Dosen Penguji Angker

Hari ini pendaftaran sidang Proyek Akhir untuk periode Agustus 2012 mulai dibuka. Sidang periode Agustus 2012 adalah periode terakhir bagi mahasiswa yang ingin wisuda di bulan Oktober 2012 nanti, jadi peminatnya pasti sangat banyak. Itu artinya sekitar awal Agustus nanti saya akan kebanjiran “order” sebagai dosen penguji sidang Proyek Akhir. Beberapa mahasiswa saya juga sudah ada yang curhat dan mengaku merasa mules-mules menjelang sidang Proyek Akhir nanti. Lucunya lagi beberapa mahasiswa sempat mengaku berdoa supaya tidak mendapatkan dosen tertentu sebagai dosen pengujinya 😆

Salah satu mahasiswa saya dengan polosnya pernah bilang “pak, kata senior saya semoga yang nguji bukan pak Wahyu…” Waduh, se-horor itu kah cara nguji saya?

Setelah saya tanya-tanya lebih lanjut ternyata mahasiswa suka “ngeri” kalo saya senyum-senyum saat menguji sidang Proyek Akhir mereka. Katanya senyum saya itu gak jelas, membuat mereka ragu sama jawaban mereka sendiri, bahkan ada yang merasa ditertawakan. Astaghfirullah, padahal maksud saya senyum saat mengajukan pertanyaan adalah supaya suasana sidang gak terlalu horor, eh malah sebaliknya 😆

Ada juga cerita beberapa mahasiswa tentang dosen penguji lain. Beberapa rekan dosen dianggap “horor” karena sering nanya sintaks, bongkar source code, atau bertanya dengan demikian gencar sehingga terkesan “membantai”, he3. Menurut saya sih wajar saja, beliau-beliau kan hanya sedang menjalankan perannya sebagai dosen penguji. Selama niatnya baik, yaitu agar si mahasiswa yang disidang menyadari kesalahannya, menurut saya sah-sah saja. Tolong garis bawahi kata “menyadari” ya, beda dengan “mengetahui”. Dosen penguji yang bertanya dengan gencar sebetulnya sedang “mengarahkan” adik-adik mahasiswa supaya bisa menyadari kesalahannya sendiri tanpa harus diberi tahu di mana letak kesalahannya. Setau saya, umumnya dosen penguji akan memberi nilai yang lebih tinggi kepada mahasiswa yang menyadari sendiri di mana letak kesalahannya dan tau bagaimana cara memperbaikinya daripada mahasiswa yang tidak tau di mana letak kesalahannya, tidak tau kalau dia salah dan yang lebih parah: sudah salah, ngeyel pula karena ngerasa bener 🙂

Sebetulnya merasa tegang dan mules-mules menjelang sidang itu wajar-wajar saja, tapi tidak perlu mencemaskan siapa yang akan jadi dosen pengujinya nanti. Siapapun pengujinya nanti, tidak ada yang perlu adik-adik cemaskan kalau Proyek Akhirnya sudah dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari. Toh sebenernya para penguji itu ingin adik-adik lulus sidang, tidak ada niat ingin menggagalkan kelulusan adik-adik. Kalaupun ada yang terpaksa tidak meluluskan, saya yakin itu dilakukan dengan berat hati dan semata-mata karena takut tidak bisa mempertangungjawabkannya. Para dosen penguji idak ingin menzolimi adik-adik tapi takut dosa jika meluluskan adik-adik padahal adik-adik belum layak lulus, mungkin begitu dilema yang dialami para dosen penguji.

Makanya, mari kita bebaskan para penguji dari dilemanya dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum sidang supaya beliau-beliau tidak ragu lagi untuk meluluskan adik-adik semua 🙂

sumber gambar: nurkose.net
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s