan PA


dos-and-donts.gif

Buat mahasiswa yang lagi ngerjain Proyek Akhir (PA) kayaknya penting banget baca posting saya kali ini, apalagi mahasiswa itu kuliah di Telkom University dan salah satu pembimbing PA nya ternyata dosen muda berbakat dengan kode dosen WHY, hukumnya fardhu ‘ain harus baca! 😀

Nah, posting kali ini adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan (Do’s) dan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan (Don’ts) terkait dengan proses bimbingan dan konsultasi Proyek Akhir

Okay, kita mulai:

  1. DO: Bimbingan di jadwal yang telah disepakati bersama
    DON’T: Tiba-tiba muncul di ruang dosen di luar jadwal lalu minta bimbingan, maksa lagi

    Beberapa dosen (dan mungkin hampir semuanya) sudah cukup sulit membagi waktu antara tugas-tugas dosen (yes, we do have assignments too). Jadi mahasiswa yang datang gak diundang bak jelangkung di tengah-tengah kesibukan dosen yang sedang mengerjakan tugas yang lain memang cukup annoying (a.k.a menyebalkan), mungkin sama menyebalkannya dengan dosen yang tiba-tiba datang ke kosan mahasiswa lalu ngasih tugas, padahal si mahasiswa baru mau hang-out dengan temen-temennya ke mall.

  2. DO: Bimbingan dengan rutin, biar pembimbing yang menentukan kapan sidang
    DON’T
    : Gak muncul bimbingan berbulan-bulan lalu mendadak minta sidang

    Ini sebenernya peringkat 1 penyebab kemurkaan dosen pembimbing. Reaksi dosen terhadap mahasiswa yang mendadak minta sidang padahal udah lama gak bimbingan bermacam-macam. Ada yang pura-pura bego dan ngajak kenalan lagi mahasiswanya, ada yang menegur dengan nada oktaf tertinggi sampe kedengeran oleh dosen-dosen lain, ada juga yang sekedar mengelus dada sambil istighfar berkali-kali. Hati-hati dengan dosen berkode WHY, mungkin dia kelihatan oke-oke saja, tapi bisa jadi pas waktunya sidang PA nanti, WHY akan berubah peran dari Pembimbing 1 menjadi Penguji 3 (yang lebih ganas daripada penguji 1 dan 2). Minimal dia akan diam seribu bahasa, mengulum senyum menikmati saat-saat mahasiswanya dibombardir pertanyaan penguji yang bertubi-tubi lalu saat sidang tertutup membisikkan ke penguji “kalau dia gak lulus, saya sebagai Pembimbingnya ikhlas kok pak, bu…”

  3. DO: Mengucapkan salam, memberikan ucapan selamat atau berbela sungkawa
    DON’T: Memberikan oleh-oleh, hadiah, seserahan, sesajen dan sejenisnya sebelum selesai revisi

    Dosen juga manusia, adakalanya dia mendapat anugerah dan adakalanya dia mendapat musibah. Mengucapkan salam, memberikan selamat atau belasungkawa adalah suatu hal yang wajar sebagai bentuk perhatian yang tulus. Tapi hindari pemberian berupa materi, baik dalam bentuk barang apalagi uang. Demi menghormati dosen dan menghormati diri sendiri, hindari bentuk perhatian yang berlebih kepada dosen. Beberapa dosen merasa risih dengan pemberian dari mahasiswa jika itu dilakukan saat nilai belum ditetapkan, hampir semua dosen akan tersinggung dengan pemberian berupa uang. Sebaiknya jika memang sangat ingin memberikan hadiah ucapan terima kasih kepada dosen, jangan berikan uang! pilih barang yang fungsional dan harganya terjangkau oleh kantong mahasiswa. Yang paling penting, tunda sampai revisi selesai, sampai nilai sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Sebetulnya ucapan terima kasih yang tulus dari mahasiswa yang sukses dan masih ingat sama dosennya sudah jauh lebih dari cukup.

  4. DO: Tetap datang bimbingan di jadwal rutin walaupun belum ada progress
    DON’T: Bolos bimbingan, tanpa mengabari dosen

    Walaupun belum ada progress, sangat baik sekali datang untuk berkonsultasi seputar kendala-kendala yang sedang ditemui, siapa tau dosennya punya solusi. Kalau sudah pesimis atau yakin dosennya pelit solusi, minimal mahasiswa wajib mengabari dosen bahwa hari itu dia tidak akan hadir bimbingan. Coba bayangkan, lebih nyebelin mana dosen yang mengabari bahwa kuliah dibatalkan semalam sebelumnya atau dosen yang setelah ditungguin lama-lama ternyata dia gak datang ngajar, kuliahnya pagi buta pula? Jangan biarkan dosen menunggu! apalagi tanpa kabar dan berita, kecuali kalau mahasiswa siap menanggung murka dosen di bimbingan berikutnya. Ingat, cepat atau lambat mahasiswa harus menemui dosen pembimbingnya kalau ingin lulus.

