Catatan Pelatihan Applied Approach – Hari 1

Hari ini saya mengikuti Pelatihan Applied Approach untuk dosen perguruan tinggi swasta di lingkungan Kopertis Wilayah IV. Pelatihan ini sebenarnya adalah kelanjutan dari pelatihan Program Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) yang pernah saya ikuti bulan Mei 2012 yang lalu. Peserta pelatihan Applied Approach yang saya ikuti hari ini rata-rata adalah dosen-dosen senior (bukan dosen abal2 yang minim pengalaman seperti saya ini, he3). Saya bahkan sempat bengong ketika salah satu pemateri bilang bahwa sebaiknya peserta pelatihan Applied Approach adalah dosen dengan pengalaman mengajar minimal 6 tahun, lah saya jelas2 belum qualified :mrgreen:

Materi-materi dalam pelatihan Pekerti dan Applied Approach ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi saya karena saya yang masih sangat minim pengalaman mengajarnya. Berhubung catatan selama pelatihan Pekerti enam bulan lalu bentuknya lebih mirip suhuf alias lembar-lembar yang berceceran dan memiliki tingkat traceability ysang sangat rendah maka saya putuskan catatan pelatihan Applied Approach ini akan saya “abadikan” dalam bentuk posting di blog saya, siapa tau bisa bermanfaat juga agi orang lain.

Berikut ini adalah catatan saya selama pelatihan Applied Approach – Hari 1:

Hari 1 – Sesi 1
Andragogi, Etika dan Moral Pembelajaran
(Prof. Dr. H. Dedi Herawan, M.Pd,)

  1. Karakteristik pembelajaran andragogi
    1. Mahasiswa dan dosen saling timbal balik, sama2 dewasa
    2. Pengalaman belajar dinilai sebagai sumber belajar yg kaya
    3. Mahasiswa menentukan apa yg mau dipelajari
    4. Mhs cenderung punya perspektif untuk segera mengaplikasikan apa yg dipelajari
    5. Pendekatannya lebih ke problem centered (case based)
  2. Pembelajaran Induktif = dari contoh/case ke konsep
  3. Hati-hati saat menegur mahasiswa:
    1. tetap jaga emosi,
    2. gunakan bahasa yang santun
    3. dan jangan di depan orang lain
  4. Sikap pendidik pada pembelajaran andragogi:
    1. Empati, melihat dari sudut pandang mahasiswa
    2. Kewajaran, termasuk jujur apa adanya
    3. Respek, menghormati majasiswa
    4. Komitmen terhadap kehadiran
    5. Mengakui kehadiran orang lain, tidak egosentris
    6. Membuka diri
    7. Tidak menggurui, tidak sok pintar walaupun bisa menjawab semua pertanyaan, tidak memutus bicara, tidak berdebat
    8. Tidak diskriminatif, tidak monoton
    9. Murah senyum, penampilan rapi (enak dilihat tapi tidak berbeda jauh dengan peserta)
  5. Implikasi tuntutan etika dan moral dosen:
    1. Karena dosen dibayar, maka dosen harus bekerja dengan sebaik2nya
    2. Karena mahasiswa membayar, maka dosen harus adil dalam melayani, tidak pilih-pilih
    3. Karena mahasiswa masih dalam tahap perkembangan, maka dosen harus memperhatikan perbedaan meraka, menerima kekurangan serta membantu yg kurang
    4. Karena dosen adalah profesi, maka dosen harus terus mengembangkan diri dan patuh kepada kode etik profesi
  6. Idealnya tiap dosen memberi tugas (evaluasi), maka mahasiswa harus menerima feedback agar mahasiswa mengetahui letak kesalahannya dan dapat memperbaiki dirinya sendiri
  7. Pada prinsipnya ga ada mahasiswa yang bodoh, hanya saja potensinya beda-beda, sayangnya perguruan tinggi tidak mendukung dosen dengan memberikan data2 tentang potensi yang ada pada tiap mahasiswa, sehingga dosen sulit mengembangkan potensi yang ada

 

Hari 1 – Sesi 2
Teknik dan Model SCL Berbasis Kompetensi
(Prof. Dr. H. Dedi Herawan, M.Pd,)

