Petinju vs Celana Panas

Bukan, ini bukan cerita tentang petinju yang celananya terbakar waktu sedang bertanding, ini cuma cerita tentang pengalaman saya tadi malam saat saya menonton film The Tourist di bioskop XXI, BSM. (Menurut saya filmnya bagus, menonton film itu serasa seperti sedang baca novel. Setting kota Venice bene-bener indah, ceritanya juga smart, walaupun temponya agak lambat tapi klimaks ceritanya oke dan unpredictable. Well, cukup sampe sini OOT nya, he3)

Kembali ke topik, jadi begini ceritanya… Tadi malam seperti biasa saya nonton sendirian, dengan berbekal sebotol susu cokelat yg saya bawa dari rumah dan beberapa potong danish dan cookie yang saya beli di salah satu counter roti di BSM, saya masuk ke studio 1 dan duduk manis di kursi saya sambil menunggu film dimulai. Saat saya sedang duduk menunggu sambil menonton trailer film-film terbaru, datanglah sepasang muda mudi.

Dalam suasana yang remang-remang saya perhatikan si cewek mengenakan baju merah yang tampaknya belum selesai dijahit dan “celana panas” alias hot pants yang sungguh-sungguh sangat amat terlalu minim sekali. Saya berani taruhan bahwa “celana panas” (baca: hot pants) yg dipakai si cewek lebih minim daripada “petinju” (baca: boxer) yang saya pakai (sebagai underwear) di balik celana jeans saya.

Keterpanaan saya belum berhenti di situ. Berhubung saya duduk di ujung dan mereka akan duduk di tengah barisan, jadi mereka harus melewati saya. Memang lorong di depan kursi saya cukup sempit, alhasil mereka harus berjalan menyamping.

Permisi…” kata si cewek sambil berjalan menyamping membelakangi saya dengan bokong yang sepertinya sedikit nungging (atau entah memang bentuk bokongnya seperti itu). Entah kenapa si cewek itu memilih berjalan menyamping dengan membelakangi saya, mungkin karena jika dia berjalan menyamping menghadap saya dia khawatir dadanya yang dibalut baju setengah jadi itu akan terekspos. Si cowok mengikutinya dengan santai (saya gak inget dia berjalan menyamping sambil menghadap saya atau membelakangi saya, toh ga ada bedanya) dan akhirnya mereka berdua sampai di kursi dan pertunjukan film pun dimulai.

Saya tidak habis pikir kenapa masih ada cewek yang memakai celananya dari jaman Taman Kanak-Kanak dan baju yang belum selesai dijahit ke bioskop… Apa gak kedinginan? Apa gak takut berkeliaran malam-malam dengan pakaian yang “mengundang” seperti itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu saya biarkan saja terlintas di kepala saya tanpa berani terucap di bibir. Kalopun saya tanyakan, mungkin jawaban si cewek akan begini:

“Heh cowok mesum! ngapain ngurusin urusan orang, hah?! Saya gak kedinginan tuh, udah biasa, jangan kampungan deh… Lagian saya kan naik mobil pribadi, dan ada si a’a yang nemenin…”

“Helloooo… justru si a’a yang nemenin kamu itu yang perlu diwaspadai neng… Saya mah gak akan ridho kalo pasangan saya pake baju setengah jadi dan celana dari jaman TK kayak gitu, pake nungging2 depan cowok lain pula… pikir dong neng, pikiiiiiirrrr…. punya otak gak sih?”

sumber gambar:
http://www.gottabemobile.com
http://www.vectorstock.com

 

Petinju dan Celana Panas

Bukan, ini bukan cerita tentang petinju yang celananya terbakar waktu sedang bertanding, ini cuma cerita tentang pengalaman saya tadi malam saat saya menonton film The Tourist di bioskop XXI, BSM. (Menurut saya filmnya bagus, menonton film itu serasa seperti sedang baca novel. Setting kota Venice bene-bener indah, ceritanya juga smart, walaupun temponya agak lambat tapi klimaks ceritanya oke dan unpredictable. Well, cukup sampe sini OOT nya, he3)

Kembali ke topik, jadi begini ceritanya… Tadi malam seperti biasa saya nonton sendirian, dengan berbekal sebotol susu cokelat yg saya bawa dari rumah dan beberapa potong danish dan cookie yang saya beli di salah satu counter bakery & pastry di BSM, saya masuk ke studio 1 dan duduk manis di kursi saya sambil menunggu film dimulai. Saat saya sedang duduk menunggu sambil menonton trailer film-film terbaru, datanglah sepasang muda mudi yang akan duduk di kursi yang sebaris dengan saya.

Dalam suasana yang remang-remang remang saya perhatikan si cewek mengenakan baju merah yang tampaknya belum selesai dijahit dan “celana panas” alias hot pants yang sungguh-sungguh sangat amat terlalu minim sekali. Saya berani taruhan bahwa “celana panas” (baca:hot pants) yg dipakai si cewek lebih minim daripada “petinju” (baca:boxer) yang saya pakai (sebagai underwear) di balik celana jeans saya.

Keterpanaan saya belum berhenti di situ. Berhubung saya duduk di ujung dan mereka akan duduk di tengah barisan, jadi untuk sampai di kursi mereka harus melewati saya. Memang lorong di depan kursi saya cukup sempit, alhasil mereka harus berjalan menyamping.

“Permisi…” kata si cewek sambil berjalan menyamping membelakangi saya dengan bokong yang dalam fantasi saya sepertinya sedikit nungging (atau entah memang bentuk bokongnya seperti itu). Entah kenapa si cewek itu memilih berjalan menyamping dengan membelakangi saya, mungkin karena jika dia berjalan menyamping menghadap saya dia khawatir dadanya yang dibalut baju setengah jadi itu bergoyang-goyang di depan mata saya terekspos. Si cowok mengikutinya dengan santai (saya gak inget dia berjalan menyaamping sambil menghadap saya atau membelakangi saya, toh ga ada bedanya) dan akhirnya mereka berdua sampai di kursi dan pertunjukan film pun dimulai.

Saya tidak habis pikir kenapa masih ada cewek yang memakai celananya dari jaman Taman Kanak-Kanak dan baju yang belum selesai dijahit ke bioskop… Apa gak kedinginan? Apa gak takut berkeliaran malam-malam dengan pakaian yang “mengundang” gitu?

Pertanyaan-pertanyaan itu saya biarkan saja terlintas di kepala saya tanpa berani terucap di bibir. Kalopun saya tanyakan, mungkin jawaban si cewek akan begini:

“Heh cowok mesum! ngapain ngurusin urusan orang, hah?! Saya gak kedinginan tuh, udah biasa, jangan kampungan deh… Lagian saya kan naik mobil pribadi, dan ada si a’a yang nemenin…”

Helloooo… justru si a’a yang nemenin kamu itu yang perlu diwaspadai neng…

6 thoughts on “Petinju vs Celana Panas

  1. wuiss, nulisnya sampe emosi gitu.. sabar mas sabar…. dia akan menanggung semua dosanya di akhirat. hehehe.. di jkt malah banyak yg pake kemben n hotpants jalan2 di mall. saya aja yg pake tertutup kedinginan, tapi mereka nyantai2 aja..
    the tourist emang keren ya..

    1. ho-oh, emosi bener deh Mut, kalo aku jadi cowoknya pasti gak relaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. gak ridhoooooooooooooo…. gak ikhlas! pokoknya gak terima! wakakaka😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s