PeaceMan & FairMan

Walaupun secara umum ada garis batas yang disepakati antara baik dan tidak baik, namun ternyata itu tidak berlaku secara universal dan tidak ada batas yang jelas seperti betapa berbedanya hitam dan putih. Semua penilaian tentang baik dan tidak baik itu kembali lagi ke prinsip dan nilai mana yang paling kita prioritaskan dalam hidup kita, tidak ada batas yang jelas karena masing-masing pribadi punya prioritas masing-masing. Apa yang menurut segolongan orang adalah yang terbaik, mungkin bukan yang terbaik bagi orang lain.

Walaupun mereka memegang nilai-nilai moral yang ‘tidak salah’, namun nilai yang menjadi prioritas utama mereka adalah nilai yang akan menentukan apakah sesuatu itu adalah yang terbaik atau bukan menurut mereka.

Contohnya, orang-orang yang memprioritaskan perdamaian (PeaceMan) dan orang-orang yang memprioritaskan keadilan dan kebenaran (FairMan). Tidak ada yang salah dengan memprioritaskan kebenaran dan keadilan ataupun perdamaian. Namun jika mereka dihadapkan pada sebuah situasi yang sama, reaksi mereka akan berbeda karena apa yang menurut PeaceMan adalah yang terbaik, belum tentu dianggap sebagai yang terbaik pula oleh FairMan.

FairMan berpendapat jangan pernah ragu jika memang berada di pihak yang benar, segala bentuk kezaliman layak untuk dibalas dengan yang setimpal, agar di kemudian hari tak ada lagi yang dizalimi (biar kapok gitu si Zalim-ers nya). Bagi FairMan, pola pikir PeaceMan terkesan aneh, kadang FairMan merasa heran atau mungkin menganggap PeaceMan ‘agak bodoh’ (kok bisa sih bersikap anteng gitu setelah dizalimi, palagi kalo nonton Pintu Hidayah, kesel deh sama tokoh protagonisnya yang serba ‘nrimo’. Kalo abis ditonjok satu dua kali trus dimaafkan tapi masih ditonjok lagi ya udah bales aja tonjok lagi, ngapain masih pake acara nangis, mengelus dada n bersabar, bener-bener ‘menggemaskan’… begitu pikir FairMan)

Di sisi lain, PeaceMan berpendapat selalu ada kesempatan kedua, ke-tiga, ke-empat dan seterusnya bagi para Zalim-ers (jumlah kesempatan yang diberikan tergantung seberapa persen kadar PeaceMan-nya). Bagi PeaceMan, pola pikir FairMan kadang terkesan ‘agak sadis ‘ (tega amat sih, walaupun dia maling, sudah jelas-jelas ketangkap basah berkali-kali nyolong, tapi kalo dia dah ngaku dia salah plus pake teriak-teriak minta ampun, ngapain harus digebukin orang sekampung? mungkin kalo dia dimaafkan dia akan tobat n berhenti jadi maling, mungkin dia nyolong karena kepaksa… begitu pikir PeaceMan)

Despite of termasuk jenis manakah kita ini (pure PeaceMan, pure FairMan ato Versatile), gak ada satupun yang berhak men-judge ‘ini benar dan itu salah’. Kesalahan utama yang sering tidak disadari oleh PeaceMan dan FairMan adalah mereka kurang mampu menghargai dan men-tolerir pola pikir pihak lain. Chauvinisme mereka yang terlalu berlebihan akan nilai yang mereka prioritaskan sering kali membuat mereka merasa ‘gue bener’ dan selalu berusaha menyeret orang lain atau ‘setengah memaksa’ mereka untuk ‘setuju’ atau mengikuti pola pikir mereka.

To PeaceMan : Gimana lo mo bikin kedamaian di muka bumi kalo lo sendiri gak toleran ama pola pikir orang lain? Toleransi adalah salah satu pilar perdamaian. Apa lo gak perhatiin para diplomat yang jauh lebih berpengalaman n lebih pinter dari lo? mereka aja gak bisa mengelakkan peperangan di dunia ini kan? padahal tujuan mereka baik, menginginkan perdamaian. There’s always have to be balance in this world, when there’s peace, there’s war… and you’re just simply too weak to change the fact! Jangan mimpi yang muluk-muluk deh, but don’t be another man, this is your gift!

To FairMan : Same thing goes for you, cobalah berpikir lebih optimis, making peace doens’t make you weak. Together with PeaceMan, both of you work together as a great team to mantain balance. And what makes a good team? Yups! it’s when you trust and heard what your partner said. Cobalah dengar pendapatnya, mau diikuti atau tidak itu terserah, sekedar referensi saja. And if you think that your partner’s dream is way too far from reality, then don’t hasitate to ‘slap his ass for his own sake’!

