Etika Menghubungi Dosen via SMS

Berhubung saya sudah cukup sering dibuat jengkel dengan sms-sms dari mahasiswa dan sering mendengar keluhan yang serupa dari beberapa rekan dosen lain, maka seminggu belakangan ini saya mengedarkan kuesioner ke rekan-rekan dosen untuk mengetahui “bagaimana sih menghubungi dosen via sms tanpa membuat dosen kesal?” 😆 dan kalo judulnya kurang menarik bagi mahasiswa mungkin bisa ditambahkan kata-kata “… sehingga keperluan mahasiswa dilayani dengan baik oleh dosen“, nah lo! he3…

Saya mengedarkan 50 lembar kuesioner kepada responden yang terdiri dari rekan-rekan dosen di tempat saya mengajar. Dari 50 kuesioner akhirnya ada 43 lembar yang dikembalikan dan diisi dengan benar (semua pertanyaan dijawab walaupun data pribadi yang memang sifatnya opsional tidak diisi dengan lengkap).

Demografi responden:

  1. Jenis kelamin: 58% pria, 40% wanita, 2% tidak menjawab
  2. Usia: 63%  di bawah 30 tahun, 28% 30 tahun ke atas, 9% tidak menjawab
  3. Pengalaman mengajar: 72% 0-5 tahun, 14% 6-10 tahun, 7% di atas 10 tahun, sisanya tidak menjawab
  4. Alumni: 30% lulusan PTN, 32.5% lulusan PTS , 28% lulusan PTN dan PTS, sisanya tidak menjawab

Oke, ini dia hasil survey saya:

Jika tidak dapat ditemui langsung, apakah anda bersedia dihubungi melalui media berikut ini?
Apakah anda menyampaikan secara eksplisit di kelas tentang bagaimana mahasiswa dapat menghubungi anda?
Pernahkah anda dihubungi mahasiswa melalui SMS untuk keperluan berikut ini? Menurut anda apakah keperluan tersebut layak dilayani melalui SMS?
Sebutkan apa saja yang anda harapkan ada dalam SMS dari mahasiswa?
Jika salah satu dari yang anda sebutkan di atas tidak ada, apa reaksi anda?
Bersediakah anda membalas SMS dari mahasiswa di luar jam kerja?

Kesimpulannya:

  1. Prioritas media yang digunakan untuk menghubungi dosen sebaiknya adalah e-mail, SMS dan baru kemudian telepon. Facebook dan Chat/IM tidak disarankan jika masih dapat menggunakan tiga media yang disebutkan sebelumnya.
  2. Gunakan SMS untuk menghubungi dosen dan membuat janji bertemu (kemudian mengajukan permohonan izin, komplain nilai, tugas tambahan dsb saat bertemu langsung). Hindari mengajukan permohonan izin, komplain nilai, tugas tambahan dan sejenisnya via SMS.
  3. Dosen menganggap SMS yang layak dilayani adalah SMS yang memiliki 3 unsur: identitas yang jelas, menyebutkan keperluan dan disertai bahasa yang sopan.
  4. Jika SMS mahasiswa diabaikan oleh dosen, ada kemungkinan bahwa SMS tersebut belum memenuhi 3 syarat di atas (identitas jelas, keperluan, bahasa yang sopan)
  5. Hindari menghubungi dosen via SMS di luar jam kerja, kecuali ada keperluan yang sangat mendesak.

Demikian hasil survey saya. Semoga bermanfaat 🙂

Iklan

43 pemikiran pada “Etika Menghubungi Dosen via SMS

  1. Pertamax!!

    sy lebih suka lewat email, krn lebih jelas bahasanya dari pada sms yg singkat2..
    dan bisa kita buat jg track record komunikasi nya…

    btw, knpa tidak ada analisa ttg: “dosen wanita/pria yg msh muda lebih suka dihubungi lewat mana??” 😀

    1. pertanyaannya berat euy, hahaha…
      yaa mini survey, di kalangan terbatas dan diselenggarakan oleh orag yg pengetahuannya terbatas pula 😀

      Jadi maklum aja lah, memang klo mau diuji validitas dan korelasinya secara sayentipik pasti belum memenuhi syarat, tapi paling gak akan memberi insight kepada khalayak, itu aja 🙂

  2. Mantabs Gan…
    Hasil surveinya bagus bgt 🙂
    Pengalaman bbrp hari yll, saya membatalkan perkuliahan dgn mengirim sms ke 3 orang mhs saya :
    “De, maaf ya kuliah hr Kamis jm 8 dipending.
    /SYN”

    Eh, ada yg bales begini :
    ” Cp llu”

    Saya bales lagi :
    “Maaf, lebih enak jika balesannya begini : Maaf, dengan siapa ini?
    …”

    Kelas berikutnya anak itu belum muncul lagi… Saya tidak tau apakah dia PRS atau tetap di kelas Saya…

    1. Cp llu

      -geleng2-
      padahal sudah jelas2 dosennya nulis identitas dan pake bahasa yang santun tapi kok balasannya malah kayak gitu, bener-bener keterlaluan…

  3. minta ijin buat share ya..
    dan sebenarnya satu lagi, kalo misal mahasiswa menghubungi lewat telpon, klo gak diangkat mbok ya jangan ditelpon trus2n. kadang kalo lagi merasa terganggu, suka matiin hape 😦

    1. mangga… silahkan saja di-share mba, semoga ada manfaatnya.

