Evaluasi

Idealnya sih kita mengevaluasi diri sendiri sebelum dievaluasi oleh orang lain, tapi evaluasi itu memang akan lebih efektif jika dilakukan oleh orang lain, karena umumnya manusia itu lebih mudah mencari kesalahan orang lain ketimbang mencari kesalahan yang ada pada dirinya sendiri.

Sayang seribu sayang, rasanya tidak ada orang yang senang jika ada orang lain yang mencari-cari kesalahan/kekurangannya. Beberapa situasi tertentu malah mengharuskan kita untuk dievaluasi oleh orang lain. Jadi suka gak suka, mau gak mau, kita akan dihadapkan pada situasi di mana orang lain mencari-cari kesalahan kita kita dievaluasi oleh orang lain. Sudah lumrah pula bahwa evaluasi yang dilakukan oleh orang lain juga cenderung dianggap lebih “sah” dan lebih “valid” ketimbang evaluasi terhadap diri sendiri.

Jujur dan akui saja bahwa kalau mau berkembang, kita harus memperbaiki diri terus menerus, dan tidak mungkin kita memperbaiki diri jika tidak tahu apa yang harus diperbaiki (tidak tahu apa yang salah). Jadi, “mencari-cari kesalahan” itu memang wajar, perlu dan tidak bisa dihindari dalam sebuah evaluasi.

Jadi ada dua tantangan di sini:

  1. Jika kita sedang dievaluasi, bagaimana cara kita menyikapinya dengan lapang dada dan tetap berpikir positif terhadap sang evaluator?
  2. Jika kita berperan sebagai evaluator, bagaimana caranya kita melakukan evaluasi tanpa membuat orang lain merasa “dicari-cari kesalahannya” sehingga mereka mau menerima masukan dari kita dan mau memperbaiki dirinya menjadi lebih baik?

-kesambet di ruang sidang-

Iklan

3 pemikiran pada “Evaluasi

  1. yap dilema emang ni pak…
    oh iya pak “Jika kita berperan sebagai evaluator, bagaimana caranya kita melakukan evaluasi tanpa membuat orang lain merasa “dicari-cari kesalahannya”
    itu gimana pak caranya? blm bisa euy…

    malah kadang kalo jadi evaluator, malah pada gedeg sama kita pak, malah pada sakit ati lebih parah nya.hmmmm

    sulit

    1. nah, betul itu, saya rasa emang sulit, tapi pasti ada caranya, yg penting kita mau belajar. makanya saya tulis itu “tantangan” karena sampe sekarang saya juga belum bisa 😀

      contohnya klo saya jadi penguji sidang, saya berusaha senyum biar ga terlalu tegang saat mhs ditanya, tapi menurut beberapa mahasiswa, senyum2 saya itu kesannya malah kayak “meremehkan”, padahal ga niat gitu, serba salah deh jadinya, kan klo ga senyum malah horor 😀

      sementara ini sih saya akali dengan cara ngasi tanggapan positif sebelum ngasi tau poin mana yg kurang dan harus diperbaiki. harapannya ya biar yg sedang dievaluasi juga ngerasa bahwa kita juga aware dan menghargai beberapa poin positif yg sudah dilakukannya, gak sekedar ngeliat yg negatifnya doang 🙂

      yaaa, intinya kita belajar sama2 lah, yg penting tau dulu bahwa niat kita ga nyari kesalahan doang, tapi ada tindak lanjutnya yaitu untuk mengusulkan perbaikannya gimana, demi kebaikan ybs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s