Langsung Tulis atau Tunda Dulu?

Menurut saya menulis itu gak gampang. Kadang ide mengalir deras di kepala, kata-kata sepertinya bisa dengan mudah disusun dan menghasilkan kalimat yang runut dan jelas. Kadang lho ya, lebih sering nya sih otak terasa butek, menyusun kata-kata jadi sulit. Kalopun dipaksakan jadinya malah ngatjo, gak runut atau gak enak dibaca.

Masalahnya, mood dan ide nulis ini kadang hadir di saat yang kurang tepat, misalnya sedang sibuk mengerjakan hal lain yang tidak bisa ditunda atau sedang di perjalanan jadi gak mungkin bisa dituliskan dengan segera. Suatu waktu pernah saya punya ide menulis pada saat saya sedang mengendarai sepeda motor, tapi pas sampe di rumah sepertinya ide itu sudah menguap entah ke mana :lol:

Repot juga ya? kalo langsung ditulis, situasi tidak memungkinkan, tapi kalo gak langsung ditulis, ide itu bisa hilang dan belum tentu bisa balik lagi :D

Kesimpulan sementaranya sih, kalo ada ide, sebaiknya langsung dituangkan dalam bentuk tulisan sebelum idenya keburu menguap tak bersisa. Tapi hal ini gak selalu benar juga lho. Lanjut membaca

Curhat Seorang Kontraktor Pembangunan Candi

Mungkin banyak di antara kita yang sudah pernah mendengar kisah Roro Jonggrang yang minta dibuatkan 1000 candi dalam semalam sebagai syarat agar Bandung Bondowoso boleh menikahinya. Saat itu dengan kesaktiannya Bandung Bondowoso mengerahkan pasukan jin, dedemit dan lelembut untuk membangun 1000 candi demi memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Dalam hal ini, Bandung Bondowoso bisa diibaratkan sebagai kontraktor pembangunan candi, sedangkan Roro Jonggrang adalah kliennya.

Kisah Roro Jonggrang juga bisa saja terjadi di dunia modern sekarang ini, tentunya yang dipesan bukan candi yang terbuat dari batu, tapi dalam bentuk lain (mungkin dalam bentuk digital? he3). Berikut ini adalah dialog fiktif dalam hati seorang kontraktor pembangunan candi  modern yg masih abal-abal alias amatiran (konflik batin nih ceritanya…)

Curhat: Hwaaaaa… gw kebanjiran order bikin candi! stress! mana deadline nya berjamaah pula… T.T

Komentar: Besok2 kalo lo sepi order jangan ngemis2 minta order ya…

Curhat: Gara2 sibuk ngelayanin orderan bikin candi dari klien, rumah gw sendiri terbengkalai pembangunannya… T.T

Komentar: Yeee, itu mah lo nya aja yang bego, ga bisa  bagi waktu dan ngatur prioritas…

Lanjut membaca

Tidak Bertanggung Jawab

Do not bite more than you can chew

Ungkapan di atas kurang lebih artinya “jangan gigit (makanan) lebih besar dari yg mampu kau kunyah”. Masuk akal kan? Kalau makanan yang digigit terlalu besar sampai2 tidak bisa dikunyah maka tidak akan ada makanan yg bisa masuk ke dalam perut, atau jika dipaksakan untuk ditelan maka akan membuat kita tersedak.

Jika makanan dianalogikan dengan amanah, lantas bagaimana dengan mengambil/menerima (dengan terpaksa maupun sukarela) tugas atau tanggung jawab (yang nota bene adalah amanah) melebihi kemampuan?

Konsekuensinya:

  1. Semua amanah yang dipikulkan dapat terselesaikan tapi hasilnya tidak sebaik yang diharapkan alias asal-asalan (bad case)
  2. Beberapa amanah terselesaikan dengan baik namun ada amanah lain yang terabaikan (worse case)
  3. Saking bingungnya, semua amanah yang dipikulkan kepada kita terabaikan (worst case)

Mungkin kita semua sudah tau dan sadar tentang tiga konsekuensi di atas karena efeknya akan terasa dalam jangka waktu yang relatif pendek, namun seringkali kita lupa pada konsekuensi yang ke empat, sebuah konsekuensi jangka panjang:

Setelah kita mati, alasan apa yang kita kemukakan saat hari pertanggungjawaban semua amanah itu tiba?

Gak mungkin kan kita beralasan “Ya Allah, amanah A tidak saya kerjakan dengan sebaik-baiknya karena saya juga dibebani dengan amanah B, C, D… dst” ?

Bagaimana kalo kita ditanya balik “Kalau kamu sudah tau bahwa amanah A itu sudah melebihi ambang batas kemampuanmu, lantas kenapa kamu masih terima?”

Mau jawab apa kita?

Akhir kata; teori memang mudah, implementasinya yang susah, tapi jangan lupa; kalau kita tau ilmunya dan masih tetap tidak mengamalkan, bukankah itu juga dosa? Bukankah itu juga dimintai pertanggungjawabannya? Duh… T.T

Pengalaman vs Dosen

Saya teringat sebuah ungkapan

Pengalaman pahit adalah guru terbaik karena pengalaman pahit memberikan ujian terlebih dahulu, baru kemudian memberikan pemahaman tentang ujian tersebut

Jika saya mencoba menganalogikan pengalaman dengan dosen maka:

Dosen terbaik adalah dosen yang memberikan kuis terlebih dahulu, baru kemudian menjelaskan teorinya.

He3… :D Bagaimana? Setuju kah anda?

-mulai mikir kelas mana yg mau jadi korban pop quiz saya berikutnya-

 

sumber gambar: http://picture-book.com/content/best-teacher

Eye vs Ear


Jangan berhenti tersenyum

hanya karena tak ada yang mengatakan bahwa senyumanmu indah,

Tapi segeralah berhenti bernyanyi

begitu ada yang mengatakan bahwa suaramu sumbang,

Karena tidak semua orang melihat senyumanmu

Tapi mereka semua mendengar nyanyianmu

PeaceMan & FairMan

Walaupun secara umum ada garis batas yang disepakati antara baik dan tidak baik, namun ternyata itu tidak berlaku secara universal dan tidak ada batas yang jelas seperti betapa berbedanya hitam dan putih. Semua penilaian tentang baik dan tidak baik itu kembali lagi ke prinsip dan nilai mana yang paling kita prioritaskan dalam hidup kita, tidak ada batas yang jelas karena masing-masing pribadi punya prioritas masing-masing. Apa yang menurut segolongan orang adalah yang terbaik, mungkin bukan yang terbaik bagi orang lain.

Lanjut membaca