Bojong Soang – Dago Pakar – Warung Bandrek

Hari minggu kemarin, saya, Gaous, Rini dan Mba Ike sepedahan lagi. Kali ini rutenya adalah Bojong Soang – Dago Pakar – Warung Bandrek pulang pergi. Jarak dari rumah/kosan kami di Bojong Soang ke Warung Bandrek di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung adalah sekitar 18 km, jadi total perjalanan kami hari itu adalah 36 km, wow! Hahaha… cukup menguras tenaga, tapi benar2 seru dan menyenangkan! You should try it guys, really really should 🙂

Kami berangkat dari Bojong Soang tepat jam 06.00 pagi, bersepeda melewati Pasar Kordon, terus menuju Buah Batu. Di Buah Batu kami bertemu dengan sekelompok anak (atau remaja kali ya? mereka baru kelas 1 SMP sih…) yang juga hendak bersepeda menuju Warung Bandrek.

Bagus, Dinar, Fahmi dkk (saya belum hapal semua namanya, he3) adalah kelompok yang hebat. Mereka ternyata sudah sering bersepeda melewati trek-trek yang jaraknya jauh dan medannya menantang, termasuk ke Warung Bandrek. Saya sangat salut dengan mereka, jauh beda dengan saya yang rekor terbaiknya hanya bolak balik rumah – ex kantor saya dulu dengan rute Bojong Soang – Japati, itupun di jalan aspal. Hahahaha… 😀

Dari sisi perlengkapan pun mereka jauh lebih prepared daripada saya yang hari itu hanya mengenakan kaos dan sendal jepit 😛 Sabariah juga tampaknya sedikit minder melihat sepeda-sepeda yang mereka bawa, sepertinya lebih mahal harganya dibanding Sabariah, he3. Eniwey, walopun perlengkapan dan sepeda saya tidak selengkap dan sekeren milik Bagus dkk, saya tetap bersemangat. Ngomong-ngomong soal semangat, lihat Tante Rini yang tidak bisa menyembunyikan semangatnya begitu ketemu brondong, hihihihi…

Kami berempat bergabung dengan rombongan Bagus dkk melanjutkan perjalan ke Dago, menikmati suasana Dago Car Free Day. Lihat, jalan Dago yang biasanya penuh dengan mobil dan motor hari itu dipenuhi sepeda, pejalan kaki sampe kumpulan ibu-ibu yang tampaknya semangat 45 ber-aerobic ria diiringi lagunya Sule 😀

Tentu saja tidak ketinggalan ibu-ibu yang narsis dan foto-foto di tengah jalan (mungkin mereka berpikir kapan lagi bisa foto2 di tengah jalan gini, iya kan? hehehe…)

Setelah puas menikmati suasana di Dago Car Free Day, kami melanjutkan perjalanan melewati Simpang Dago terus ke arah Dago Pakar. Kami pun mampir untuk istirahat minum di Alfamart Dago Pakar. Setelah cukup berisitirahat, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya kami sampai di Taman Hutan Raya Dago Pakar. Udaranya sejuk, pemandangannya pun menyegarkan mata.

Dari sana kami melanjutkan perjalanan menuju warung bandrek. Jalan menuju warung bandrek memang dipenuhi tanjakan yang menantang. Beberapa orang pesepeda harus berhenti tiap beberapa saat atau turun dari sadelnya dan mendorong sepedanya agar bisa melewati tanjakan, tapi saya tetap bersemangat menaklukkan tanjakan demi tanjakan dari atas sadel Sabariah (malu dong sama Bagus dkk, mereka aja bisa, he3)

Menjelang sampai ke warung bandrek, di sebuah tanjakan saya sempat harus turun dari sadel dan mendorong sepeda saya beberapa meter. Sebenarnya saya sudah diperingatkan oleh Gaous bahwa tanjakan terberat adalah salah satu dari dua tanjakan terakhir menuju warung bandrek. Baru pertama kali ini saya menemukan tanjakan yang percaya atau tidak, sampai membuat ban depan Sabariah sedikit terangkat dari tanah tiap kali saya berusaha melahap tanjakan itu. Salut untuk Gaous yang memang sudah sangat profesional, di tanjakan ini pun tidak perlu turun dari sadel sepedanya.  Inilah tanjakan yang paling berat itu:

