“Pendalaman” [Tuk Ke-Sekian Kali]

Beberapa hari yang lalu ada satu sms dari mahasiswa yang cukup sukses membuat saya prihatin:

pk wahyu sy tdk lulus dbms lg pak…tlg sy pak.msak sya ngulang smpe 3x. [*nama mahasiswa disensor]..

dan sms itu saya balas kurang lebih begini:

Mohon maaf, nilai sudah fix. Mungkin kamu sudah mengambil kuliah ini tiga kali tapi selalu menjalaninya dengan cara yang sama, coba ubah cara kamu menjalaninya. Semoga lain kali lebih sukses, tetap semangat ya🙂

“Mengulang kuliah”, sebagai mantan mahasiswa yang pernah mengulang kuliah, sebetulnya saya kurang suka menggunakan istilah itu. Saya lebih suka menyebutnya “pendalaman”. Ya, “pendalaman”. Istilah “mengulang” terkesan seperti mengandung konotasi “gagal” sedangkan “pendalaman” konotasinya lebih positif. Memang positif. Logikanya sederhana saja: kebanyakan mahasiswa belajar mata kuliah itu selama satu semester, sedangkan beberapa mahasiswa (yang beruntung) dipaksa untuk mempelajarinya di dua semester. Wajar dong, kalo mahasiswa-mahasiswa yang beruntung ini nantinya akan jadi lebih ahli ketimbang teman-temannya yang hanya memperlajari kuliah itu dalam satu semester saja, iya kan?

Tapi tunggu dulu, kalo mengambil kuliah yang sama di 2 semester saya masih menyebutnya “pendalaman”, tapi kalau sampai 3 semester mungkin sudah keterlaluan, dan yang lebih keterlaluan lagi kalo ternyata setelah 3 semester masih belum lulus juga. Ini jadi menimbulkan pertanyaan di pikiran saya, kalo ada mahasiswa yang terus-menerus “mendalami” mata kuliah yang sama, salah siapa?

Salah dosennya? mungkin saja. Saya yakin bahwa sebaik apapun cara dosen mengajar, pasti ada satu dua orang mahasiswa yang kurang cocok dengan cara dosen itu. Sebagai dosen muda berbakat yang masih miskin pengalaman, saya patut dicurigai sebagai salah satu faktor kegagalan mahasiswa itu dalam studinya.

Salah sistem pendidikannya? bisa jadi juga. Kurikulum, bentuk ujian dan sebagainya memang tidak ada yang sempurna (tapi bukan berarti tidak disempurnakan lho ya, setau saya tim kurikulum bekerja sangat keras dan percayalah bahwa menyusun kurikulum itu tidak mudah, banyak constraint yang harus dipenuhi).

Salah sarana prasarananya? maybe. Bagaimanapun juga proses belajar akan lebih kondusif jika sarana dan prasarana memadai, walaupun saya merasa sarana prasarana yang sekarang adik-adik miliki jauh lebih baik daripada sarana dan prasarana yang saya miliki dulu sebagai mahasiswa (oke.. oke.. saya tau adik-adik mahasiswa tidak suka kalo saya membandingkan diri saya dengan kalian, beda jaman, iya kan? terima kasih sudah membuat saya merasa tua, hahaha…)

Salah mahasiswanya? yang ini juga mungkin, tapi saya gak sepantasnya menghakimi lebih jauh. Lebih baik adik-adik mahasiswa sendiri yang introspeksi. Salah satu guru saya pernah bilang “jika ada kegagalan dalam sebuah sistem pendidikan, seharusnya anak didik adalah yang paling terakhir disalahkan”. Saya belum 100% setuju dengan pernyataan guru saya ini, tapi saya yakin beliau lebih bijak daripada saya, hehehe…

Cukup sudah saling menyalahkan, lantas gimana solusinya? Mari sama-sama perbaiki diri. Untuk sistem pendidikan dan sarana prasarana saya tidak bisa berjanji apa-apa sebab saya tidak punya wewenang di sana, namun sebagai dosen insya Allah saya akan terus memperbaiki cara saya menyajikan materi dan mendidik mahasiswa saya. Saya hanya berharap adik-adik mahasiswa mengimbangi usaha saya, karena walaupun sebagai pihak yang paling terakhir disalahkan, tetapi adik-adik mahasiswa memiliki kendali yang paling besar terhadap diri sendiri sebagai faktor utama yang menentukan berhasil/tidaknya sistem pendidikan itu sendiri.