      iya, saya juga sering kesal soal telpon yang ‘memaksa’, mungkin adik2 mahasiswa perlu diingatkan juga soal etika telepon menelepon, mungkin mba Ike mau bikin surveynya? hehehe…

    1. Alhamdulillah klo punya dosen yg baik kayak gitu, cuma kasian juga ya anak istrinya, hihihi…

      yaaa walaupun dosen kita baik, ada baiknya juga klo kita perhatikan dan pikirkan keluarganya, maksud saya jangan sampe karena dosen itu sibuk melayani keperluan kita lantas keluarganya malah jadi ‘terzolimi’ 🙂

  4. WHY..tengkyu….:)

    Aku termasuk salah satu dosen yang prefer ditelpon kemudian sms baru terakhir email.
    Kemarin ada sih mahasiswa mau ketemu, memang sih menyebutkan nama dan keperluan, tapi coba deh diakhirnya, begini nih kira-kira sms nya :
    Ass. Bu saya ……..(nama) ingin bertemu dengan ibu untuk…..(keperluan) bisa
    sekarang ???
    ASTAGA….macam bos merintah bawahannya !!!….nah sms itu saya abaikan, males kasih respon. Dasarrr…mahasiswa jaman sekarang…..!!!

    1. terima kasih bu komentarnya 🙂

      btw saya pernah dapet sms serupa tapi pake “Pak” bukan “Bu”, selain itu juga ga pake “bisa sekarang???” jadi sepertinya nasib ibu lebih mujur, hehehe 😀

  5. oooohhh jadi ini hasil kuisionernya… trus sudah disebarkan ke pada mahasiswa blooomm?? biar mereka semua tau… 🙂

    Oy, boleh request posting gak? Kasih tips dan trik cara memikat hati sang dosen..
    *memikat hati ini artinya luas loh, bisa diartikan sendiri 🙂

  6. assalamualaikum, nice info pak, waaaah harus di share nih di teman-teman kelas pak, biar terjalin komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswanya 😀

    1. makasi Maska, padahal how to present information itu kan sedikit banyak kupelajari dari Maska juga selama kita jadi asisten bareng dulu 😀

  7. sy si ga rajin2 amat konsul, tp berhubung ga mudeng ya mo gmn lg, sering sms dosen n minta ktemu konsul. yah,,jd kebayang terus tu dosen di kpalaku,,naksir berat. padahal beliau udah bapak2, abis bijaksana n santai banget orangnya. dengan santainya q jg bilang klo sampe naksir, dia blg halah biasa itu. soalnya sering ktemu, coba klo udah lulus kan ilang..nah, dijawab gitu bikin tenang,,hihi,,tp q ga brani deket2 lg. salting sama bapak2 bijak kek gitu. kharismanya terpancar bikin grogi abiss. :p

  8. Selamat sore, Pak Wahyu. Bagus sekali sharingnya 🙂
    Terima kasih banyak, sangat membantu dan jadi introspeksi diri sendiri juga nih. hehehe.Mohon ijin copas ke blog saya ya,Pak. 🙂

    Mau sharing sekaligus intermezzo saja, sampai sekarang, saya sebagai mahasiswi masih suka deg-degan kalau harus menghubungi dosen, terlebih-lebih via sms atau e-mail. Suka bingung kalau dosennya itu dokter dan gelarnya banyak (spesialis, dll), kadang-kadang saya juga takut ditegur kalau smsnya hanya “dr. xxxx” atau “drg. xxxx”. Ada dokter spesialis (dosen) yang maunya disebut gelar spesialisnya, even itu ketikan di sms,bukan surat resmi. Tapi ada juga yang sebaliknya. *serba salaaahhh* *

    1. Sore Shira…

      Mangga… selama masih ditunjukkan sumber aslinya saya tidak keberatan 🙂

      Hmmm klo sampe harus disebut gelar sih sepertinya buat saya agak berlebihan, tapi ya itu kembali ke pribadi masing2. Berpikir positif saja lah 😀

      Terima kasih sudah mampir 🙂

  9. Selamat malam Pak Wahyu..
    Saya masih seorang mahasiswa pak,
    Yah,,jujur ya pak, masih saja ada rasa takut-takut gimana gitu..mulai dari takut nantinya kalau kurang sopan, mengganggu jadwal, dan sebagainya…
    Saya kira juga, kalau sms itu malah gak sopan..lebih baik langsung telpon..tapi ternyata, prioritasnya itu email–sms–baru telpon..
    terima kasih pak sharing nya..
    O ya pak, bisa nyaingin Raditya Dika nih pak..ceritanya lucu-lucu..ketawa ketawa..bisa kebawa mimpi nih pak..hehehe

    1. Hmmm… ururtan prioritas itu berdasarkan survey di kalangan terbatas kok Dian, jadi urutan prioritas itu ga berlaku di semua dosen, cuma sebagian besar ya memang seperti itu prioritasnya.

      Pas saya survey dulu, mereka yg bilang lebih suka disms daripada ditelpon (termasuk saya) mengemukakan alasan bahwa klo sms kan bisa ditunda balasnya, sedangkan telpon sepertinya kita merasa didesak (apalagi kalo telponnya malam-malam, atau pas sedang ngajar/rapat/di jalan dsb)

      Demikian 🙂

    1. Hehehe… terima kasih pak Nasirudin, tapi saya dosen database, bukan dosen statistik 😀
      Salam kenal sesama dosen ya pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s