Akhirnya sampai juga di warung bandrek sekitar pukul 09.00. Berhubung saya dan Gaous nyampe duluan, kami berbincang-bincang dengan Bagus dkk sambil menunggu Rini dan Mba Ike. Belakangan saya baru tau dari Gaous, Bagus dkk bahwa selain tenaga dan stamina, perlu teknik khusus untuk menaklukkan tanjakan yang satu ini. Tipsnya adalah tidak menggunakan gigi yang paling rendah, menanjak secara zig zag dan mencondongkan badan ke depan saat menanjak. Tampaknya tips terakhir ini berguna untuk mengatasi masalah saya (ban depan yang terangkat saat berusaha menanjak).

Tak lama kemudian Rini dan Mba Ike pun berhasil menyusul kami. Kami menikmati bandrek ditemani beberapa potong goreng pisang dan tahu sambil menikmati pemandangan dan suasana di warung bandrek. Di sana sudah sangat ramai dengan para pesepeda dari berbagai usia, dari muda sampai tua, pria dan wanita, pemula maupun berpengalaman. Hmmm… bandrek terasa sangat nikmaaaaat sekali (mungkin karena perjuangan untuk mendapatkannya, hahaha)

Puas menikmati suasana di warung bandrek, sekitar jam 10.30 kami pun pulang meninggalkan warung bandrek melalui rute yang kami gunakan saat berangkat. Pada saat perjalanan pulang baru saya sadari bahwa ternyata perjalanan pulang cukup menegangkan. Jalanan yang menurun cukup curam dan tidak mulus bisa menyebabkan beberapa pesepeda terjatuh jika kurang hati-hati.

Saya pun baru mengerti kenapa Gaous meminta tukar sepeda dengan saya saat perjalanan pulang. Ternyata di antara sepeda kami semua, Sabariah adalah satu-satunya sepeda yang tidak memiliki suspensi dan disc brake (masih menggunakan v-brake konvensional), otomatis resikonya lebih besar mengalami kecelakaan di jalan yang tidak rata dan menurun curam itu. Untuk Gaous yang sudah berpengalaman, menggunakan Sabariah saat perjalanan turun mungkin mudah, tapi bisa lain ceritanya untuk saya yang masih pemula, he3 Thx Gaous 🙂

Alhamdulillah kami semua berhasil melewati turunan yang cukup curam itu dengan selamat. Perjalanan pulang dari warung bandrek ke Bojong Soang memakan waktu satu jam lebih, dan akhirnya saya sampai di rumah sekitar jam 11.45. Capek tapi seru! can’t wait for the next cycling trip 🙂

Iklan

14 pemikiran pada “Bojong Soang – Dago Pakar – Warung Bandrek

  1. menu di warban yang kita santap kurang tu, masih ada tempe 😀

    *untung gak diceritain betapa pucat-pasi nya aku ketika sampai di warban 😀
    tar ku tulis menurut versiku deh.. 😉

    1. oiya aku lupa sama si tempe, he3…

      tenang mba, sesuai request dari mba Ike, foto2 mba yg pucat pasi itu juga disensor dari posting ini, siapin aja uang tutup mulutnya ya mba, wkwkwk… 😛

  2. Nampak seru sekali yu… Menambah rasa kangenku yg sudah menumpuk makin menumpuk sm BANDUNG T_____T
    dago pakar….taman hutan raya…. Aaahhh
    waktu itu aku n sandy lewat sana sampai ke cimahi…iseng…

  3. weiiiis mantap sekali route nya ….buat saya sepertinya belom mampu deh ….lihat jarak yang di tempuh and tanjakan nya…..bisa bisa putus asa ditengah jalan…..mo terus ditinggalin…mo pulang jauh…hiks

    1. hehehe.. kalo sudah dicoba sendiri seru lho, kalo sendirian mungkin saya juga gak kuat tapi karena ramai2 bersama teman2 jadi seru dan mkin semangat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s