LetJen

letjen

Kenalan: “Mas, nitip ya… ada satu orang sodara saya mau masuk Informatika”
Saya: “Oh…” [bengong sebentar] “Iya, ntar kalo udah dapet NIM kabarin aja ke saya…”
Kenalan: “Yah… tetep harus tes ya?”
Saya: “Iya, harus tes.”
Kenalan: “Kalau gak tes bisa gak?”
Saya: “Wah, saya gak cukup powerful untuk itu, saya juga gak ada kenal temen ada yang bisa bantu, bla… bla… bla…”

Begitulah penggalan percakapan saya di telepon sore ini. Miris… jaman gini masih ada saja orangtua yang mengupayakan anaknya bisa kuliah di tempat favorit dengan cara yang tidak etis. Kalaupun saya berkuasa untuk “menitipkan”, saya tetap akan menolak. Kasihan anaknya. Apa mereka kurang yakin dengan kemampuan anaknya sendiri? Apa mereka mau memaksakan anaknya untuk nyemplung di kawah candradimuka yang way out of thier league?

Proses seleksi didesain agar calon mahasiswa yang diterima adalah calon mahasiswa yang memang diperkirakan akan “survive“. Kalau proses seleksi ini di-bypass seenaknya maka yang rugi adalah calon mahasiswa itu sendiri. Kalau memang calon mahasiswa itu tidak punya kemampuan bersaing lalu tetap masuk dan diterima, maka dia akan depresi. Proses belajar yang seharusnya menyenangkan akan terasa penuh tekanan. Kalau sampai drop out apa bukan mahasiswa itu dan orangtuanya yang rugi? Sudah rugi waktu, rugi biaya pula.

Dulu waktu saya masih sekolah SMP dan SMU di Makassar, ada istilah yang kami sematkan kepada siswa yang diterima di sekolah tanpa proses yang benar. Kami menyebutnya “letjen“, kependekan dari “lewat jendela”. Jadi kalau siswa-siswa yang lain masuk ke sekolah “lewat pintu” alias lewat jalur dan prosedur yang semestinya, maka mahasiswa “letjen” ini adalah mahasiswa yang masuk sekolah “lewat jedela” alias tidak lewat jalur dan yang semestinya. Berdasarkan pengalaman saya sih, mereka biasanya tidak survive di sekolah, kalau gak gagal naik kelas, ya jadi depresi karena gak bisa mengikuti ritme persaingan yang ada. Belum lagi jadi bahan pembicaraan dan kemungkinan untuk dikucilkan dari lingkungan sekitarnya karena statusnya sebagai siswa “letjen”  So, adakah yang masih berminat jadi mahasiswa “letjen”?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s