Gimana menurut kalian? are you a PeaceMan or a FairMan? or probably you’re a Versatile? Some comment please….

7 thoughts on “PeaceMan & FairMan

  1. Klo gw sieh gak bisa bilang klo gw versatile juga heheh.. tapi lebih sreg aja klo ke dua nya di combine gitu.. meskipun gw lebih mendahulukan being fair dibanding harus damai.. soalnya damai bisa di dapet klo kita bersikap adil..ya gak sieh? *sok bijak banget gue*

  2. hahahahaha…jeritan hatee ya mas😀

    baik dan ga baik emang ga akan pernah memiliki batas yg jelas, lain halnya dgn benar/ga benar ato hitam/putih..karena baik/ga baik bukan merupakan konstanta melainkan variabel, dan sebagaimana halnya sebuah variabel, nilainya akan sangat ditentukan oleh user, apalagi kl variabelnya runtime..

    seperti yg pernah km bilang sendiri, kondisi ideal GA akan pernah tercapai didunia, karena sudut pandang kata ideal itu sendiri tidak sama untuk masing2 individu..jgnkan org lain, anggota keluarga aja yg notabene berasal dr darah yg serupa (tp tak sama) masih sangat mungkin untuk ‘berkelahi‘ ttg suatu kondisi….ideal/ga ideal, baik/ga baik, dll….

    selanjutnya, ada pula istilah efektif/ga efektif…biasanya kata ini digunain sbg ‘senjata‘ untuk melawan kebaik/gak baikan, dan kedua pasangan kata ini, ber’pacaran‘ ma opposite dr keduanya…baik-ga efektif & ga baik-efektif…krn ‘biasanya’, bagi FairMan, kl sesuatu udah dilakukan dengan berbagai ke”baik“an (apalagi kl udah pake cara repeat-until), ‘terkadang‘ hasilnya “ga efektif“, maka dilakukanlah ke”ga baik“an yg ‘biasanya’ memberikan hasil yg “efektif“….dan berlaku sebaliknya…

    dan itulah yg ‘biasanya’ yg menjadi ‘masalah‘ bagi FairMan dan PeaceMan…karena, mereka shows up from a different pole…

    me ??? i’m a Fairman who always want to be PeaceMan😀..but, i just can’t😦

  3. Chie: bukannya bagus tuh kalo bisa kombinasiin kedua-duanya, jadi bisa balance. Tapi kalo melihat statement ‘gw lebih mendahulukan being fair dibanding harus damai’, kayaknya dirimu termasuk FairMan walaupun gak terlalu strict banget.
    Kalo soal ‘damai bisa dapet kalo kita bersikap adil’ gak berani komen deh, takut ada yg nabok, he3…

    Noyz: Versatile tuh namanya Neng, berubah-ubah kan?🙂

    Rheef: Wadoh, repot juga ngobrol ma programmer, he3.. Tapi stuju deh, baik dan gak baik kan bukan nilai diskrit, float gitu kali ya…
    Btw, baik jadi PeaceMan maupun jadi FairMan, dua2nya adalah gift, jadi gak perlu iri sama pihak lain, soalnya mereka saling melengkapi, n sapa tau, kalo mereka bekerja sama, akan ditemukan solusi yg ‘efektif’ dan ‘baik’ tanpa perlu ‘case of’ dan ‘repeat until’ -makin ramud (ora mudheng) aja yg baca nih, he3-

  4. wahh.. yu, glh mah pake perasaan aja deh, itu masukny kmana?
    dnilai baik burukny pake perasaan n pemikiran sndr dl, br dputusin,,

    bukanny naluri hati kita sbnrny bs merasakan beda baik n buruk sesuatu?😀
    *sok ngerti bgt gw*

  5. Menurutku PeaceMan dan FairMan memiliki tujuan yang sama, kondisi ideal.
    Tentu saja istilah ‘ideal’ disini juga akan berarti berbeda-beda untuk setiap individu.
    Yang berbeda adalah dalam hal pengambilan tindakan, istilah kerennya ‘take action’.
    PeaceMan lebih ke arah pencegahan, gimana caranya orang ga sampe nabok, nimpuk, nusuk, dll.
    Sementara FairMan lebih ke arah pengobatan karena sudah melibatkan aksi disini, orang udah terlanjur nabok ya tabok balik, udah terlanjur nimpuk ya timpuk balik, udah terlanjur nusuk (kalo ga keburu mati) ya tusuk balik.

  6. goen: he3, mas gun ini, serius gak ya komennya? tapi setuju juga deh, emang gitu kenyataannya kali, tapi mencegah selalu lebih bagus dari mengobati kan? he3….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s