Menulis Positif & Menulis Elegan

Menulis di blog itu gak mudah. Selain sulit istiqomah untuk terus menulis, ternyata lebih sulit lagi menjaga konten tulisan agar tetap positif.

Kadang saya merasa dorongan untuk menulis muncul begitu kuat saat ada unek-unek (“kebelet curcol” istilahnya). Seperti halnya media sosial yang lain, blog memang sarana curcol yang sangat menggiurkan. Memang sih gak ada yang salah dengan curcol di blog, tapi kalau tidak mampu mengendalikan diri, salah-salah bisa merugikan diri sendiri, bisa dituduh menggiring opini negatif, dituduh menebar kebencian, dituduh pencemaran nama baik, atau minimal dituding emosi labil. Peribahasa “mulutmu harimaumu” mungkin sekarang bisa diperluas jadi “posting/status/tweet-mu harimaumu”. Intinya kita harus sebisa mungkin meredam keinginan untuk berkeluh kesah atau marah-marah di media sosial, karena sebagian besar keluh kesah dan amarah kita mungkin gak akan berguna buat orang lain yang membacanya. Kalaupun akhirnya dengan alibi “demi mempertahankan kesehatan jiwa” lantas kita ingin protes dan merasa hal itu layak diketahui publik melalui media sosial, maka kita harus bisa menuliskannya dengan bahasa yang tetap santun, intelek, diplomatis, objektif dan seterusnya dan seterusnya. Kalau harus saya rangkum semuanya, kita harus bisa menuliskannya dengan “elegan” 🙂

Susah kan? 😀

Semoga blog ini dipenuhi dengan tulisan yang positif, atau minimal tulisan yang elegan. Yang lalu biarlah berlalu, yang penting setelah ini sebisa mungkin hanya menulis yang positif, atau [kalo udah ga tahan lagi] minimal menulis yang elegan 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s