I Would Rather Didn’t Know

Kita selalu didoktrin untuk banyak tau,
Knowledge is power,
Tak kenal maka tak sayang,
dan lain lain…

Tapi…

Kadang mengetahui sesuatu itu membebani kita dengan kewajiban lebih, memperberat hukuman atas kesalahan kita, menyulitkan kita dalam bertindak dan bersikap, atau bahkan dalam kasus ekstrem, bisa mengancam keselamatan jiwa kita.

Tadinya saya berpikir bahwa orang yang bijak akan selalu mencari tau sebanyak-banyaknya, dan tidak pernah takut dengan pengetahuan. I don’t give a damn seharusnya tidak pernah ada di kamus seorang yang bijak.

Tapi ternyata ada juga saatnya kita (yg sedang berusaha belajar menjadi orang yg bijak) merasa lebih baik tidak tau atau minimal berpura-pura tidak tau. Apalagi jika there’s nothing we can do about it, all that will make the difference is how we react to it.

-Just found out too many truth-
-some are already predicted way back then and the rest are just stunningly shocking-

Believe me, it’s not as simple as being in a wrong place at a wrong time with a wrong person doing the wrong thing in a wrong way for a wrong reason

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 pemikiran pada “I Would Rather Didn’t Know

  1. Yoooo-a…
    saiah setuju banget banget banget sama pernyataan ituh, bapaaaakkkk.

    Karena, rasa sakit atau nyesek atau apapun ituh yang bisa bikin galau, sukak muncul kalo kita tau banyak tentang seseorang, tapi gak bisa berbuat apa2 untuk ituh.

    hmm….komennya gak nyambung? iyah c…
    menggalau lagi aahhhh
    -tatapan kosong-
    -duduk ngehadap tembok-

    1. hahaha… nyadar juga klo komennya gak nyambung 😆

      tapi yaaa disambung-sambungin aja lah berhubung tulisanku ini emang sengaja dibikin general, klo dibikin spesifik ntar malah ga bisa masuk kategori curcol dong 🙂

  2. Makanya aku lebih suka kalau dapat suatu informasi yang proporsional saja. Tidak kurang, tidak perlu juga berlebihan. (kalaupun berlebihan, gak diperhitungkan dulu infonya sampai suatu saat itu jadi penting, baru dibongkar lagi penyimpanannya), Menurutku diri Kita sendiri yang harus memfilternya sih

    Sederhananya, patokannya ya info yang dinilai cukup untuk mengambil suatu keputusan saat itu . kalau masih kurang, cari info tambahan, kalau berlebih, info lain2nya disimpan dulu aja (atau malah dibuang ?? ..hehehe). Bijaksana – Bijaksini kalau menurut definisiku adalah bisa bersikap tepat sesuai dengan kondisi, tempat, waktu, dan orangnya, karena tidak semua sikap (walau itu kadang baik) bisa pukul rata dipakai di semua kondisi #just my opinion 🙂

    @ Arby : memang udah certified “The Galauers sejati” ya .. hehehehe

    1. Bener banget Pit, proporsional is the best, dan udah berusaha difilter tapi kadang info itu sifatnya sepaket, nyarinya info A eh ternyata dapet paket combo ABCD, padahal B, C dan D itu cuma bikin puyeng, bikin susah mengambil keputusan, bikin susah bersikap, masih bagus klo gak sepaket sama info E yang disertai label “Classified”, hehehe…

      Sepertinya bener juga, klo filteringnya ga berhasil ya apa boleh buat, DISCARD! hahaha… tapi jatohnya jadi pura-pura ga tau gitu kan ya pit? 😆

      Btw definisi bijaksananya boleh juga, tampak sudah menghayati dan mengamalkan 🙂

      Satu lagi, punten ya komenmu agak kuedit dikit demi menyembunyikan identitas komentator sebelumnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s