  1. SCL = Student Centered Learning, sebuah metode pembelajaran di mana karakteristiknya adalah:
    1. mahasiswa lebih aktif dibanding dosennya
    2. belajar berawal dari kasus ke arah konsep untuk menjawab kasus (induktif learning)
    3. dosen hanya sebagai mediator dan fasilitator, bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan
  2. Perubahan paradigma dari “mengajar” ke “membelajarkan” dilakukan dengan perubahan teknik mengajar: dosen sebaiknya berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan (mengarahkan mahasiswa untuk aktif mencari pengetahuan), bukan sekedar menyampaikan materi yang akan diajarkan (menyuapi mahasiswa)
  3. Berbagai model pembelajaran dengan pendekatan student centered learning
    1. Small group discussion
    2. Role playing & simulation
    3. Case study
    4. Discovery learning
    5. Self directed learning
    6. Cooperative learning
    7. Collaborative learning
    8. Contextual instruction
    9. Project based learning
    10. Problem based learning & inquiry
  4. Kegiatan inti dalam proses pembelajaran SCL:
    1. Eksplorasi

      Melibatkan mahasiswa mencari informasi

    2. Elaborasi

      Membiasakan mahasiswa mencatat dan membuat laporan eksplorasi, memfasilitasi mahasiswa dan merangsang mahasiswa untuk berpikir kritis dan menganalisis, memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi, menuntun mahasiswa menarik kesimpilannya sendiri

  5. Cooperative learning dan collaboration learning adalah metode yang sangat dianjurkan untuk dikembangkan mengingat belakangan ini kemampuan mahasiswa dalam bekerja sama dirasa sangat kurang.
  6. Cooperative learning vs Collaboration Learning:
    Pada cooperative learning, walaupun proses yg dilalui sama namun tujuan awal dan kesimpulan akhir boleh berbeda karena pada cooperative learning mahasiswa diarahkan untuk saling bekerja sama (dengan peran yang berbeda-beda, ada pembagian tugas) untuk menyelesaikan satu permasalahan/kasus yang sama.
    Pada collaborative learning, tujuan, proses, maupun kesimpulannya cenderung sama karena mahasiswa diarahkan untuk bersama-sama memecahkan kasus atau permasalahan tertentu.

 

Hari 1 – Sesi 3
Rekonstruksi dan Assessment Proses Pembelajaran
(Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp., M.Si, M.Kom)

  1. Manfaat assessment atau evaluasi dalam proses pembelajaran:
    1. Memahami sesuatu: apakah mahasiswa sudah paham materi? Bagaimana tingkat motivasi belajar mahasiswa? Apakah fasilitas belajar mahasiswa sudah memadai? Apakah ada yg perlu ditingkatkan/diperbaiki di diri dosen? Apakah persiapan untuk semester depan sudah memadai?
    2. Membuat keputusan: apakah perlu mengubah rencana PBM? apakah tim dosen sudah bekerja dengan baik dan kompak? Perlukah rekontruksi tim dosen?
    3. Meningkatkan kualitas PBM: apa penyebab gagal lulus kuliah?
  2. Komponen proses pembelajaran
    1. Input: Mahasiswa, Materi, Sarana, Dosen, Kurikulum
    2. Proses: Strategi perkuliahan, cara mengajar dosen, cara belajar mahasiswa
    3. Output: Hasil belajar (inilah yg dievaluasi)
  3. Tahap-tahap evaluasi:
    1. Penentuan tujuan evaluasi
    2. Perancangan evaluasi
    3. Pengembangan instrumen evaluasi
    4. Pengumpulan data
    5. Analisis dan iterpretasi data
    6. Tindak lanjut
  4. Rekonstruksi mata kuliah dibuat berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran, biasanya untuk tujuan pemutakhiran, dilakukan sekitar 1 kali dalam 5 tahun atau sesuai kebutuhan
  5. Apa saja penyebab perlunya rekonstruksi mata kuliah:
    1. Hasil belajar mahasiswa kurang memuaskan
    2. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang
    3. Perubahan kebijikan/regulasi pendidikan, baik nasional maupun institusional
  6. Tahap-tahap rekonstruksi mata kuliah:
    1. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU)
    2. Menentukan tujuan instruksional khusus (TIK)
    3. Menyusun materi perkuliahan
    4. Menyusun strategi instruksional
    5. Menyusun strategi untuk melakukan penilaian hasil belajar
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s