[AD21] Shaf Utama Tidak Selalu yang Paling Depan?

Saya sering melihat saat sholat tarawih atau sholat jumat, shaf belakang sudah terisi sebelum shaf yang di depannya penuh. Alasannya beragam, mulai dari malu, segan sama yang lebih “sepuh” atau ada juga yang sengaja mencari shaf belakang karena sekedar ingin bisa menyandarkan punggung di dinding masjid. Sayang sekali, padahal Rasulullah sudah pernah menyampaikan keutamaan shaf yang paling depan dalam hadits berikut ini.

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan mengundinya” (HR. Bukhari 615, 652, 2689, Muslim 437)

Namun shaf yang terbaik tidak selalu shaf yang paling depan lho. Jika bagi laki-laki shaf yang paling utama adalah shaf yang terdepan maka untuk perempuan shaf yang paling belakang adalah shaf yang paling utama seperti yang telah disampaikan dalam hadits berikut ini

خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها

“Shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang pertama, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang terakhir, yang terburuk adalah yang pertama” (HR. Muslim 440)

Jadi shaf pertama bagi laki-laki dimulai dari yang paling depan sedangkan shaf pertama bagi perempuan dimulai dari yang paling belakang. Semoga makin semangat mengejar shaf yang pertama 🙂


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s