Enak Aja Nyuruh-nyuruh!

Enak banget ya jadi atasan, bos, pimpinan ato apapun namanya itu. Tinggal nyuruh-nyuruh anak buahnya aja. Ngasi deadline juga kadang seenaknya dan terkesan gak manusiawi. Belum lagi kalo anak buahnya ada yang kerjaannya gak beres, tinggal dimarahin. Jadi kerjaan atasan itu sebenernya apa selain nyuruh-nyuruh dan marah-marah? Saya pun dulu sempat berpikir seperti itu.

Tapi tunggu dulu. Menjadi atasan itu sebenarnya gak mudah, gak sekedar nyuruh-nyuruh dan marah-marah doang. Well, setidaknya atasan yang baik shouldn’t be like that (nyuruh plus marah doang). Ada beberapa alasan kenapa menjadi seorang atasan/pimpinan itu gak mudah:

  1. Atasan harus membuat segala sesuatu nya jelas sebelum anak buahnya mengerjakan tugas. Mulai dari batasan dan ruang lingkup tugas, bagaimana prosedur mengerjakannya dan bagaimana mekanisme penilaian hasil kerja serta reward and punishment-nya. Semua ini harus jelas sebelum anak buahnya mulai mengerjakan tugas. Jangan sampai menjadi atasan yang berprinsip “pokoknya saya ga mau tau gimana caranya, yang penting kerjaan kamu beres“. Selain itu, atasan yang tidak memberi penghargaan yang layak atas kerja keras anak buahnya juga sama buruknya dengan atasan yang membiarkan anak buahnya yang melakukan kesalahan lolos dari sanksi (kombinasi keduanya lebih buruk lagi). Satu lagi, atasan yang mengubah prosedur pengerjaan di tengah jalan saat anak buahnya sudah separuh jalan mengerjakan tugas yang diberikan, itu juga nggak banget.
  2. Atasan harus mampu bersikap adil. Adil dalam pembagian beban kerja, adil dalam memberikan penghargaan dan sanksi. Adil bukan berarti semua serba sama rata. Atasan yang baik harus mampu membagikan beban kerja dan jenis pekerjaan sesuai dengan keahlian anak buahnya, sesuai dengan kepribadiannya, sesuai dengan availability-nya sambil tetap mempertimbangkan prioritas, tenggat waktu pekerjaan, sumber daya yang tersedia serta masih banyak lagi constraint-constraint yang lain. Setelah semua itu, atasan harus mampu menilai hasil kerja anak buahnya dengan objektif dan memberikan penghargaan dan sanksi yang adil atas hasil kerja anak buahnya sambil tetap mempertimbangkan faktor-faktor tak terduga.
  3. Percaya atau tidak, atasan harus rela berkorban banyak, termasuk korban perasaan. Dalam kepemimpinannya, sebaik apapun dia berusaha, dia tetap seorang manusia biasa. Tidak mungkin membuat everybody’s happy, tidak mungkin tidak ada yang tidak suka dan tidak mungkin menghasilkan pekerjaan yang sempurna. Butuh kebesaran hati untuk menerima itu semua, untuk mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan anak buahnya, untuk menerima kritik dan bahkan mungkin cacian dari orang lain. Bukan sekedar siap membusungkan dada saat tim yang dipimpinnya sukses.

Nah, ternyata menjadi seorang atasan itu gak mudah kan? Oleh karena itu, kalo kita sedang menjadi seorang atasan, mari menjadi atasan yang adil dan berperilaku baik terhadap anak buahnya. Pun kalo kebetulan kita sedang dipimpin oleh seorang atasan, mari bersimpati kepada beliau, karena sesungguhnya beliau lah yang lebih berat tugasnya daripada kita🙂

Dan sudah sadarkah kita bahwa kita pun adalah seorang pemimpin?

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya
(HR Bukhari & Muslim)

sumber gambar http://inmagine.com

8 thoughts on “Enak Aja Nyuruh-nyuruh!

  1. bnr sekali bapak dosen yg baik, posting ato curhat ini mz? kok kayaknya nada2ny gmn gt?
    sing sabar mz.. berusahalah jadi pemimpin yg baik, paling g bwt dr sndri dlu.. kl jd bawahan y mesti legowo ben ga kemakan omongan atasan..😀

    1. ya monggo diinterprestasikan sendiri tulisan ini, aku mah berusaha nulis dengan nada se-netral mungkin, walaupun masuk di kategori curcol pribadi tapi anggap aja sebagai renungan. Mungkin lebih tepatnya tulisan ini buat nyindir pak WHY, bapak koordinator mata kuliah PBD semester ini yang kepemimpinannya masih belum berhasil menurut si penulis😀

  2. Setuju banget ni mas ^^
    bawahan yang belum pernah jadi atasan mungkin belum terlalu ngerti banget gimana rasanya, jadi ketika atasan dinilai agak semena2, langsung kesel, ngomel dsb
    sedangkan atasan yang udah pernah jadi bawahan, ngerti betul gimana rasanya jadi bawahan, enak dan g enaknya.
    Efeknya bisa jadi lebih pengertian dan semakin bijak atau bisa jadi lebih semena2 (ngebales)

    atasan pasti dong beban kewajibannya lebih besar
    tapi bawahannya juga punya andil, apalagi klu kerja tim g bisa jalan sendiri2
    Selama atasan dan bawahan saling pengertian dan komunikasi jalan terus, insyallah ketika salah satu menjadi api, yang lain akan menjadi air
    semangat terus mas way!😀

    * back sound ‘Maju Tak Gentar’

    1. iya bener, kerja tim itu emang mesti kompak, termasuk kompak antara atasan dan bawahan juga.

      makasi mba pipit, tetep semangat dan yg tabah ya🙂

  3. wah gmbarx ngeri e….(msti muka anak buahx mpe basah kuyup kena semprot),
    nyuruh2 si gpp bang, namax jg bos, tp plg tdk kn BOS yg baik sllu monitoring apa yg dy perintah,
    ada ksulitan anak buah ato gak, jgn cuma asal perinth aja trz gak da kontrol yg baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s