Ravenpuff atau Huffleclaw ?

Saya adalah salah satu penggemar novel Harry Potter (tapi tidak terlalu suka filmnya). Menurut saya membaca novelnya jauh lebih mengasyikkan daripada menonton filmnya, he3. Eniwey, posting saya kali ini bukan mau membahas film atau novelnya.

Saya hanya tiba2 teringat pada kisah di novel tersebut tentang 4 orang pendiri sekolah sihir Hogwarts yaitu Godric Gryffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw dan Helga Hufflepuff. Keempat pendiri ini masing-masing memilih murid2 mereka sesuai dengan kriteria yang mereka tetapkan. Setelah dipilih sesuai kriteria, murid-murid tersebut dimasukkan ke asrama sesuai nama pendirinya.

Yang menarik perhatian saya adalah dua orang diantara para pendiri sekolah sihir Hogwarts yaitu Ravenclaw dan Hufflepuff. Ravenclaw lebih menyukai murid-murid yang cerdas sedangkan Hufflepuff lebih menyukai murid-murid yang mau bekerja keras.

Saya sedang berandai-andai jika saja saya bisa memilih mahasiswa yang akan saya ajar, mahasiswa seperti apa yang ingin saya ajar? Well, jika saya boleh urutkan maka saya akan pilih mahasiswa yang:

  1. Cerdas dan mau bekerja keras (tipe murid idaman semua pengajar; complete package, surely will surpass their teacher)
  2. Mau bekerja keras (walaupun kecerdasannya hanya pas-pasan atau di bawah rata-rata). Jenis mahasiswa seperti ini jika dibimbing dengan (sabar dan) baik pasti bisa berhasil (dan kadang mengalahkan yang cerdas tapi usahanya pas-pasan).
  3. Cerdas (walaupun rada males). Jenis mahasiswa seperti ini mungkin akan kurang berkembang karena rada males tapi setidaknya mengajari murid yang cerdas tidak membutuhkan usaha yang besar (walaupun tantangannya mungkin kurang terasa)

Eits, cukup sampe nomor 3, gak ada yang nomor 4 (baca: tipe yang pemalas dan markoneng). Pernah suatu ketika saya menegur seorang mahasiswa yang tampak tidak bersemangat belajar, si mahasiswa berdalih bahwa dia merasa “otak saya gak nyampe Pak”. Waktu itu saya memotivasi si mahasiswa agar tidak berkecil hati, padahal di dalam hati rasanya saya ingin bilang “Ya ampun nak, kalo sudah sadar bahwa daya tangkap kamu di bawah rata2 mbok ya berusaha lebih keras, kok malah nyerah gini? gimana mau berhasil studinya?”

Memang enak kalo bisa memilih, tapi tentu saja ini hanya berandai-andai, sebab sebagai pengajar saya tidak boleh pandang bulu dan hanya memilih orang-orang tertentu sebagai murid saya.  Menuntut ilmu adalah hak semua orang, kecuali mungkin bagi mereka yang memang GAK NIAT untuk menuntut ilmu, spesies yang belakangan ini makin tinggi saja populasinya, menyedihkan…

 

-ditulis di ruang dosen pada suatu sore yang cerah, di sela2 kegiatan mengoreksi tugas mahasiswa yang SEBAGIAN diantaranya tampak dikerjakan dengan sepersekian hati (setengah hati aja gak nyampe, duh mirisnya…)-

Iklan

6 pemikiran pada “Ravenpuff atau Huffleclaw ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s