Teppasemmu Tekkareba

Pengalaman pribadi saya di kampus dua hari yang lalu:

Dosen (D): “Oh kamu yang mau komplain nilai. Mana transkripnya?”

Mahasiswa (M): “Gak bawa pak, bapak bawa laptop kan? Kan bisa dilihat di laptop bapak…”

D: “Tadi kamu janjian sama saya jam berapa ya?”

M: “Jam satu pak, hehehe…” -mulai senyum2-

D: “Sekarang jam berapa?”

M: “Err… jam setengah tiga pak…” -cengengesan-

D: “Ya sudah, kamu tunggu satu setengah jam lagi ya, saya ambil laptop dulu…”

M: -mulai merajuk-

D: “Lho, tadi kan saya udah nunggu kamu satu setengah jam? Gantian dong. Ditunggu aja ya…” -nyelonong pergi sambil maksain senyum padahal udah emosi stadium lanjut-

Well, dosen itu adalah saya sendiri dan mahasiswa nya adalah salah satu mahasiwa saya.

Bukan pertama kalinya saya ketemu mahasiswa yang punya keperluan tapi gak mempersiapkan diri. Bukan pertama kalinya juga saya menunggu lama-lama mahasiswa yang sudah janjian dengan saya. Tapi baru kali ini saya ketemu mahasiswa yang:

  1. Punya keperluan tapi tidak mempersiapkan diri
  2. Membuat saya menunggu sangat lama
  3. GAK ADA KABAR, GAK ADA BERITA klo dia bakalan telat

Poin terakhir nya itu yang bikin saya naik pitam.

Saya bukan orang yang 100% punctual, tapi saya belum pernah bikin janji lalu membiarkan orang lain nunggu saya sampe satu setengah jam tanpa ada kabar berita. Apa susahnya kirim SMS “pak maaf saya agak telat bla bla bla…”?
Kerjaan saya bukan cuma nungguin kamu nak…

Note: Dalam bahasa bugis, teppasemmu tekkareba berarti “tanpa kabar, tanpa berita”

Apa? Coba Ulangi Sekali Lagi…

 

SuperStock_1525R-112253

Sekedar ingin berbagi cerita kejadian yang saya alami hari ini,

Hari ini saya ada jadwal mewawancarai calon asisten lab mulai bada maghrib sampe jam 8 malam. Kebetulan jadwal ngajar dan nguji sidang PA saya hari ini sudah selesai jam 5 sore jadi saya putuskan untuk pulang mandi dan ganti baju dulu. Tepat setelah maghrib saya kembali ke kampus dengan bersepeda seperti biasanya. Saya mengenakan celana jins dan kaos. Tak perlu tampil formal, toh sudah di luar office hour, begitu pikir saya.

Nah, pada saat akan memasuki daerah kampus, sepeda saya hampir saja menabrak mahasiswi yang tiba-tiba menyebrang. Sepertinya kami sama-sama tidak melihat satu sama lain karena memang cukup gelap (lampu jalan belum menyala waktu itu).  Kami sama-sama refleks, bedanya saya refleks menarik rem kanan kiri si Sabariah, sedangkan mahasiswi itu refleks teriak

BEGOOOO!!!

Alhamdulillah, saya tidak jadi menabrak mahasiswi tersebut. Untung juga saya dalam keadaan terburu-buru dan males ribut, soalnya saya sudah telat 15 menit dari jadwal wawancara. Saya gak tega membiarkan 9 orang calon asisten lab yang harus saya wawancarai menunggu lama2 (kebetulan saya juga paling sebel sama mahasiswa yang ngaret kalo bikin janji sama dosen, hihihi…)

Coba tadi saya tidak dalam keadaan terburu-buru. Mungkin saya akan mampir sebentar sekedar untuk bertanya,

Apa? Coba ulangi sekali lagi…

sekalian melihat bagaimana reaksi mahasiswi tersebut setelah tau bahwa yang dia teriaki ‘bego’ itu adalah dosennya sendiri :lol:

Eniwey, hikmah yang saya dapet adalah: “SAYA MASIH TAMPAK MUDA SEPERTI MAHASISWA! YES! HAHAHA….“–ketawa puas-

 

sumber gambar dari sini

Mengelus Dada [Lagi] Gara2 Mahasiswa

kejadiannya baru beberapa menit yang lalu,
saya menerima email dari salah satu mahasiswa saya dan kemudian langsung saya balas,
kurang lebih seperti ini:


sekali lagi saya dibuat heran dengan betapa sangat-sangat buruknya
cara sebagian mahasiswa dalam berkomunikasi dengan dosennya :cry:

-kembali mengelus dada dan menarik napas panjang-
Sabar yu.. sabar… :D

Malu Sama Baju

Suatu pagi dalam perjalanan saya menuju kampus, saya berpapasan dengan seorang gadis.

