“Barang Mewah”


Kenapa sebuah barang disebut mewah? Karena gak semua orang bisa mendapatkannya, karena ia langka, dan kalaupun ada yang jual mungkin harganya akan sangat mahal, bahkan mungkin gak ada yang jual karena harganya tak ternilai.

Hidup tenteram, bebas dari utang dan ancaman, menikmati apa yang dikerjakan sehari-hari, merasa cukup dengan yg sudah dipunyai, tidak terusik dengan komentar orang lain dan tenteram lahir batin karena gak waswas sama dosa, itulah “barang mewah” yang sesungguhnya.

Coba jujur, berapa dari kita yang sudah punya”barang mewah” semacam itu?

#lagikesambet

Unaffordable Solution


unaffordable

You have too many things to do but only a pair of hands? Get help, delegate!
You get bored doing same things over and over again? Take a vacation! Do something new!
You have frictions with colleagues? well, just talk about it, work it!

Every problem at work has its solution, or at least I used to think that way.

Until I lost belief that what I’m doing is for a good cause, that they’re for the sake of many.

Can’t find solution for that, yet. Well, maybe I did found it, just can’t afford to take it right now.

Waste of Time and Energy [Derita Melankolis]


This morning, I just found a new short description of myself:

I spent a lot of time and energy to think [or feel] about a lot of things. But most of the time, I spent a whole lot more energy to keep those thoughts [or feelings] for myself, probably hurting myself in the process. Still, most people think that I’m an outspoken person who says everything on his head.

So, maybe I waste way too much time and energy to unsuccessfully made myself understood by others.

Well I just don’t know what emoticon I should use regarding this matter, cos I just can’t figure out what I feel about this, yet. Maybe I shouldn’t try to find it out, I’ll end up wasting way too much time and energy in the process, hahaha…

Tujhe Yaad Na Meri Aayee


Bukaaaan… saya bukan sedang galau, sedang mendung atau sejenisnya seperti yang dituduhkan oleh anak pungut saya, kisanak Maya Punjabi aka Enjelwati. Well, kadang saya memang suka curcol terselubung lewat lagu2 yg saya posting, but this is not the case 🙂 Perasaan dan mood saya sedang baik2 saja saat ini. Saya cuma sedang suka sekali sama lagu ini. Entah kenapa tadi malam pas lagi suntuk banget dan nyaris putus asa menghadapi query-query si Neng yang njlimet, saya jalan-jalan ke Youtube dan nemu lagu ini. Alhasil semalaman (sampe sekarang juga masih) saya denger lagu ini terus, hahahaha….

Saya ingat betul lagu ini, dari film Kuch-Kuch Hota Hai, satu-satunya film boliwut yg saya tonton berulang-ulang dan dulu pas pertama nonton sampe nangis 😆 maklum masih ababil, kelas berapa SMP apa SMU dulu ya? Saya juga sudah lupa. Nangis nya pas lagu ini, pas adegan yg ada di video klip di atas. Pokoknya terharu biru gitu lah, halah mule deh lebay… 😛

Eh tapi lagunya emang enak di dengar lho, coba aja dengerin sendiri. Efek samping yang mungkin terjadi setelah denger lagu ini: Baca lebih lanjut

Dan Jamilah pun Protes


Dialog antara saya (W) dan si Jamilah(J):

J: “Say, aku mau protes…” -dengan tampang cemberut-

W: “Ada apa hunnie? sini kita ngobrol yuk…”

J: “Kamu ga adil deh, kamu udah ga sayang aku lagi ya?”

W: “Aku sayang kamu kok, maksudnya ga adil gimana?”

J: “Kamu udah ga sayang aku lagi. Buktinya, sudah sebulan lebih kamu ga pernah ngajak aku main. Biasanya tiap malam minggu atau pulang kantor kamu selalu nyempatin diri bermain denganku…”

W: -menyimak sambil terdiam-

J: “Kamu lebih perhatiin Sabariah, Rofiah dan Tuminah daripada aku. Tiap malam minggu kamu ajak Rofiah belanja, tiap hari minggu pagi kamu ajak Sabariah ke Dago Car Free Day, dan hampir tiap hari juga kamu ajak Sabariah ke kantor menemanimu…”

W: -masih terus menyimak, menahan diri untuk tidak berkomentar dulu-

J: “Apalagi si Tuminah, tiap hari selalu diajak ke kantor. Gak siang, gak malem, kamu selalu aja mantengin dia, bahkan di hari libur yang biasanya kamu ngajak aku bermain, sekarang kamu gunakan untuk mantengin dia. Siang malem sama Tuminah melulu. Kamu gak tau perasaanku. Aku cemburu, say…” -dengan suara berat dan mata mulai berkaca2-

W: -diam sejenak- “Ooo jadi itu masalahnya. Ya, aku ngerti… tapi semua itu kulakukan bukan karena aku udah ga sayang kamu lagi…”

J: “Bohong!”

W: “Eeee… dengerin aku dulu dong hunnie…” Baca lebih lanjut