Hmmm… saya mulai merasa dunia ini tidak adil. Di mana letak keadilan jika pihak yang paling terakhir disalahkan atas kegagalan suatu sistem adalah pihak yang memegang peran terbesar dalam keberhasilan sistem tersebut?🙂

 

sumber gambar: http://www.cartoonstock.com

9 thoughts on ““Pendalaman” [Tuk Ke-Sekian Kali]

  1. Wow, that’s right! Saya pikir “pendalaman yang dalem banget” seperti itu salah mahasiswanya sendiri. Mahasiswa yang menyalahkan dosen, prasarana, and kurikulum cuma mahasiswa yg nyari kambing item and ngga bertanggung jawab. Kan mahasiswa udah di tuntut untuk mandiri, ga selamanya harus selalu di suapin sama dosennya. Banyak cara buat belajar, tinggal kesadaran and kemauan aja yg perlu di tingkatkan di dalam diri setiap mahasiswa.

    Btw, pak, menurut saya cara mengajar bapak udah bener-bener keren, and cerdas! Hehehe..😀

    1. Saya jadi ingat, kelas kalian adalah kelas pertama yg saya ajar sebagai dosen. Wah klo diingat-ingat lagi cara saya mengajar di kelas kalian masih banyak sekali kekurangannya, jadi sebenarnya jauh dari kategori “keren”

      cerdas? hahaha, gombal abis Glen, tapi terima kasih🙂

  2. sebagai salah satu mantan murid pak why *inget jaman aku memperdalam alpro gak yu? ampe belajar di kosan wahyu ama lia huehue* dari situ saya setuju kalo wahyu itu emang passionnya jadi pengajar.. keren banget dah! kata-katanya lugas dan mudah di mengerti… selain itu jadi dosen itu pahalanya besar ya kan?

  3. Saya tidak sempat mengulang salah satu mata kuliah yang saya rasa saya tidak mengerti sama sekali. Namun beruntung, mendapat nilai tengah2 (C) dr dosen itu. hehe

    Kalo ditanya salah siapa, saya bisa bilang dari kedua belah pihak (mahasiswa [saya sendiri] dan dosen yg bersangkutan).
    Saya kurang mengerti bagaimana dosen yg mengajar Ekonomi disemester pertama bisa menjadi dosen XML disemester 4. (upss… semoga tidak ketahuan siapa)
    Setiap mengajar dan mendemokan, pasti ada error berkali-kali lalu kami menunggu beliau mencari dimana salahnya (berkali-kali juga), baru deh program nya bisa berjalan.
    yg paling saya ingat, dia selalu berkata, “Apa yang akan terjadi saudara-saudaraaaaa
    cara mengajarnya pun kurang mengajak mahasiswa u/ ikut mendemokan/mencoba u/ membuat sendiri.
    itu dari sisi saya menilai dosen tersebut.
    salah saya, saya tidak mau (males) untuk membaca bukunya sendiri dan mencobanya sendiri. saya memang tipe mahasiswa yg bisa, karna diajarkan dengan baik oleh dosen tersebut.
    saya bersyukur, dosen tsb sangat baik kepada kami semua, sehingga nilai kami rata2 berada di tengah2, walau beliau tau bahwa kami sekelas(hampir semua) tidak benar2 paham ttg yg diajarkan selama satu semester itu.

    Tapi saya beruntung. Setelah terjun ke dunia kerja, saya bertemu lagi dengan hal yg berhubungan dgn matakuliah tsb, dan saya sudah mengerti sekarang. hahahahahaha…
    senang, senang.🙂

    1. Ya,saya setuju Bi, kan supaya proses belajar mengajar bisa sukses, idealnya harus ada upaya maksimal dari dua belah pihak.

      Dosen yang paling canggih ngajarnya pun gak akan bisa ngajari mahasiswa yg gak mau diajarin (baca:males2an). Sebaliknya, mahasiswa paling berbakat pun bisa sesat klo dapet dosen yang sesat.

      Mudah2an saya ga termasuk tipe dosen yang sesat dan menyesatkan. Amiiin…

  4. Sepertinya kalau sudah mengambil mata kuliah yang sama lebih dari dua kali, dosen seharusnya bisa ngasih concern lebih ke mahasiswanya. Misalnya memberi motivasi kalau perlu ngasih bimbingan di luar pertemuan biasa. Karena jangan sampai karena satu mata kuliah menghambat kelulusan mhsw atau bahkan bisa di DO.😦

    Selain itu tdk semua orang bisa expert disemua bidang/mata kuliah apalagi IT kan luas bangeeet. Dan belum tentu mata kul tersebut akan dipakai di dunia kerja. Jadi kalau sudah dilakukan pendekatan dan emang mhswnya sudah berusaha keras tapi kemampuannya ga bertambah perlu dipertimbangkan u ngasih nilai C (yang penting lulus lah).

    CMIWW

    1. Saya sangat setuju mba Ida. Pengennya sih ga mau nyusahin mahasiswa tapi sayangnya yg sering kejadian adalah mahasiswanya kurang berusaha, padahal mungkin sebenarnya mereka itu bisa. Lagipula setelah ditanya ke dosen dosen lain rata2 mereka bermasalah.di hampir semua mata kuliah, kebanyakan karena masalah kehadiran. Mungkin mahasiswanya yg kurang niat kuliah ato gimana. Miris juga sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s