Dia masih muda,
cukup cantik,
mengendarai sebuah mobil sedan,
sambil mengepulkan asap rokok

“ah sudah bukan pemandangan baru” batin saya

wait… tapi kok pake baju seragam sih?

Prihatin. Saya gak ambil pusing kalo dia merokok, sudah banyak dan tidak mengherankan lagi melihat perempuan merokok. Merokok itu pilihan. Walaupun saya tidak merokok, saya cukup bisa menghargai kebebasan orang lain (termasuk kaum hawa) dalam menentukan pilihan apakah akan merokok atau tidak. Smoking doesn’t make them bad people, toh mereka sudah tahu baik buruknya dan punya pertimbangan masing-masing. Saya tidak ambil pusing, tentu saja dengan catatan asap rokok itu gak ditiupkan ke muka saya :lol:

Saya hanya menyayangkan kenapa dia merokok saat berseragam

If only she weren’t wearing her school uniform,
maybe I’ll look at her in awe,
thinking of her as an independent, respectable young lady
rather than just an over-privileged student

Ya.. ya.. ya… memang benar,
I shouldn’t judge a book by its cover
,

Pardon me for being such a narrow-minded person :)

sumber gambar: http://www.superstock.com

Etika Menghubungi Dosen via SMS

Berhubung saya sudah cukup sering dibuat jengkel dengan sms-sms dari mahasiswa dan sering mendengar keluhan yang serupa dari beberapa rekan dosen lain, maka seminggu belakangan ini saya mengedarkan kuesioner ke rekan-rekan dosen untuk mengetahui “bagaimana sih menghubungi dosen via sms tanpa membuat dosen kesal?:lol: dan kalo judulnya kurang menarik bagi mahasiswa mungkin bisa ditambahkan kata-kata “… sehingga keperluan mahasiswa dilayani dengan baik oleh dosen“, nah lo! he3…

Saya mengedarkan 50 lembar kuesioner kepada responden yang terdiri dari rekan-rekan dosen di tempat saya mengajar. Dari 50 kuesioner akhirnya ada 43 lembar yang dikembalikan dan diisi dengan benar (semua pertanyaan dijawab walaupun data pribadi yang memang sifatnya opsional tidak diisi dengan lengkap).

Demografi responden:

  1. Jenis kelamin: 58% pria, 40% wanita, 2% tidak menjawab
  2. Usia: 63%  di bawah 30 tahun, 28% 30 tahun ke atas, 9% tidak menjawab
  3. Pengalaman mengajar: 72% 0-5 tahun, 14% 6-10 tahun, 7% di atas 10 tahun, sisanya tidak menjawab
  4. Alumni: 30% lulusan PTN, 32.5% lulusan PTS , 28% lulusan PTN dan PTS, sisanya tidak menjawab

Oke, ini dia hasil survey saya: Lanjut membaca

Ganti Strategi

Minggu ini perkuliahan semester genap 2010/2011 dimulai. Kesempatan untuk memulai lagi semuanya dari awal, tapi kalo gak punya strategi baru, tentu saja hasilnya gak akan beda dengan yang sudah-sudah.

The successful man will profit from his mistakes and try again in a different way.

-Dale Carnegie-

Strategi baru untuk semester baru ini sepertinya tidak layak kalo kita tuntut hanya datang dari mahasiswa. Kalo cara mendidik kita masih gitu-gitu aja ya mungkin hasilnya akan gitu-gitu juga. Oleh karena itu saya berusaha membuat daftar hal-hal yang saya rasa kurang dari proses perkuliahan semester lalu, dan saya coba buat strategi baru untuk mengatasinya: Lanjut membaca

Dosen Pelit Nilai

“Hati-hati kalo dapat dosen Pak WHY, nilainya pelit banget…” Mungkin gak sedikit mahasiswa yang berkomentar seperti itu :lol:

Saya gak akan heran. Semester ganjil yang lalu saya mengajar 3 kelas kuliah Database Management System (DBMS) dengan hasil yang sungguh sangat ‘ajaib’ sekali. Berikut ini adalah grafik sebaran nilai DBMS dari 3 kelas yang saya ajar:

Grafik Sebaran Nilai Kelas X

Grafik Sebaran Nilai Kelas Y

Grafik Sebaran Nilai Kelas Z

Perhatikan baik-baik. Grafik kelas X condong ke kanan sedangkan grafik kelas Y dan Z condong ke kiri. Artinya kebanyakan mahasiswa di kelas X mendapat nilai D atau E :cry: , padahal kebanyakan mahasiswa di kelas Y dan Z mendapat nilai A atau B. Kok bisa?