  5. DO: Berpakaian sopan, tidak dandan berlebih atau merokok sebelum bimbingan
    DON’T: Datang bimbingan dengan berpakaian aneh, dandan menor, bau rokok

    Well, ini mungkin gak berlaku buat semua dosen, tapi saya sungguh merasa terganggu dengan mahasiswa yang masuk ke ruangan saya yang kecil dengan mulut bau rokok atau dengan dandanan menor. Apalagi kalau yang menor ternyata mahasiswa dan yang bau rokok ternyata mahasiswi, big no!

Semoga bermanfaat.

sumber gambar: www.yorksolutions.net

 

Maaf, Anda Terpaksa Saya Un-friend


Saya punya akun di facebook seperti orang kebanyakan. Beberapa friend saya di jejaring sosial facebook adalah mahasiswa atau pernah jadi mahasiswa saya. Saya senang menjadi silent reader, mengikuti kabar-kabar baik dari mereka melalui facebook, ada yang sudah bekerja, berkeluarga dan bahkan melanjutkan studi ke luar negeri, senang melihatnya. Biasanya saya gak pilih-pilih, kalau ada yang mengajukan friend request, ya saya approve, selama saya kenal dengan orangnya.

Tapi hari ini dengan sedih saya terpaksa meng-unfriend salah satu alumni (eh, saya kurang yakin, dia lulus atau drop out, saya bener-bener lupa) eks mahasiswa saya, gara-gara dia meng-update profile picturenya jadi seperti ini:

unfriend

Tentu saja saya ga sekedar unfriend, saya juga sudah kirim message ke dia yg isinya tentang keberatan saya dengan profile picturenya, dan saya juga report fotonya untuk di-review oleh facebook. Lebay ya? Tapi saya ngerasa this is the right thing to do, saya gak sanggup hanya berdiam saja. Kenapa sampe harus di-unfriend? Entahlah, saya ngerasa foto itu sangat disturbing, dan pilihan unfriend terlintas begitu saja di kepala saya dan mendapat persetujuan 100% dari hati saya, so I did it, I unfriend him.

Well dear [ex] student, if you’re so proud about that thing you do on that picture, then I am not proud to have you as my student. I don’t wanna see more disturbing picture from you, so I am sorry that I had to unfriend you. Yes I know I am no better than you, I just can’t stand the picture. I’m so so sorry… I hope, after this you’ll become a better person.

Dilema Ngoreksi Ujian


Saya termasuk dosen yang menghafal nama-nama dan wajah-wajah mahasiswa saya, serta memperhatikan kemampuan mereka saat latihan soal di kelas. Saya juga rajin ngasih quiz sebelum ujian dan mengoreksinya lalu membagikannya sebelum ujian. Saya kerap berkeliling terus-terusan untuk memastikan mereka gak nyontek saat quiz atau ujian. Jadi berdasarkan nilai-nilai quiz dan pengamatan selama latihan di kelas saya merasa cukup tau kemampuan masing-masing mahasiswa saya.

Akibatnya, saat sedang ngoreksi berkas ujian seperti ini, sebagai dosen saya menemui dua hal yang dilematis:

  1. Nemu berkas ujian milik mahasiswa yang pas latihan dan quiz pinter tapi jawaban ujiannya salah karena dia kurang teliti. Beraaaat rasanya nyalahin jawabannya, tapi memang harus disalahin
  2. Nemu berkas ujian milik mahasiswa ghoib yang jarang kuliah, muncul hanya saat quiz dan ujian, nilai quiznya pun ancur tapi pas ujian malah jawabannya bener. Susah untuk ngikhlasin nilai ujian yang bagus tapi memang dia berhak, toh jawabannya bener

Nah, dilematis kan? Tapi saya mesti objektif. Nilai sesuai dengan hasil yang dikerjakan. Mungkin semester depan saat ngawas ujian saya harus lebih waspada lagi, hehehe….

