Dosen Pelit Nilai

“Hati-hati kalo dapat dosen Pak WHY, nilainya pelit banget…” Mungkin gak sedikit mahasiswa yang berkomentar seperti itu😆

Saya gak akan heran. Semester ganjil yang lalu saya mengajar 3 kelas kuliah Database Management System (DBMS) dengan hasil yang sungguh sangat ‘ajaib’ sekali. Berikut ini adalah grafik sebaran nilai DBMS dari 3 kelas yang saya ajar:

Grafik Sebaran Nilai Kelas X
Grafik Sebaran Nilai Kelas Y
Grafik Sebaran Nilai Kelas Z

Perhatikan baik-baik. Grafik kelas X condong ke kanan sedangkan grafik kelas Y dan Z condong ke kiri. Artinya kebanyakan mahasiswa di kelas X mendapat nilai D atau E😥, padahal kebanyakan mahasiswa di kelas Y dan Z mendapat nilai A atau B. Kok bisa?

Saya pelit nilai? Sepertinya iya, lihat saja buktinya di kelas X😀 tapi jangan abaikan juga fakta di kelas Y dan Z. Saya hanya mencoba menilai dengan seobjektif mungkin.

Saya sentimen sama kelas X? Saya berani jamin bahwa kelas X, Y dan Z diajar oleh dosen yang sama, dengan jumlah pertemuan yang nyaris sama (paling selisih 1 pertemuan), dengan soal-soal ujian yang tingkat kesulitannya sama, juga dengan kuis-kuis dan tugas-tugas yang soal, bobot dan cara penilaiannya sama.

Lantas apa bedanya? Kalo saya boleh jawab; motivasi mahasiswa nya dalam belajar yang berbeda. That’s it!

Sungguh saya berharap semua mahasiwa saya lulus kuliah saya dengan nilai yang memuaskan. Sungguh saya tidak pernah ingin mempersulit mahasiswa dengan alasan apapun. Tapi sungguh, saya lebih takut dosa kalo menilai tidak dengan adil dan objektif.

18 thoughts on “Dosen Pelit Nilai

  1. Saiah jugak pengen lulus kuliah dengan nilai memuaskan, Pak…

    tapiii…yang saiah tanyakan, gimana caranya meningkatkan motivasi belajar itu?
    terus….apa motivasi aja cukup? gimana ama kemampuan…bisa jadi kemampuan saiah emang gak cukup baik untuk pelajaran itu…ato bisa jadi ada suatu “alasan” (bisa alasan kondisional, ato alasan fundamental) yang bikin saiah gak cocok ama mata kuliahnya. Contoh alasan fundamental, bisa jadi saiah yang sentimen ama dosennya, ato bisa jadi mata kuliah tersebut (menurut pribadi saiah sendiri) gak sesuai ama kemampuan saiah yang pas2an di bidang tersebut, contohnya kuliah bisnis manajemen yang harus saiah ambil sebagai mata kuliah wajib sebagai kompetensi penunjang jika saiah sudah bekerja di Industri nantinya.

    Saiah menghargai tim penyusun kurikulum dengan setiap keputusannya yang pastinya semua dibentuk demi para mahasiswanya. Tapi gimana keadaannya kalo justru saiah sendiri yang menolak hal itu? Mungkin ujung2nya balik lagi ke kurangnya motivasi, dan bagaimana motivasi itu bisa dibangkitkan. Walaupun menurut saiah, ada banyak faktor di luar motivasi. Banyak hal.

    Jadi kalo memang ini semua tentang motivasi, bagaimana caranya, Pak?
    Semoga komennya gak kepanjangan, saiah sudah berusaha memperpendeknya dan hasilnya masih sepanjang ini,Pak.
    Maaf jika tidak berkenan.🙂

    1. Wah panjang sekali komentarnya, tapi gak apa2 dik Arby, saya senang tulisan saya ditanggapi dengan kritis dan sopan.

      Alasan2 fundamental yg tadi kamu sebutkan tadi (sentimen sama dosennya, merasa kemampuan pas2an dsb) sebetulnya bisa diatasi dengan meningkatkan motivasi kok. Sebab kalo motivasi sudah bagus, biasanya solusi akan muncul. When there’s a will there’s a way, gitu ceunah.🙂

