Terima Kasih Pak…

Siang ini saya sangat beruntung bisa bertemu bapak itu, seorang pria separuh baya yang berpenampilan rapi dan bersahaja dengan batik merah dan peci hitam yang sangat serasi. Ekspresi wajahnya yang murah senyum membuat si bapak tampak sangat kharismatik. Berawal dari penampilannya yang membuat mata saya nyaman, maka telinga saya pun ikutan merasa nyaman mendengarkan nasehatnya. Ditambah lagi dari susunan kata-katanya terdengar bahwa bapak ini adalah seorang yang sangat bijak dan cerdas.

Menit demi menit berlalu, saya sangat menikmati nasehat si bapak, sampai akhirnya menjelang akhir nasehatnya, si bapak mengutip suatu ayat dari Bible (kalo tidak salah si bapak mengutip Hagai 2:8-10) yang membuat saya teringat pada suatu hal yang sudah lama saya lupakan.

Saya teringat pada sebuah undangan yang saya terima sekitar dua setengah tahun yang lalu. Saat saya hadir memenuhi undangan itu, saya benar-benar speechless, hanya bisa terkagum-kagum dan tak henti-hentinya bertanya dalam hati:

What did I do to deserve this invitation?
What did I do to deserve SUCH HONOR?

Mendengar bagian terakhir nasehat si bapak, pertanyaan-pertanyaan itu kembali memenuhi pikiran saya. Pertanyaan yang sejak dulu belum saya peroleh jawabannya, dan selalu sukses membuat dada saya terasa sesak sehingga air mata menetes tanpa dikomando.

Terima kasih pak, rasanya saya ingin sekali menyalami bapak dan berterima kasih atas nasehat bapak tadi. Mohon maaf saya urungkan niat saya karena bingung mau jawab apa kalo bapak malah bertanya kenapa saya megucapkan terima kasih dengan hidung memerah dan mata sembap.

Terima kasih pak, terima kasih banyak…
terima kasih sudah mengingatkan saya…

Tadi pagi saya merasa begitu iri dengan segudang potensi yg ada pada orang2 di sekitar saya
Tadi pagi saya merasa begitu kagum dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh sahabat-sahabat saya
Tadi pagi saya merasa kerdil di hadapan mereka Pak…

Tapi berkat nasehat bapak, siang ini saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung, karena bapak mengingatkan saya bahwa tidak semua orang mendapatkan undangan istimewa itu. Bapak juga mengingatkan saya betapa semua orang sangat menunggu-nunggu dan mendambakan undangan itu, termasuk mereka, orang-orang di sekitar saya dan sahabat-sahabat saya yang -sungguh- saya rasa mereka jauh lebih layak menerima undangan itu daripada saya.

Terima kasih pak, terima kasih bapak sudah mengingatkan saya yang telah lupa betapa beruntungnya diri saya ini…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s