[AD04] Siapa yang Jadi Imam Sholat?

Ada sedikit yang beda di kantor selama bulan Ramadhan ini, lebih banyak orang yang sholat berjamaah tepat waktu. Alhamdulillah, semoga bisa istiqomah🙂

Nah, saat banyak orang berkumpul mau melaksanakan sholat, tentunya perlu ditunjuk seorang imam alias pemimpin dalam sholat. Gak jarang juga saya lihat mereka saling tunjuk, jarang sekali ada yang mau mengajukan diri dengan sukarela. Kalau sudah saling tunjuk, biasanya alasan penunjukannya suka agak aneh, misalnya:

Mas why aja, kan mas why udah nikah [kata dosen yang belum nikah]
Bapak aja pak, kan bapak dosen [kata seorang mahasiswa]
Ente aja bro, lebih ganteng [kata temen saya yang sarap bin gombal]

Hahaha, ada-ada aja kan alasannya? 100% ngaco. Padahal sebetulnya ada lho dalil yang menyebutkan dengan jelas tata cara memilih siapa yang paling pantas menjadi imam dalam sholat;

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Dari Abu mas’ud Uqbah bin Amru Al Anshari Radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Yang mengimami sebuah kaum adalah orang yang paling bisa membaca Al Qur’an. Jika mereka sama dalam hal bacaan Al Qur’an, maka yang mengimami adalah orang yang lebih tahu tentang as sunah. Jika mereka sama dalam hal as sunah, maka yang mengimami adalah orang yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka sama dalam hal hijrah, maka hendaklah yang mengimami adalah yang lebih dahulu masuk Islam. Janganlah seorang (tamu) mengimami orang lain (tuan rumah)  yang berkuasa (di tempatnya), dan janganlah seorang (tamu) duduk di kursi yang dikhususkan untuk tuan rumah kecuali bila tuan rumah mengizinkannya”.

(HR. Muslim, Kitab Al Masaajid, Bab Man Ahaqqu Bil Imamah)

Jadi jelas sudah bahwa utamakan orang yang paling baik bacaan Qur’an nya, kemudian orang yang paling banyak paham sunnah, kemudian orang yang paling lebih dulu hijrah, kemudian orang yang lebih dahulu masuk islam (dalam riwayat lain: “yang lebih tua”). Hanya ada satu pengecualian yang membolehkan dilanggarnya urutan yang telah ditetapkan, yaitu mendahulukan tuan rumah. Bukan karena sudah menikah, karena posisi/jabatan, apalagi karena tampang😀


 DISCLAIMER:

Tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan dengan tag #ApaDalilnya. Tulisan ini merupakan perwujudan dari komitmen saya terhadap diri sendiri untuk (insya Allah) secara rutin setiap hari di bulan ramadhan 1435H mencari tahu tentang dalil (landasan hukum) tentang sebuah persoalan dalam agama islam dan menuliskan kembali hasil penelusuran saya. 
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, mohon tidak dijadikan referensi utama, tanyakanlah masalah agama kepada ahlinya yaitu para ulama. Saya bukan ulama dan tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi saya yang masih belajar ilmu agama, catatan pribadi yang dimaksudkan sebagai pengingat bagi diri sendiri sambil berharap jika orang lain ikut membaca dan mengamalkannya maka saya juga akan ikut kecipratan dapat pahalanya. 
Amiiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s