Tugas Membuat Poster


Dulu waktu saya kuliah, kalau ada tugas membuat perangkat lunak biasanya selalu ditambah dengan tugas membuat laporan/dokumentasinya. Tugas membuat perangkat lunak yang selain juga dilengkapi dengan tugas membuat poster sangat jarang saya temui, seingat saya hanya sekali, itupun waktu kuliah S2 tahun 2009, contohnya seperti pada gambar di bawah ini:

poster biro jodoh McTjomblang - Wahyu Hidayat 23508308.JPG

Sebetulnya tugas membuat poster ini memang punya beberapa manfaat:

  1. Melatih mahasiswa mendeskripsikan secara singkat produk yang dibuatnya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam
  2. Melatih mahasiswa memasarkan produk yang dibuatnya
  3. Menyeimbangkan kerja otak kanan dan otak kiri

Hmmm… pikir-pikir sepertinya boleh juga mulai semester depan saya ikut memberi tugas pembuatan poster dalam setiap tugas membuat perangkat lunak, jadi output tugasnya ada tiga: software, laporan dan posternya 😀

Jam Buka Facebook


Belum juga nyampe kampus, pagi-pagi salah satu rekan sesama dosen wali sudah nanya di grup dosen wali di whatsapp

“[Nama disamarkan] anak wali siapa ya? Pangnyarekankeun! Konfirmasi KP jam 3 subuh!”

Deg! ybs ternyata anak wali saya, kena deh. Sebagai dosen walinya saya sudah ngalamin sendiri sih jadi korban problem etika ybs, tapi kali ini korbannya dosen lain.

Jadi untuk menghadapi generasi muda yg mengira kalo dosennya selalu open 24/7 solusinya apa nih? Ada dua pilihan sih:

  1. Dosen wali ga boleh punya akun facebook 😥
  2. Usulkan agar facebook cuma bisa diakses setiap senin sampai jumat jam 09.00 sampai 17.00 😀

Emangnya facebook punya jam kantor? Wkwkw….

sumber gambar: klikin.eu
pangnyarekankeun = tolong dimarahi

Menuju Dosen yang Lebih Baik


Image

Saya ingin menjadi dosen yang lebih baik.
Kalau ditanya lebih baik dari apa?
Saya jawab ” lebih baik dari yang sekarang”.

Trus gimana caranya?

  1. Ingin lebih banyak menghasilkan karya ilmiah. So far saya baru menulis di prosiding nasional, itupun jumahnya masih bisa dihitung jari. Target pribadi saya: tahun 2014 ini sudah menulis 1 artikel di jurnal internasional! Amiiiin…
  2. Ingin menulis buku ber-ISBN. Sedih sekali beberapa waktu lalu saya melewatkan program Hibah Buku Ajar yang diselenggarakan oleh kampus tempat saya mengajar. Pokoknya kalau tahun depan program itu diadakan lagi saya akan ikut! Amiiin…
  3. Ingin menawarkan lebih banyak judul PA. Dua tahun terakhir ini memang sudah saya lakukan, tapi masih kurang. Tahun ini saya menawarkan hanya 6 judul saja, itupun yang diambil oleh mahasiswa hanya 5 judul (judul yang saya tawarkan saya terlalu sulit kata mereka, ouch) untuk tahun ajaran baru yang akan datang bulan Agustus nanti, saya menargetkan 50% mahasiswa bimbingan saya harus mendapatkan judul PAnya dari saya. Karena kuota membimbing saya adalah 15 orang, maka saya harus menyiapkan ide untuk 8 judul PA. Good luck with that Wahyu, hahaha… emang berat sih nyari ide sebanyak itu tapi pokoknya amiiiiin….
  4. Ingin mengajak mahasiswa saya ikut mempublikasikan karya ilmiah. Ini misi baru, setelah tahun ini saya menemukan mahasiswa-mahasiswa yang sangat berbakat maka saya rasa sayang sekali kalau PA mereka hanya jadi buku yang nanti teronggok di perpustakaan. Saya ingin mempublikasikannya bersama mereka. Target saya tahun 2014 ini mengajak salah satu mahasiswa saya mempublikasikan PA nya di prosiding nasional, dan saya sudah temukan kandidatnya dari salah satu mahasiswa bimbingan saya semester ini, tinggal cari event nya. Semoga semua lancar, amiiiin….
  5. Ingin merencanakan dan memonitor PA mahasiswa dengan lebih terstruktur dan ketat. Semester lalu saya baru menentapkan milestone-milestone pengerjaan PA untuk mahasiswa bimbingan saya; tanggal sekian harus sudah beres ini, tangal sekian harus sudah beres itu, dan seterusnya. Baru sebatas pengarahan lisan sih, tapi efek positif yang sudah saya rasakan adalah mereka jadi lebih disiplin bimbingan dan lebih cepat menyelesaikan PA dibanding kakak-kakak kelasnya yang saya bebaskan saja kapan mau menyelesaikan apa. Untuk tahun ajaran baru nanti saya ingin memonitornya dengan lebih ketat dan terdokumentasi denga baik. Target saya adalah semua mahasiswa bimbingan saya nanti akan punya semacam log book yang berisi catatan bimbingan dan milestone-milestone yang harus dilalui agar mereka bisa lulus tepat waktu. Amiiin….

Wah postingan ini malah jadi mirip doa ya? semoga terkabul. Amiiin 🙂