Gangguan di Tengah Pertapaan

Andai bumi terbelah dua
Biar kita tetap saling berpeluk
Ada apa dengan cinta
Perbedaan aku dan engkau
Biar menjadi bait
Dalam puisi cinta terindah

Mahasiswi itu terus bernyanyi lirih sambil duduk menyandarkan kepalanya ke bahu si mahasiswa yang duduk di sebelahnya. Sesekali wajahnya diangkat menatap si mahasiswa tetapi mahasiswa itu tampak cuek saja, tidak banyak bereaksi tetapi tampak tidak keberatan juga dengan sikap si mahasiswi. Dia hanya terdiam, seolah memberi izin kepada si mahasiswi tetapi terlalu malu untuk membalas bersikap mesra.

Oh well, ini dia gangguan kecil di tengah ketenangan “pertapaan” saya. Hari ini saya sengaja meninggalkan ruang kerja saya di fakultas, membawa setumpuk berkas ujian yang belum saya periksa lalu mengungsi ke perpustakaan kampus. Saya duduk di lantai 3, dekat dengan jendela, mengoreksi 3 amplop besar berisi berkas-berkas ujian sambil sesekali menikmati pemandangan hijau di luar dan menghirup udara segar dari jendela yang setengah terbuka. Hening, sejuk, damai. Sampai akhirnya nyanyian si mahasiswi itu membuyarkan suasana damai di pertapaan saya.

Untung 3 amplop berkas yang saya bawa semuanya sudah selesai saya koreksi, tinggal saya input nilainya. Untung juga si mahasiswi cukup tahu diri, jadi dengan sedikit tatapan dari saya, dia berhenti “konser solo” di perpustakaan yang siang ini sedang saya gunakan sebagai tempat bertapa. Karena konsernya sudah berhenti dan saya malas memperpanjang masalah, saya acuhkan saja mereka berdua. Mahasiswi itu tampaknya sedang benar-benar jatuh cinta sama si mahasiswa, walaupun dalam pengamatan sekilas saya sepertinya si mahasiswa membalas perasaannya dengan kadar yang lebih rendah, hehehe…

Ah, mereka masih muda, baru pacaran, belum ada ikatan sah apapun tapi sudah berani mengumbar sikap mesra. Saya hanya berdoa semoga putri saya setelah beranjak dewasa dan mulai tertarik kepada lawan jenisnya nanti akan bersikap lebih terhormat daripada mahasiswi tadi. Saya berdoa agar dia tetap menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, menjaga sikapnya dan tidak mengumbar atau menumpahkan perasaannya, sebesar apapun rasa cinta itu kecuali kepada suaminya nanti.

Saya berharap dia akan meniru ibunya. Ya ibunya, wanita yang sekarang menjadi istri saya. Kejadian siang ini hanya kembali mengingatkan kepada saya betapa beruntungnya diri saya ini. Sebelum menikah dengan saya, istri saya tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap mesra kepada saya. Jangankan sikap mesra, nada bicaranya pun sama saja dengan nada bicaranya kepada lelaki lain, sama sekali tidak berbeda, tidak dilembutkan apalagi sampai bernada manja. Bahkan sampai saat ajakan menikah saya disambut, sampai orangtuanya menerima lamaran dari orangtua saya, sampai saat tanggal pernikahan ditetapkan, sampai undangan disebarkan sekalipun, sikapnya benar-benar lempeng, datar, seolah dia sama sekali tidak tertarik dan tidak punya perasaan apapun terhadap saya😆 Setelah akad nikah diucapkan barulah sikapnya berubah, barulah saya merasakan dan mengetahui perasaannya yang sesungguhnya terhadap saya. Itulah yang membuat dia berbeda, sangat berbeda dari kebanyakan wanita sekarang. Dia menjadi jauh lebih bernilai, jauh lebih berharga, jauh lebih terhormat, dan saya bangga menjadi suaminya. I love you Bunda, I am so lucky to be your husband, and our daughter is so lucky to have you as a good example nearby.

2 thoughts on “Gangguan di Tengah Pertapaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s