[AD07] Makan dengan Menggunakan Tangan Kanan

Sejak kecil kita selalu diajarkan untuk makan dengan tangan kanan. “Tidak baik makan dengan tangan kiri, tidak sopan”, mungkin itu alasan yang paling sering saya dengar saat mendengar orangtua mengajarkan anaknya untuk makan dengan tangan kanan. Memang benar, dalam budaya kita makan dengan tangan kanan itu lebih sopan daripada makan dengan tangan kiri, tapi berapa banyak dari kita yang juga tahu bahwa makan dengan tangan kanan adalah sunnah Rasul? Ada dalilnya lho, lihat di hadits shahih berikut ini.

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022)

Dalam hadits lain juga disampaikan perintah senada, bahkan disebutkan bahwa makan dengan tangan kiri adalah kebiasaan syetan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019)

dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020)

Nah, ternyata makan dengan tangan kanan bukan semata-mata memenuhi etika kesopanan tetapi juga memang merupakan perintah agama dan telah dicontohkan oleh Rasulullah. Oleh karena itu mungkin saat kita makan dengan tangan kanan mari kita ubah niat kita bahwa hal itu kita lakukan adalah dalam rangka mengikuti sunnah Rasul untuk mencari keridhaan Allah dan bukan semata-mata mencari keridhaan manusia lewat sesuatu yang disebut sopan santun. Dengan demikian insya Allah, hal sekecil makan dengan tangan kanan (yang tampaknya sudah jadi kebiasaan kita sehari-hari) bisa bernilai ibadah di hadapan Allah swt. Amiiiin.


DISCLAIMER:
Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya. 
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s