The Alchemist

Saya baru menyelesaikan membaca The Alchemist. Saya sudah lama mendengar tentang novel ini tapi baru sempat membacanya, itupun bukan beli sendiri tapi minjem dari perpustakaan di kantor 😀

Baru membaca beberapa halaman pertama, saya sudah sangat suka dengan novel ini. Kisah yang disajikan sebenarnya sederhana, tentang anak gembala yang mengejar impiannya, tapi kisah ini dituturkan dalam bahasa yang menurut saya cukup “berat” alias butuh sedikit mikir untuk mencernanya. Walaupun gak seberat buku-buku Kahlil Gibran yg saya pernah baca, tapi selama membaca The Alchemist saya sering membaca beberapa bagian secara berulang-ulang, entah karena berusaha memahami makna yang tersirat atau sekedar menikmati keindahan bahasanya 🙂

Berikut ini adalah beberapa kutipan yang saya sukai dari novel The Alchemist:

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, seperti yang dialaminya di seminari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain maka orang-orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.

Si anak lelaki tidak tahu lagi mesti berkata apa. Orang tua itu melanjutkan, “Kehadiranmu benar-benar membawa berkah bagiku. Hari ini aku belajar sesuatu yang dulu tidak kusadari: setiap berkah yang tidak kita hiraukan berubah menjadi kutukan. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi dalam hidupku. Tapi kau telah memaksaku melihat kelimpahan dan cakrawala-cakrawala yang selama ini tidak kukenal. Dan setelah melihat semua itu, setelah menyadari betapa luas kemungkinan-kemungkinan yang terbentang bagiku, aku bakal merasa lebih tertekan dibandingkan sebelum kau datang. Sebab aku jadi melihat hal-hal yang sebenarnya bisa kuraih, namun tidak hendak kulakukan

Dia masih agak meragukan keputusan yang telah diambilnya. Tapi satu hal yang dia paham: mengambil keputusan barulah permulaannya. Saat orang mengambil keputusan berarti dia menceburkan diri dalam arus deras yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tidak pernah dibayangkannya ketika dia mengambil keputusan tersebut.

“Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang
Anak itu teringat pepatah lama dari negerinya. Bahwa saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat-saat menjelang fajar

tapi bagian novel yang menjadi favorit saya adalah dialog antara Santiago si anak gembala dengan Fatima si gadis gurun berikut ini:

“Aku akan pergi jauh,” katanya. “Dan aku ingin kau tahu, aku akan kembali. Aku mencintaimu, sebab…”
“Jangan katakan apapun,” sela Fatima. “Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai
Akan tetapi anak itu melanjutkan, “Aku dulu bermimpi, dan aku bertemu seorang raja. Aku menjadi penjual kristal dan menyebrangi padang pasir. Dan karena ada perang antarsuku, aku pergi ke sumur, mencari sang alkemis. Jadi aku mencintaimu karena seisi jagat raya ini bekerja sama membuatku menemukanmu

Kesimpulannya, I’m such a big fan of fancy words 😆 dan kalo anda juga termasuk penggemar hal-hal gak guna itu seperti saya, maka novel ini sangat layak anda baca 🙂

Iklan

10 pemikiran pada “The Alchemist

  1. Weew, bacaannya. Berat. Bahkan baca buku Gibran??! Kereeennnn

    U know what? Buku ini pernah langsung rz lempar setelah ngebaca 3 halaman pertama sehabis dipinjamin temen yang maksa rz supaya ngebaca buku ini. Saking bete plus gak ngerti ama bahasa jugak awal penceritaan.

    Huhuuhu, memang bacaan tepat untuk rz cuma komik dan kayaknya emang satu2nya cuma komik. 😦

    Salut bua ka’ wahyu dan semua orang yang ngebaca buku ini sampe tuntas.
    -tepok tangan-

    1. Dulu aku punya beberapa buku Kahlil Gibran kayak Suara Sang Guru, Lukisan Keabadian dan satu lagi yang judulnya Roh Pemberontak.
      Sayang sekali sekarang sudah hilang (dipinjam orang dan “lupa” dikembalikan, he3)

      Ya, aku juga suka kok baca komik, baca majalah de es be, macem2 lah bahan bacaan kubaca, hihihi… gak punya kesukaan khusus 🙂

  2. beberapa kali beli buku ini,
    buat diberikan sama orang-orang yang penting buat aku.
    adik2, orang-orang pencinta intelektual juga para pencari spiritual dan kebebasan.

    paulo coelho memang top 🙂

    dulu sezaman ketika baca sang alkemis juga pernah baca celestine prophecy.
    sapa tau nemu di sebuah tumpukan buku jangan ragu2 untuk menerkamnya 🙂

  3. dapat buku ini dari orang yang penting buat aku
    awalnya g terlalu ngerti, maklum deh lebih suka baca buku dengan gaya bahasa yang lebih ringan (meski topiknya berat) 😛

    But, i like it.. recommend mas way

    Eh salam kenal yaa ^^

    1. “orang penting”

      kok sepertinya aku ngeliat korelasi antara komen #3 dengan komen #5 yaaa?

      -bohlamdiataskepala-

      salam kenal juga 😀

  4. @why: apakah ini efek terlalu banyak mengunyah materi-materi relasional ?

    @onlypie: hoho praktisi database meet akademisi database
    *duduk bersila mendengarkan pencerahannya 🙂
    *sambil ngeteh
    *bikin soal apps ecommerce
    *makan indomie
    *ini ceritaku, mana ceritamu?

    1. setahun yang lalu, saking serunya telpon2an sama someone nun jauh di sono, setelah hampir sejam berbusa2 di telpon, aku kelaparan, jadi aku masak indomie… masih sambil telpon2an
      Eh, tanpa sengaja, hape aku kecemplung ke indomie rebus, jadilah aku nemuin indomie rasa baru, indomie RASA HAPE!

      ini ceritaku, mana ceritamu? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s