      Cara meningkatkan motivasi kan beda2 tiap orang. Dik Arby tentunya lebih tau apa yang mampu membangkitkan semangat dik Arby dalam belajar. Well, kadang kita kehilangan motivasi sih (misalnya orang yg motivasi belajarnya karena ingin membanggakan orang2 terkasih, mereka bisa kehilangan semangat belajar jika ditinggal orang tua, kekasih, dsb). Oleh karena itu saran saya sih, carilah motivasi yang lebih agung, misalnya dengan niat ibadah. Ingatkan pada diri sendiri bahwa menuntut ilmu itu sama dengan ibadah, Insya Allah lebih semangat nantinya.

      Apakah motivasi saja cukup? memang tidak karena untuk berhasil, harus ada 3 hal yaitu: motivasi/niat yang kuat dan benar, usaha yang maksimal dan doa. Walaupun motivasi saja tidak cukup tapi minimal motivasi akan mendorong kita berusaha lebih maksimal dan klo motivasinya itu karena niat ibadah, insya Allah tidak akan lupa juga diiringi dengan doa🙂

      Maaf jawaban saya kepanjangan, semoga bermanfaat.

    2. setuju sama pertanyaan diatas (terutama yg paragraf 1)
      sekalian mau tambahin pertanyaannya :
      atau bagemana kalo suasana kuliahnya ‘horor’ , jadinya males duluan buat ingikutin kuliahnya? cara mendatangkan motivasinya bagaimana?

    3. klo kelasnya horor, mungkin dosennya bisa berusaha mencairkan suasana biar ga terlalu horor. Tapi dari obrolanku dengan dosen2 yg lebih senior dan lebih berpengalaman ngajar, biasanya mereka ‘terpaksa membuat suasana kelas jadi horor’ karena berdasarkan pengalaman mereka, cara itu yg memberikan hasil paling optimal (walaupun tidak semua mahasiswa cocok/menyukai cara itu), kurang lebih gitu may🙂

    1. hehehe… mbak ning ini bisa aja

      jelas aja nilainya ga keluar, kan mbak ning ga pernah jadi mahasiswa saya,

      coba deh cek nilainya di pak FER, hihihi…

  2. Perasaan dlu pas diajar ma mz baik2 aja deh…
    Mz ga pelit2 amat kok. Malah murah nilai menurutq…
    ya cuman kl pas kesel bisa nyebelin jg c… piss mz😛

  3. lama ga main ksini,, curhatannya makin cihuy nih kayaknya pak.. hihi.. yah cm mau doain..smoga cara mengajar bapak smakin berkembang, dan tetep objektif..😀

    1. amiiiin… makasih ya Ji, klo diingat2 lagi waktu saya ngajar di kelasmu dulu, sepertinya itu salah satu pengalaman cara mengajar yg tidak baik, dan overall saya ngerasa gagal waktu itu, hihihi… mohon maaf ya Ji klo km sempat ngerasain cara saya ngajar waktu itu, maklumlah masih minim pengalaman dan masih mesti banyak belajar😀

  4. sapa yg bilang kaya gitu pak??
    bilang rani !!

    malahan rani pengen bpk lagii yg ngajar di semester 4,
    eh malah gag ada..
    smua itu memang ada pro-kontranya pak,
    kebetulan aja bpk wawancara sama yg kontra dgn bpk, ya begitu tanggapannya..
    coba bpk wawancara nya sama rani pastii beda tanggapannya kn..
    hahhaha

    1. hahaha… ga boleh terlalu fanatik gitu, gimanapun klo ada yg berpendapat bahwa saya pelit nilai itu hak mereka dan pasti mereka punya alasan yg kuat🙂

  5. ga pelit ko pak…malah sama bapak di kasih pilihan dulu kalo nilai nya jelek mau di kasih nilai itu aja,apa di perbaikin dulu baru di nilai lagi😀

    1. sebenernya itu bahasa halus untuk minta revisi, hehehe… lagian klo mahasiswa udah ditambahin dengan beban revisi menurut saya mereka layak dapet nilai tambahan, kan usahanya juga nambah, jadi balasannya juga harus ditambah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s