Lanjut membaca

“Pendalaman” [Tuk Ke-Sekian Kali]

Beberapa hari yang lalu ada satu sms dari mahasiswa yang cukup sukses membuat saya prihatin:

pk wahyu sy tdk lulus dbms lg pak…tlg sy pak.msak sya ngulang smpe 3x. [*nama mahasiswa disensor]..

dan sms itu saya balas kurang lebih begini:

Mohon maaf, nilai sudah fix. Mungkin kamu sudah mengambil kuliah ini tiga kali tapi selalu menjalaninya dengan cara yang sama, coba ubah cara kamu menjalaninya. Semoga lain kali lebih sukses, tetap semangat ya :)

“Mengulang kuliah”, sebagai mantan mahasiswa yang pernah mengulang kuliah, sebetulnya saya kurang suka menggunakan istilah itu. Saya lebih suka menyebutnya “pendalaman”. Ya, “pendalaman”. Istilah “mengulang” terkesan seperti mengandung konotasi “gagal” sedangkan “pendalaman” konotasinya lebih positif. Memang positif. Logikanya sederhana saja: kebanyakan mahasiswa belajar mata kuliah itu selama satu semester, sedangkan beberapa mahasiswa (yang beruntung) dipaksa untuk mempelajarinya di dua semester. Wajar dong, kalo mahasiswa-mahasiswa yang beruntung ini nantinya akan jadi lebih ahli ketimbang teman-temannya yang hanya memperlajari kuliah itu dalam satu semester saja, iya kan?

Tapi tunggu dulu, kalo mengambil kuliah yang sama di 2 semester saya masih menyebutnya “pendalaman”, tapi kalau sampai 3 semester mungkin sudah keterlaluan, dan yang lebih keterlaluan lagi kalo ternyata setelah 3 semester masih belum lulus juga. Ini jadi menimbulkan pertanyaan di pikiran saya, kalo ada mahasiswa yang terus-menerus “mendalami” mata kuliah yang sama, salah siapa?

Lanjut membaca

Daftar Pustaka Hanya Sebatas Formalitas

Semester lalu saya banyak menguji sidang Proyek Akhir (tepatnya sebanyak 38 kali), sampe2 salah satu teman saya menjuluki saya “juragan penguji” :lol: . Selama bertindak sebagai penguji saya menemukan banyak sekali kekeliruan yang dilakukan oleh mahasiswa  terkait dengan penulisan laporan Proyek Akhir, khususnya yang terkait dengan daftar pustaka. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Daftar pustaka dibuat hanya sebagai pajangan/formalitas, tidak pernah digunakan dalam laporan. Seharusnya tiap  kalimat atau fakta yang dikutip dari tulisan/karya orang lain wajib dikaitkan dengan entri yang sesuai di daftar pustaka. Demikian pula sebaliknya, jangan sampai ada entri di daftar pustaka yang tidak pernah diacu (hal ini cukup sering terjadi, mengingat mahasiswa cenderung “memajang” entri di daftar pustaka dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya. Mungkin maksudnya supaya terlihat keren, padahal setiap entri itu harus bisa dipertanggungjawabkan dan diacu oleh laporan Proyek Akhir yang mereka buat)
  2. Penulisan daftar pustaka tidak mengikuti standar yang baku, bahkan tidak jarang ditulis dengan standar S3 (suka-suka saya). Padahal ada beberapa standar penulisan daftar pustaka yang cukup populer dan banyak digunakan dalam penulisan karya ilmiah internasional, misalnya standar IEEE, Chicago, APA dan sebagainya. Pemilihan standar yang akan digunakan disesuaikan dengan kesepakatan dan kebutuhan, yang jelas bukan dengan cara mencampur adukkan standar-standar yang ada, apalagi dengan membuat standar baru.

Lanjut membaca